BAZNAS Babar Bagikan  Santunan Yatim dan Dhuafa Kepada 30 Anak Yatim di Desa Pelangas

Penulis: Satrio, Belva Al Akhab dan Tim

PELENGAS, BANGKA BARAT — Di antara panggung resmi negara, simbol kebijakan dan pidato tentang toleransi, ada satu momen yang membuat Launching Desa Pelangas sebagai Desa Sadar Kerukunan benar-benar hidup yaitu santunan kepada 30 anak yatim dan dhuafa. Jumat (19/12/2025), kepedulian turun dari mimbar ke tangan, dari wacana ke pelukan, dari kebijakan ke nurani.

Bacaan Lainnya

Di momen itulah BAZNAS Bangka Barat mengambil peran sentral bukan sekadar sebagai lembaga pengelola zakat, tetapi sebagai wajah kemanusiaan negara yang hadir nyata di tengah masyarakat.

Santunan diberikan secara simbolik di hadapan para pemangku kepentingan lintas agama, tokoh masyarakat dan warga Desa Pelangas. Anak-anak yatim dan para dhuafa berdiri di pusat acara, seolah menjadi penanda bahwa kerukunan sejati tidak diukur dari banyaknya slogan, melainkan dari keberanian berpihak kepada mereka yang paling membutuhkan.

Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra Nato, menegaskan bahwa keterlibatan BAZNAS dalam Launching Desa Sadar Kerukunan bukan agenda tambahan, melainkan inti dari nilai yang diperjuangkan.

“Kerukunan tidak akan pernah utuh jika anak yatim dan dhuafa hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka harus menjadi bagian dari perhatian utama,” ujarnya dengan nada tegas namun sarat empati.

Menurutnya, zakat, infak dan sedekah bukan hanya instrumen ibadah personal, tetapi alat rekayasa sosial untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam arus pembangunan dan harmoni sosial.

“Kami ingin memastikan bahwa ketika negara berbicara tentang kerukunan, yang pertama disentuh adalah mereka yang paling rentan,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua II BAZNAS Bangka Barat Bidang Distribusi, Wasis Utama Edi, menekankan bahwa santunan ini dirancang dengan prinsip ketepatan dan keberlanjutan.

“Bagi kami, bantuan bukan soal jumlah, tetapi soal martabat. Santunan harus hadir tepat sasaran, tepat waktu, dan memberi rasa dihargai,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa momentum Launching Desa Sadar Kerukunan dipilih secara sadar agar pesan yang sampai ke publik jelas bahwa kerukunan tidak netral, ia berpihak pada keadilan sosial.

Dimensi spiritual acara ini semakin menguatkan resonansi batin masyarakat. Ust. H. Zumrowi dalam tausiyahnya menegaskan bahwa menyantuni yatim dan dhuafa adalah puncak dari keberagamaan yang membumi.

“Jika ibadah hanya berhenti di bibir dan sajadah, maka ia kehilangan ruh. Hari ini, BAZNAS mengajarkan kita bahwa iman harus berjalan dengan kaki, bekerja dengan tangan, dan menyentuh dengan hati,” tuturnya.

Nada optimisme juga digaungkan H. Hasyim Baharudin, yang menilai kehadiran BAZNAS sebagai penguat legitimasi moral Desa Sadar Kerukunan.

“Kerukunan tidak bisa hanya dijaga oleh regulasi. Ia harus disuburkan oleh empati. Dan hari ini, empati itu hadir lewat BAZNAS,” katanya.

Sementara itu, H. Nurzali Hamid menyebut santunan ini sebagai investasi sosial jangka panjang menanam kepercayaan, memperkuat persatuan, dan mencegah kecemburuan sosial yang kerap menjadi benih konflik.

Di antara anak-anak yatim yang menerima santunan, beberapa menunduk malu, beberapa menggenggam amplop dengan tangan kecil yang gemetar. Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar angka, tetapi pengakuan bahwa mereka dilihat, diingat, dan dihargai.

Bagi para dhuafa, momen ini adalah penguat keyakinan bahwa negara tidak absen. Bahwa di desa kecil bernama Pelangas, mereka tidak sendirian menghadapi hidup.

Dengan santunan ini, BAZNAS Bangka Barat tidak hanya memperkuat citra sebagai lembaga pengelola zakat yang aktif dan profesional, tetapi juga sebagai penjaga denyut kemanusiaan dalam setiap agenda strategis pemerintah.

Launching Desa Pelangas sebagai Desa Sadar Kerukunan pun menemukan maknanya yang paling hakiki. Bukan sekadar deklarasi, melainkan peristiwa sosial yang mengikat nilai toleransi dengan keadilan, persaudaraan dengan kepedulian, dan kebijakan dengan kemanusiaan.

Dari Pelangas, BAZNAS Bangka Barat mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa kerukunan sejati dimulai dari keberanian menyentuh yang paling lemah, dan negara hadir melalui tangan-tangan yang peduli. (Tras)

Pos terkait