Abok Subuh VS Dai Nippon, Ujung Senjata yang Siap Diledakkan Ditutup oleh Kelingking Abok Subuh

Mang Kulul. (ist)

Penulis : Mang Kulul

SIMPANG RIMBA, TRASBERITA.COM — Dari kejauhan, Abok Subuh dan istrinya melihat gerak gerik tentara Nippon.

Bacaan Lainnya

Keduanya sengaja tidak pergi ke ume dan sengaja tinggal di pondok itu untuk menyambut kehadiran kelima orang serdadu Nippon yang sedang menuju ke perkampungan.

Beberapa saat kemudian, sebagaimana dugaan Abok Subuh, tentara Nippon datang dan menghampiri pondoknya yang berada di samping ruas jalan.

Setibanya di pondok itu, salah seorang serdadu Nippon menghampiri dan menyapa Abok Subuh dengan sikap yang angkuh dan tidak bersahabat. Dengan suara yang lantang ia menggertak sang kakek.

“Kakek, kami tentara dai Nippon mau bertanya”, bentak pemimpin Nippon dengan suara yang tinggi.

Walaupun berpakaian tentara Nippon, tetapi wajahnya tetap raut wajah penduduk pribumi umumnya.

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Abok Subuh, ia bahkan memandang ke arah lima serdadu Nippon satu persatu. Ia pura pura tidak mendengar panggilan tentara Nippon itu.

Sikap Abok Subuh yang seakan-akan tidak menggubris kehadiran mereka, membuat pimpinan serdadu Nippon meradang. Ia merasa diremehkan oleh sang kakek.

Pimpinan serdadu Nippon mengulangi panggilannya lagi dengan suara yang lebih keras.

“Abok, kami tentara dai Nippon mau bertanya”, ulangnya dengan raut wajah yang galak.

Tentara Nippon itu sengaja memanggil sang kakek dengan panggilan Abok, yaitu bahasa lokal yang maknanya kakek, agar sang kakek lebih mengerti.

Walau sudah dibentak dengan suara yang begitu keras, namun panggilan itu tidak digubris sama sekali oleh sang kakek.

Bahkan Abok Subuh tetap pura-pura tidak mendengar, walau pada dasarnya pendengaran masih sangat jelas.

Dalam hati sang kakek, ia sangat dongkol dengan segala sikap keangkuhan dan kesombongan yang ditunjukkan oleh tentara Nippon itu.

Sama dengan sang kakek, nenek yang berada tidak jauh dari sang kakek juga pura-pura tidak mendengar panggilan tentara Dai Nippon.

Pandangan Abok Subuh tetap kepada semua serdadu Nippon itu dengan senyum penuh makna.

Merasa kesal dengan sikap orang tua dihadapan mereka, dua orang diantara tentara Nippon itu, mengarahkan senapannya ke Abok Subuh.

Melihat apa yang dilakukan kedua tentara Nippon itu, Abok Subuh bukannya takut, tetapi ia bahkan tersenyum dan bahkan dengan sengaja memegang ujung laras panjang itu yang diarahkan kepadanya, serta sifat usilnya muncul dengan menutupi lobang senapan itu dengan jari kelingkingnya.

Tak sedikit pun tampak rasa takut dari raut wajahnya.

Melihat sikap kakek tua dihadapannya, justru ada rasa bimbang dan sedikit takut diantara mereka.

Passalnya, mereka sering menemui rakyat Bangka memiliki kesaktian yang diluar nalar.

Komandan pasukan tentara Nippon memberi isyarat kepada kedua orang temannya agar segera menurunkan senapannya itu.

Sesaat kemudian, sembari melangkahkan kakinya, Abok Subuh justru bertanya kepada mereka,

“Ikak nek kemane tuan”? (Kalian mau kemana tuan? tanya Abok Subuh dengan suara yang keras yang dibuat buat.

Melihat sikap Abok Subuh bicara seolah membentak mereka, membuat kelima tentara Nippon naik pitam.

Dengan reflek empat tentara Nippon langsung mengarahkan senjatanya ke arah sang kakek. Seperti semula, bukannya takut.

Justru dengan tenang dan senyum mengembang, Abok Subuh kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama dan dengan suara yang lebih keras.

Keempat serdadu Nippon sangat kesal dan sudah siap meledakkan senjatanya. Tetapi sekali lagi komandan mereka menahannya.

Terpaksa mereka menahan diri dan menurunkan senjatanya serta berusaha untuk sedikit melunak, padahal Abok Subuh sengaja memancing kemarahan tentara Nippon ini.

Melihat tiada rasa takut dari wajah sang kakek, kepala tentara Dai Nippon berusaha menjawab pertanyaan sang kakek dengan sedikit melunak.

“Maafkan kami Bok, kami mau ke kampung Gudang ini, mau mencari pemuda yang masih kuat untuk ikut kami”, kata kepala tentara Nippon.

Sejenak Abok Subuh berfikir. Dalam kepura-puraannya, ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bicara,

” Oh.. . begitu maksud kedatangan tuan”, jawab Abok Subuh melunak dan mulai ramah juga. Dalam hatinya Abok Subuh mencari akal untuk mengerjai tentara Nippon ini.

“Kalau begitu, baiknya kalian mampir dulu ke pondok Abok, sembari ngobrol,” ajak Abok Subuh sembari mengatur siasat,

Sesaat kemudian Abok Subuh melanjutkan perkataannya

“Abok juga mau ikut tuan”, lanjut Abok Subuh.

” Tapi sebelum berangkat, baiknya kita makan dulu, biar kita punya tenaga untuk perjalanan jauh itu. Apakah tuan-tuan sudah makan? “, kata abok Subuh berusaha ramah untuk menjebak tentara Nippon

” Hmmm…. Belum Bok,” Jawab komandan tentara itu singkat.

Memang sudah sejak berangkat hingga sekarang, perut mereka tidak diisi dengan nasi, kecuali buah buahan dan pucuk dedaunan yang bisa di makan untuk mengganjal perut yang mereka temui di jalan.

Mendengar kakek menyebutkan nasi, mereka langsung membayangkan nikmatnya menyantap makanan itu.

Ya… nasi sangat jarang sekali ditemukan, kecuali oleh orang-orang tertentu.

Melihat keramahan sang kakek serta tawaran untuk makan nasi, kelima serdadu Nippon sangat tergiur dan tertarik.

” Tadi kalian mengajak pemuda disini untuk ikut kalian, kami juga mau ikut “, ujar Abok Subuh mengulangi perkataannya. Seolah olah ia sangat tertarik dengan tawaran itu.

Padahal sang kakek sudah tahu maksud licik tentara Nippon. (Bersambung/tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.