Oleh : Meilanto
Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Jika dari Pangkalpinang ke arah selatan, diantara Kurau dan Penyak ada kampung kecil.
Kampung tersebut secara administrasi adalah sebuah dusun yang menginduk ke Desa Penyak. Dusun tersebut bernama Mulia.
Pada umumnya masyarakat lebih mengenal pemukiman kecil ini dengan nama Pelempat yang ejaan sebenarnya adalah Pal 4.
Penyebutan Pelempat atau Pal 4 juga tepat karena jika kita hitung jarak antara Kurau ke Pelempat (Pal 4), Pelempat (Pal 4) ke Penyak berjarak 4 pal.
Artinya Mulia atau Pal 4 berada di tengah antara Kurau dan Penyak.
Jika memperhatikan peta topografi tahun 1932, Mulia sudah menjadi sebuah kampung yang berada di antara Km. 36 dan Km. 37.
Peta tesebut berjudul Moelia dengan seri peta D D 30,28. Sepanjang Km. 32 sampai ke Tanjung Berikat keadaan berpantai pasir putih atau terlihat pasir putih yang terlihat saat air laut surut (gusung).
Di peta ini belum terlihat adanya masjid. Sementara itu inlandsche graven (TPU Islam) sudah ada yang terletak diantara Km. 38 dan Km. 39 disisi kiri menuju Penyak dekat pantai.
Tidak jauh dari TPU ada duiker of doorlaat an steen (got terbuat dari batu) dan steenen waterpaspilaar (WS 378).
Jarak antara TPU dengan kampung sangat jauh sekitar 2 Km.
Jika menggunakan peta tahun 1898 yang berjudul Overzichtskaart Banka en Onderhoorigheden belum terlihat adanya kampung Mulia.
Hanya terlihat A. Poetoe (Aik Putu). Terlihat beberapa nama air dimulai dari ujung Koerauw sampai Air Poetoe yaitu Air Telagaleben, Air Telaga-pandjang, Air Gegas, dan Air Tjintjing (Air Cincing).
Selanjutnya dalam peta yang berjudul Kaart van het eiland Bangka schaal 1:500.000 (tanpa tahun).
Dalam peta ini membagi pulau Bangka dalam 10 (sepuluh) wilayah pertambangan (indeeling in mijndistricten) yaitu Muntok, Djeboes, Blinjoe, Soengei Liat, Merawang, Pangkal Pinang, Soengei Slan, Koba, Toboali dan Lepar eilland.
Batas antara wilayah tambang timah dengan yang lain ditandai dengan garis kuning tebal.
Dalam peta ini, Mulia sebagai objek penulisan ini merupakan sebuah kampung yang ditulis Moelia (Ajer Poetoes).
Kemudian dalam peta Kaart van de Residentie Banka Schaal 1:300.000 (tanpa tahun/ peta ini dibuat tahun 1892-1894).
Dalam peta tersebut ditulis Moelia of Ajer Poetoes dan telah menjadi sebuah kampung (ditandai dengan bulat hitam) yang terletak diantara Koerouw dan Penjak. Moelia of Ajer Poetoes lebih dekat ke Penjak.
Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, Mulia berada di tengah antara Penyak dan kurau. 4 Pal ke Penyak dan 4 Pal ke Kurau.
Dari beberapa peta diatas diduga, kampung Mulia pada awalnya bernama Air Putu atau Air Putus mengingat pada umumnya Tempat Pemakaman Umum tidak jauh dari kampung dan sumber air.
Bila dibandingkan dengan kampung sekarang yang jauh dari TPU (sekarang sudah ada TPU baru) dan sumber air, kemungkinan kampung awal berada tidak jauh dari TPU lama kemudian penduduk pindah karena wabah penyakit atau penyebab lainnya.
Beberapa kampung di Bangka pernah pindah lokasi karena mewabahnya penyakit (seperti beri-beri, cacar serta demam Bangka/ awer) terutama saat terjadinya Perang Bangka II tahun 1848-1851 yang dipimpin oleh Depati Amir dan Hamzah.
Kampung-kampung yang pindah ke lokasi lain seperti Katis, Lampur dan Kerantai dan lain sebagainya. (*/tras)






