Surat Cinta untuk Gai Laa

Surat Cinta Untuk Gai Laa

Penulis : Yasa Putri
SEBUAH kisah berawal dari enam tahun silam, aku mencoba untuk memahami sebuah makna dan hikmah dibalik sebuah cerita.

Bacaan Lainnya

Waktu itu, terjadi pada malam hari yang sunyi, jam menunjukkan pukul 01.00 malam, aku dapati Gei Laa, tak bisa bergerak dan berdiri hingga gelap gulita yang terasa.

Gei Laa hanya duduk diam di sebuah tepian tempat tidur dan terlihat sepasang tangan kiri dan tangan kanan mencengkram kuat, tanpa bisa dilepas dengan mulut miring kekanan dan lidahnya tidak bisa dikeluarkan dan tidak bisa menjulur.

Aku panik,  dan ibu pun tak kalah paniknya melihat keadaan Gei Laa, dan jam 01.00 WIB lewat aku menghidupkan kendaraan dan selama perjalanan menuju rumah Kakak, tak henti-hentinya aku memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk Gei Laa agar tidak terjadi sesuatu yang berakibat fatal, dan memastikan bahwa Gei Laa akan baik baik saja.

Aku terus melaju dengan kencang, sunyi senyap selama perjalanan menuju kerumah kakak untuk meminta bantuan, yang jarak tempuhnya 5 menit jika mengendarai motor.

Aku langsung mengetuk pintu, dan air mata tak bisa ditahankan hingga aku berkata, “Ayo kerumah, Gei Laa tak bisa apa-apa dan hanya diam sepertinya stroke”.

Kakak pun, tak bertanya dan tak berpikir panjang, dan langsung mengeluarkan motor, menuju rumah setelah sampai rumah terlihat sebuah kepanikan yang sangat jelas dirasakan oleh ibu.

Kami mencoba mengangkat Gei Laa secara bersama-sama karena postur tubuh Gei Laa cukup besar dan dan dibantu oleh tiga orang menuju tempat tidur yang berada di luar kamar tidur, karena pada saat itu masih ada satu tempat tidur yang masih tidak terpakai, hanya digunakan ketika ada tamu keluarga saja.

Kejadian ini membuat semua saudara yang jauh berkumpul.

Setelah sampai ketempat tidur yang berada diruang tengah.

Keesokan paginya Beliau dibawa disebuah Desa namanya Desa Beruas dengan menggunakan mobil adiknya, Gei Laa atau biasa kita sebut dengan Paman untuk melakukan pengobatan berupa urut, namun tidak membuahkan hasil.

Hingga keesokan harinya kami berikhtiar membawa Gei Laa menuju rumah sakit Provini Kepulauan Bangka Belitung.

Pada pukul 10.00 WIB hampir 25 menit perjalanan, tibalah kami dirumah sakit Provinsi.

Di sebuah gedung putih, bertingkat, aku melihat orang-orang berlalu lalang, barangkali mengantarkan saudaranya kerumah sakit.

Kami turun, dari mobil hitam menuju sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan kami duduk diruang tunggu, dan pasien Gei Laa.

Perawat UGD, dokter yang jaga pada hari itu sudah ada disebuah ruangan yang kami tuju.

Mereka langsung mengambil tindakan, sementara kami menunggu diluar ruangan.

Menunggu hasil rontgen, sampai akhirnya hasilnya yang ditunggu-tunggupun datang.

“Pasien atas nama Gei Laa”, Iya”, Ucapku, yang segera menuju meja resepsionis. Benar ini dengan anggota keluarganya, ujar resepsionis rumah sakit”.

Aku mulai duduk didepan resepsionis “Iya, Aku anak Bapak Gei Laa. Aku pun tak paham bagaimana cara membaca hasil rontgen dan hanya terfokus apa yang dikatakan oleh recepsionisnya.

Selama satu minggu, Gei Laa, tak betah berada dirumah sakit, Gei Laa dipasangkan alat berupa cairan  infus (intravenous fluid).

Cairan infus  yang merupakan metode pemberian cairan dan obat yang dilakukan langsung melalui pembuluh darah.

Cairan infus ini tersimpan didalam sebuah kantong  yang akan dialirkan melalui selang menuju pembuluh darah.

