Gas Melon Menghilang di Pangkalpinang, Dapur Rakyat Tercekik: Negara Absen di Tengah Krisis Energi Kecil

Editor: Bangdoi Ahada

PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM –– Pagi belum tinggi ketika Pak Wo, pelaku UMKM ini kembali pulang dengan tangan kosong.

Bacaan Lainnya

Sudah tiga hari ia berkeliling dari satu toko ke toko lain di Pangkalpinang, berharap menemukan tabung gas elpiji 3 kilogram, energi kecil yang menopang hidup keluarganya.

Namun yang ia temukan hanya etalase kosong atau harga yang melambung hingga Rp50 ribu per tabung.

“Camane kami mau berusaha, Bang, kalau gas susah macam ni,” ucapnya lirih, Kamis (29/1/2026).

Sebagai pelaku UMKM kuliner, dapur adalah jantung usahanya.

Tanpa gas, aktivitas berhenti, penghasilan terancam.

Cerita Pak Wo bukanlah satu-satunya.

Dalam sepekan terakhir, kabar kelangkaan gas melon menggema hampir di seluruh Pulau Bangka.

Di dapur-dapur kecil, ibu-ibu rumah tangga dan pedagang kaki lima sama-sama kebingungan.

Gas elpiji 3 kg yang seharusnya mudah dijangkau justru menjadi barang langka dan mahal.

Sarni, pedagang nasi uduk dan bubur, mengaku mulai menghitung ulang untung-rugi.

“Kalau pakai gas non-subsidi 5,5 kg atau 12 kg, habislah Bang. Kami bukan untung lagi, tapi malah mensubsidi pembeli,” keluhnya.

Pilihan energi alternatif nyaris tak ada.

Minyak tanah tinggal kenangan, arang briket pun jarang ditemui.

Di warung kelontongnya, Gendon mengenang masa-masa ketika stok gas masih stabil.

“Dulu seminggu bisa pegang 20 tabung, harga Rp 28 ribu. Masih masuk akal untuk semua,” katanya.

Kini, rak tempat gas biasa tersusun rapi justru kosong melompong.

Kelangkaan ini bukan sekadar soal distribusi, melainkan soal ketahanan hidup warga kecil.

Saprin, warga Pangkalpinang, menyebut fenomena ini seperti “ritual tahunan”.

“Seperti dosa warisan. Tiap mau bulan puasa, gas langka, listrik byarpet,” ujarnya setengah berkelakar, setengah getir.

Namun di balik keluhan, warga tak hanya menuntut.

Mereka juga menyodorkan harapan dan solusi.

Pemerintah daerah diharapkan segera turun tangan membuka data distribusi, mengawasi penyaluran agar tepat sasaran, serta berkolaborasi aktif dengan Pertamina untuk menambah pasokan di titik-titik rawan.

Operasi pasar, penambahan agen resmi, hingga transparansi kuota dinilai bisa menjadi langkah cepat meredam kepanikan.

Lebih jauh, warga berharap ada kebijakan jangka panjang.

Diversifikasi energi rumah tangga—seperti menghidupkan kembali alternatif yang terjangkau—dinilai penting agar masyarakat tak sepenuhnya bergantung pada satu sumber energi.

Edukasi dan dukungan alat konversi sederhana bagi UMKM juga bisa menjadi penopang saat krisis datang.

Hingga kini, penyebab pasti kelangkaan gas elpiji 3 kg belum mendapat penjelasan resmi.

Namun bagi warga Pangkalpinang, satu hal jelas, bahwa dapur tak boleh mati.

Di tengah keterbatasan, harapan tetap menyala, agar api kompor kembali hidup, usaha kecil kembali berdenyut, dan kehidupan sehari-hari bisa berjalan sebagaimana mestinya. (Tras)

Pos terkait