BELITUNG, TRASBERITA.COM — Di tepi laut biru yang berkilau di kawasan Tanjung Kelayang, suara ombak berbaur dengan teriakan semangat para atlet muda.
Bukan sekadar kejuaraan biasa, Laskar Pelangi Taekwondo Challenge 2026 menjelma menjadi panggung harapan—tempat mimpi-mimpi kecil ditempa menjadi prestasi nyata.
Selama dua hari, 25–26 April 2026, ratusan atlet dari berbagai daerah—mulai dari Kepulauan Bangka Belitung, Bandung, hingga Sumatera Selatan—bertarung dalam satu arena.
Namun di balik tendangan cepat dan pukulan terukur, terselip cerita tentang disiplin, kerja keras, dan keberanian menghadapi tekanan.
Sorotan datang dari kontingen Bangka Selatan. Dengan hanya 15 atlet, mereka tak sekadar hadir—mereka mencuri perhatian.
Sembilan di antaranya berasal dari Simpang Rimba, sebuah wilayah yang kini mulai dikenal sebagai ladang bibit atlet potensial.
Febran Kurniawan, pelajar dari SMP Negeri 1 Simpang Rimba, masih terlihat berkeringat usai pertandingan.
Namun di wajahnya terpancar kepuasan. Ia berhasil meraih emas—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk kebanggaan daerahnya.
“Alhamdulillah, kami sangat senang. Dari Simpang Rimba, semua peserta bisa bawa pulang trophy,” ujarnya dengan mata berbinar.
Di sisi arena, Davita Nareshwari, pendamping tim, mengamati dengan penuh harap. Baginya, kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang.
“Latihan yang kami jalani dengan konsisten mulai menunjukkan hasil. Ini baru langkah awal,” katanya.
Total, Bangka Selatan mengoleksi 9 medali: 4 emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Nama-nama seperti Avriella, Fita, Nikita, hingga Pitra dan Selvira menjadi bagian dari cerita kemenangan itu.
Namun lebih dari sekadar angka, capaian ini mencerminkan proses pembinaan yang mulai menemukan bentuknya.
Di tengah riuh pertandingan, nilai sportivitas tetap terjaga. Para atlet saling memberi hormat, berjabat tangan, dan tersenyum—sebuah pengingat bahwa olahraga bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga tentang karakter.
Kejuaraan ini juga membawa makna lain. Dengan latar eksotis pantai Belitung, ajang ini sekaligus menguatkan konsep sport tourism—menggabungkan olahraga dan promosi destinasi.
Para peserta dan pendamping tak hanya pulang membawa medali, tetapi juga cerita tentang keindahan alam Bangka Belitung.
Bagi Bangka Selatan, hasil ini menjadi sinyal optimisme.
Dari sudut-sudut daerah seperti Simpang Rimba, lahir atlet-atlet muda yang siap menembus batas, membawa nama daerah ke panggung yang lebih tinggi.
Di atas matras itu, mereka mungkin masih muda. Tapi semangatnyasudah setara juara. (TRAS)