Gei Laa menggoyangkan dan mengepakkan besi tempat tidur yang berada di ujung kakinya dengan menggunakan tangan kirinya, dan berusaha berteriak walaupun tak terdengar suaranya, yang ia ucapkan “gei laa, gei la,” Cuma itu yang ia bisa ucapakn ketika mendapatkan serangan stroke dan hanya rintihan serta terdengar bunyi berderit  tempat rawat inap dimana ia tidur, serta ketika Gei Laa melihat cairan infus, beliau teriak, ingin mengatakan bahwa kantong cairan infus tersebut harus segera di diganti, karena beliau terlalu takut melihat darah.

Setelah Gei Laa selama dua hari berada dirumah sakit, Aku dihadapkan dengan sebuah pembiayaan administrasi.

Tidak hanya berhenti di situ, masalah  pembiayaan rumah sakit.

Pembiayaan untuk memenuhi administrasi rumah sakit, bayangkan saja Aku hanya mengandalkan beasiswa untuk biaya kuliah.

Aku mencoba memutar otak yang masih belum sinkron dengan keadaan.

Segera  bergerak, mengendarai motor menuju rumah membawa sebuah kartu berupa Kartu Tanda Penduduk Bapak, Kartu Tanda Penduduk Ibu dan Kartu Keluarga.

Dengan modal itu, Aku menuju Kantor Desa Balunijuk, dan menunjukkan sebuah fotocopy Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga, kemudian mendapat surat rekomendasi untuk pembuatan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan yang yang dikenal dengan kartu BPJS.

Informasi ini saya dapatkan dari Google, bagaimana tahapan membuat kartu BPJS berbayar.

Pembuatan kartu ini berbayar, tiap bulan.

Kemudian setelah selesai mendapat surat rekomendasi dari Kepala Desa Balunijuk, Aku diarahkan menuju Kantor Camat, setelah mendapatkan surat rekomendasi dari Kantor Camat, aku diarahkan ke Sungailiat menuju Kantor Dinas Sosial.

Sinar matahari terik, panas, hingga terasa tak sanggup melanjutkan perjalanan, namun Aku berpikir bahwa perjuangan ini sebentar lagi akan selesai.

Sesampai di Kantor Dinas Sosial, aku menyerahkan surat rekomendasi untuk pembuatan kartu BPJS berbayar dari Kades dan Camat Merawang, yang sebenarnya ini membutuhkan waktu 3 bulan agar kartu BPJS bisa aktif dan bisa digunakan.

Yang menjadi sumber masalah ketika Aku sampai di Kantor Dinas Sosial, Aku dihadapkan dengan sebuah nama, yaitu nama Gei Laa, yang tertera di KK, KTP dan di surat rekomendasi, ternyata nama yang tertera ternyata berbeda-beda.

Sehingga pengajuan pembuatan kartu BPJS ditolak, dan diminta ke Catatan Sipil (Capil), yaitu suatu lembaga yang bertujuan mengadakan pendaftaran, pencatatan serta pembukuan yang selengkap-lengkapnya dan sejelas-jelasnya serta memberikan kepastian hukum yang sebesar-besarnya atas “kelahiran, pengakuan, perkawinan dan kematian.

Selama perjalanan aku berdo’a. “Yaa Allah, Yaa Rabb, mudahkanlah dan jangan dipersulit, yang artinya sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah ayat 6).

Sesampai di Capil saya mengubah nama Gei Laa, sesuai dengan yang ada di KTP. Namun untuk KK dua minggu kedepan baru bisa diambil, sedangkan aku diwaktu itu memang sangat membutuhkan yang namanya kartu BPJS agar Gei Laa bisa keluar dari rumah sakit, tanpa biaya tambahan.

Beruntungnya saya kenal dengan Ibu yang ada di Capil yang mengurus KK, namanya ibu Retno, dan dihari itu KK selesai dibuat dan sudah bisa diberikan ke Dinas Sosial.

Setelah mendapat surat rekomendasikan dari Dinas Sosial, Aku diarahkan menuju kantor BPJS Sungailiat untuk proses pencetakan.

Dan Alhamdulillah, memang benar adanya kekuatan do’a bahwa sesudah kesulitan itu, aka ada kemudahan.

Ibu ku hanya kerja serabutan membantu Gei Laa di kebun yang merupakan pekerjaan yang memang rutin setiap hari dilakukan ketika sehat.

Diwaktu sehat Gei Laa bercocok tanam berbagai macam sayuran, mulai dari sawi, bayam, kangkung, kemangi dan lada.

