Asal Usul Kampong Nibung Diselimuti Misteri, Datang Wali dari Jawa Taklukan Penunggu Pohon Nibung

Tampak warga sedang bergotong royong membangun Masjid Jami' Nurul Falah Desa Nibung Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah. (foto: akun YouTube sahabat EL/trasberita.com)

Penulis : Kulul Sari
KOBA, TRASBERITA.COM — Desa Nibung merupakan desa yang terletak di Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Letak desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangka Selatan.

Bacaan Lainnya

Saat ini Desa Nibung sedikitnya didiami 5000 jiwa, dengan slogan dirumuskan dalam kata BERBATANG yang merupakan kepanjangan dari Bermartabat, Berbudaya, Taat dan Anggun.

Menurut warga, asal mula penamaan Desa Nibung ini diambil dari nama sebuah pohon yang bernama Nibung.

“Dulu, di Balai Desa Nibung tumbuh batang Nibung. Saat itu balainya masih berbentuk rumah panggung dan letaknya arah ke Kampong Aik Bare. Berdasarkan peristiwa itu kampong ini dinamakan Desa Nibung,” tutur Bang Juni (53), tokoh masyarakat Desa Nibung, saat berbincang dengan media ini di lokasi Wisata Kolong Biru, yang di dampingi rekannya Dol Mahmudin (62), Sabtu (9/7/2022) siang.

Selain cerita itu, Dol Mahmudin dan Bang Juni mengisahkan, yang mereka dengar dari tetua adat dan orangtua saat itu, bahwa dulu, ada kisah lain yang melatarbelakangi asal usul kampong ini.

Bahkan cerita tentang Kampong Nibung ini tidak terlepas dari cerita mistis pada masa lalu.

Dikisahkannya, dulu ketika Bangka masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan manusia masih hidup berkelompok.

Kampong Nibung masih berupa hutan. Di hutan ini hidup sekelompok orang yang mau membangun perkampungan.

Di ujung kampong arah ke Air Bara, ditumbuhi pohon Nibung.

Beberapa orang saat itu menebang dan membersihkan lahan itu untuk dijadikan pemukiman.

Setelah semuanya ditebang dan dibersihkan, tiba-tiba esok harinya, pohon Nibung yang mereka tebang sebelumnya berdiri tegak kembali seperti semula.

Warga yang ikut gotong royong menebang dan menyiangi tempat itu menjadi heran dan bertanya tanya, kenapa pohon itu bisa tegak dan berdiri kembali seperti semula.

Karena penasaran, pohon itu mereka tebang kembali. Dan sama seperti semula, esoknya pohon itu berdiri kembali.

Hal ini beberapa kali mereka lakukan dan selalu pohon Nibung itu tetap berdiri seperti semula.

Lama kelamaan ada beberapa warga yang menyaksikan peristiwa itu, hal ini menyebabkan mereka meyakini dan mempercayai ada kekuatan ghaib.

Dengan rasa yakin yang mereka miliki, mereka meminta kepada pemilik pohon dengan berbagai hajat, serta mengantarkan sesajen di bawah pohon Nibung itu.

Menyaksikan ada warga yang mulai melakukan hal-hal yang musyrik, warga lainnya berusaha untuk mencegah agar tidak melakukan hal-hal yang menyekutukan Allah.

Kemudian mereka berusaha menebang pohon Nibung itu lagi.

Mereka sangat berharap agar pohon Nibung tidak tegak lagi agar tidak ada warga memberikan sesajen, membuat mereka semakin tersesat.

Namun, usaha sebagian warga itu sia-sia karena sebagaimana sebelumnya, esoknya pohon Nibung itu tegak kembali.

“Walau sudah diberitahu oleh warga lain, namun semakin hari semakin banyak yang berbondong-bondong datang mengantarkan sesajen dengan berbagai niat yang mereka utarakan pada penunggu pohon itu, sehingga tokoh agama kala itu hampir putus asa melihat warga yang semakin banyak memuja, mengantarkan sesajen ke tempat itu,” kata Bang Juni.

Dilanjutkan Bang Juni, melihat kondisi masyarakat semakin sesat, oleh tokoh agama kala itu yang telah berusaha untuk mengingat kan orang yang terlanjur sesaat untuk kembali ke jalan Allah.

Namun berbagai peringatan tidak membuat mereka goyah, bahkan yang mengantar sesajen dengan berbagai keperluan sesuai dengan niat, semakin banyak yang datang.

Maka, tokoh agama dan warga yang masih tetap dalam keimanan, bersepakat untuk mengutus salah seorang diantara mereka berangkat ke tanah Jawa untuk meminta bantuan seorang Kiyai atau wali agar bisa menaklukkan kemusyrikan yang semakin menjadi jadi di tanah Bangka.

“Beberapa masa kemudian, kiyai atau wali yang mereka maksud itupun datang. Dan singkat cerita, sang kiyai atau wali itupun mampu menaklukkan serta menghancurkan penghuni pohon Nibung yang telah menyesatkan masyarakat, serta mengembalikan kepercayaan warga kepada jalan yang benar. Sejak peristiwa itu, maka tempat ini dinamakan kampong Nibung,” tutur Dol Mahmudin dan Bang Juni.

Warga saat itu juga tidak ada yang tahu bagaimana sang kiyai dan wali itu menghancurkan penunggu pohon Nibung yang telah menyesatkan sebagian warga itu, sehingga hal ini menjadi misteri hingga sekarang. Allahu A’lam Bissawwab. (tras)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *