Oleh : Meilanto
Penulis, Pegiat Sejarah dan Sastra Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Berikut ini cerita yang bisa didapat berdasarkan penelusuran peta-peta zaman Belanda.
a. Peta Kaart van het Eiland Banka zamengesteld in 1845 en 1846 door H.M. Lange.
Dalam peta karya Hendrik Markus Lange ini, Guntung yang kita kenal sekarang tertulis Gontong terletak diantara Penjieak dan Koba.
Di kampung ini terdapat jalan yang menuju ke Simbar.
b. Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topograhische opneming in de jaaren 1852 tot 1855.
Peta yang dibuat oleh L. Ullman ini, Guntung tertulis Goentoeng yang terletak diantara Trentang dan AroengDalam.
Di sebelah timur terdapat gugusan karang K. Brinka. Terlihat jelas alur sungai.
c. Overzichtskaart van het gewest Banka en Onderhoorigheden Tahun 1898
Dalam peta ini, ditulis Goentoeng dan telah menjadi sebuah kampung.
Pesisir pantai berupa pasir putih (zandstrand) dan karang Goentoeng.
Sungai Goentoeng terdiri dari banyak anak sungai yaitu Legoendi, Aik Radjadjongo, Aik Groenggang, dan Aik Beroeas yang disisi kiri dari muara sungai (arah Arung Dalam).
Selanjutnya aik Temiang, Aik Biloeng, Aik Beti, dan Aik Pramboen disisi kanan dari muara sungai.
Diduga aik Radjadjongo adalah salah satu jejak dari Pateh Singa Panjang Jongor.
Kemungkinan, Pateh Singa Panjang Jongor sempat masuk ke anak sungai Guntung ini dan namanya diabadikan menjadi nama anak sungai tersebut.
Ada satu jalan setapak (voetpad) yang melewati Aik Temiang sebelum jalan setapak bercabang dua.
Jalan setapak cabang pertama melewati aik Biloeng, Aik Beti Aik Pramboen, Kelekak Loeing, Sungai Kendang, Aik Pajaauer, Aik Pigo, Aik Djering, melewati Bergen (hoogten in meters) Bukit Simbar, Kelekak Ransim, Aik Bansir, Aik Gempang, Aik Boering, Aik Pajaboemi sampai bertemu dengan keleka Pakoe di jalan raya Airbara-Pajoeng.
Selanjutnya jalan setapak cabang yang kedua melewati Kelekak Sedajoe, Aik Djedjah, Sungai Bemban, Aik Lematjang dan bertemu dengan jalan setapak cabang pertama di Bukit Simbar.
d. Boelang (D D 30,34)
Dalam peta ini, tertuis Goentoeng terletak diantara Terentang dan Aroeng Dalam.
Dari peta ini terlihat jelas inlandsche graven (Tempat Pemakaman Umum) yang berada di sebelah utara pemukiman penduduk dekat dengan regematig aangeledge pepertuinen (kebun lada) dan tanaman rubber (karet).
Persis di tengah kampung terdapat ijzeren paal van de tinwinning (tiang besi dari penambang timah) 41.
Di ujung pemukiman (arah ke Teretang) terdapat steenen kilometerpaal (Batu tanda kilometer) 51 dengan WS 3.4.
Tidak jauh dari tiang pal 51 terdapat duiker of doorlaat van steen (jembatan kecil terbuat dari batu) yang merupakan daerah rawa-rawa (drasland).
Di sebelah timur, terdapat S. Goentoeng yang membelah jalan raya.
Di atas aliran S. Goentoeng terdapat houten brug (jembatan kayu) dan tidak jauh dari jembatan tersebut terdapat steenen kilometerpaal 52 dan bamboebosch (rumpun bambu) di kanan jalan dari arah kampung menuju ke AroengDalam (sebelum sungai) dan drasland (lahan basah/rawa-rawa) di seberang sungai.
Sementara itu, di sebelah selatan didominasi regematig aangeledge pepertuinen (kebun lada) dan tanaman rubber (karet) dengan voetpad (jalan setapak) untuk sampai ke perkebunan lada dan karet.
Selain ijzeren paal van de tinwinning 41, juga terdapat ijzeren paal van de tinwinning 39, 40, dan 42.
S. Goentoeng bermuara di belakang pemukiman penduduk tidak jauh dari inlandsche graven.
Selanjutnya penulis ke TPU Guntung untuk melacak makam-makam tua.
Dari penelusuran di TPU, penulis menemukan beberapa makam tua dengan nisan menggunakan batu granit dan kayu bulin.
Memperhatikan bentuk nisan, jenis batu nisan ini adalah batu granit pascatersier, batu ini tidak diolah atau diukir di Bangka.
Nisan ini tipe B (botol)/ tipe Aceh, bukan cungkup dan tidak ada inkripsi.
Biasanya nisan tipe tersebut dipakai untuk para alim ulama abad ke 17-18. Makam tidak menggunakan jirat/ kijing.
Di TPU juga ditemukan dua makam dengan nisan dari kayu bulin.
Sepertinya makam pasangan suami istri yang terletak berdekatan. Sayang sekali kondisi makam tidak terawat.
Selanjutnya penulis bertemu dengan Bapak Badarudin (52 tahun) yang menuntun penulis ke sebuah makam yang terpisah dengan makam lainnya.
Makam tersebut berjarak kurang lebih 30 meter dari makam yang lain berada persis di pinggir jalan setapak.
Menurutnya, makam tersebut merupakan makam seorang Batin.
Belum diketahui siapa nama Batin tersebut. Makam menggunakan jirat/ kijing batu bata merah yang tersusun berdiri.
Batu nisan menggunakan sistem kaki dengan dua buah batu bata merah dan seperti disemen.
Nisan berukuran besar. Sayang sekali kondisi makam tidak terawat dan banyak sampah di sekelilingnya karena berada tidak jauh dari rumah warga. (*/tras)