Dan pada akhirnya, 300 tanaman lada terbengkalai begitu saja dan didapati pada tanaman lada tersebut daunnya menguning dan ini disebabkan oleh nematoda, pasca Gei Laa mengalami stroke dan tidak ada saudara yang menggantikan untuk merawat dan memelihara tanaman lada dikarenakan memang kondisi tempat tinggal jauh.

Kejadian ini membuat saya khawatir, “Bagaimana tidak khawatir, pertama saya dihadapkan dengan kondisi Gei Laa, yang tak  bisa apa-apa, kedua saya sedang menjalankan Penilaian Tengah Semester”.

Pada saat itu, Aku sedang duduk dibangku kuliah semester 5 di Fakultas Pertanian, disalah satu universitas, gedung putih. dengan beasiswa Bidikmisi.

Dan pada saat itu Aku sedang menjalankan PTS (Penilaian Tengah Semester).

Paginya aku balik ke rumah dan setelah perkuliahan selesai Aku langsung menuju rumah sakit, begitu seterusnya selama satu minggu.

Setelah bolak-balik rumah sakit, aku tetap menjalankan PTS yang diadakan oleh masing-masing jurusan.

Aku tak berpikir lagi menghadapi PTS yang pasti, mengalir apa adanya, karena selama seminggu Aku begadang menjaga Gei Laa dirumah sakit.

Dan do’a ku, “Yaa Allah, mudahkanlah dan lancarkanlah PTS hamba”, cukup singkat dan bermakna bagi Ku, karena berhadapan dengan situasi yang seperti ini.

Aku pun belajar bahwa ada beberapa periode pada pasien stroke.

Tiga bulan pertama setelah serangan adalah masa golden period atau periode emas, masa paling penting Ketika pasien membutuhkan stimulasi sebanyak mungkin.

Memang ada perubahan selama tiga bulan awal dengan berbagai ikhtiar dengan melakukan pengobatan tradisional menggunakan air minum dari rempah-rempah, setiap hari yang diberikan kepada Gei Laa, berharap adanya kesembuhan.

Setelah 3 bulan masih ada 6 bulan, satu tahun sampai maksimal dua tahun.

Setelah satu tahun berjalan, Gei Laa, sudah mulai mampu mengucapkan kata Gei laaa, itulah sebabnya kenapa penulis memberikan nama Gei Laa, dalam sebuah cerpen ini.

Beliau adalah Bapak yang luarbiasa yang setiap hari memberikan motivasi saya untuk menggapai cita-cita.

Sekolahmu harus tinggi, kamu harus jadi orang yang sukses, bermanfaat, jangan pernah berhenti untuk mengejar cita-cita.

Tak pelak kata-kata itu selalu Aku ingat, setiap pulang sekolah ada saja yang Gei Laa tanyakan dan ada saja yang saya jawab.

Walau hanya sekadar bermain dengan teman, mengerjakan tugas disekolah hingga, nilai yang setiap hari Gei Laa tanyakan, hingga sapaan dan ucapan guru yang sering saya sampaikan kepada beliau ketika masih dimasa sehat, karena jika menyangkut sekolah Gei Laa ambisius mendengarkan Aku bercerita.

Sebuah tanda tangan pun beliau yang mengajarkan, hingga aku sadari ketika Gei Laa mengalami kejadian ini Aku merasa kehilangan pengharapan dan cita-cita.

Hingga seminggu pertama beliau dirawat dirumah sakit, Aku khawatir setiap malam.

Aku seperti kehilangan kekuatan dan nyaris putus asa.

Ketegaran selama bertahun-tahun merawat Gei Laa terasa menguap begitu saja. Bahkan Aku sempat bertanya kepada Allah SWT.

“Yaa Allah SWT sungguh berat ujian yang Engkau berikan. Betapa aku nelangsa melihat kondisi Gei Laa yang memprihatinkan.

Namun yang membuat ku iba ialah tangan kanan dan kaki kanan mati sebelah sehingga tidak bisa digerakkan sama sekali kecuali dengan bantuan tangan kirinya.

Hingga aku bersyukur masih bisa merawat orang tua yang diamanahkan oleh Allah SWT untuk menjaga Orang tua.

Beruntunglah bagi mereka yang memiliki orang tua yang masih lengkap karena masih ada keberkahan dari kedua orang tua.

Salah satu hilangnya orang tua, hilang juga satu keberkahan bagi anak.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu wakrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bilmai was salji, wal baradi, wa naqqihi minal khathaya, kama yunaqqas saubul abyadu minad danas.

Wa abdilhu daran khairan min darihi wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min adzabil qabri, wa adzabin nari. (*/tras)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *