Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan
TEMPILANG, TRASBERITA.COM — adalah salah satu kota kuno di Pulau Bangka yang dalam Het Eiland Banka (1819) and De River van Palembang (1821) ditulis dengan toponimi Tampillang. Letak geografisnya berada di pesisir Barat Pulau Bangka, dengan Pulau Semopong di sebelah Baratdaya, kemudian Tanjung Toda di sebelah Baratlaut dan pada sisi Tenggara kota Tampillang terdapat Tanjung Kaay.
Dalam Map of the Island Banca, Tahun 1821 oleh M. H. Court, seorang Residen Inggris untuk wilayah Palembang dan Bangka Tempilang ditulis dengan toponimi Tempelang.
Dalam Peta pulau Bangka yang lebih muda, J.W. Stemfoort Tahun 1885, Tempilang ditulis dengan Tampilan.
Pada peta ini juga ditulis keberadaan aera Fort atau wilayah Benteng Tempilang yang terletak di sisi Tenggara Tampilan dan Tanjung Semoela.
Kota Tampilan terletak di pesisir Barat pulau Bangka, berbatasan dengan Tanjung Resang, pulau Bombang, Tanjung Riah dan Tanjung Semoela.
Pada sisi sebelah Baratnya Tampilan terdapat sungai Djering dan di sisi sebelah Timurnya terdapat sungai Kota Waringin.
Kota Tampilan terhubung dengan jalan setapak ke arah Barat laut menuju kampung Nior, dan ke arah Utara menuju kampung Soekoe, Kajoearang, Paja Memandi, Mantjang, dan jalan setapak kemudian menyimpang Dua arah, Satu arah menuju ke kampung Dendang dan Satu arahnya lagi menuju kampung Kelapa.
Pada sisi Utara Kota Tampilan terdapat Aik Klantji yang merupakan anak sungai Kota Waringin, dan Gunung Singiri, Gunung Tampilan, dan Kelekak Mesoelong. Penamaan Kota dengan Toponimi Tempilang dapat dilihat dari peta-peta pulau Bangka yang lebih muda, seperti peta Tahun 1897, 1910 dan seterusnya, Kota Tempilang oleh pemerintah Hindia Belanda dimasukkan dalam wilayah Underdistrik Kadiala dalam wilayah distrik Mentok, dengan mayoritas penduduk Orang Darat dengan dialek Bahasa Orang Darat.
Tampaknya toponimi wilayah geografi lainnya setelah Tahun 1897 sudah seperti sebutan pada saat kondisi sekarang, misalnya Kota Tempilang pada sisi sebelah Baratnya terdapat Aik Tempilang dan pada sisi Timurnya terdapat Aik Kelantji dan bukit Pereban, selanjutnya pada sisi Utara terdapat bukit Singiri, gunung Plawan dan gunung Pandan, sedangkan pada wilayah pesisirnya terdapat pulau Semoemboeng (Satu pulau yang bila air laut surut terhubung dengan wilayah daratan Tempilang).
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin I Jayowikramo (Tahun 1724-1757 ), dibangunlah pusat kekuasaan awal Pulau Bangka yang berkedudukan di Kota Mentok.
Penguasa Pulau Bangka sebagai wilayah Sindang yang berstatus merdeka atau bebas (vryheren) adalah orang yang ditunjuk sebagai wakil sultan dan memiliki kekuasaan yang besar sampai pada memutuskan perkara mati bagi pelaku pelanggaran adat dan aturan kesultanan.
Sebagai penguasa awal yang mengatur pemerintahan dan pertambangan Timah di Pulau Bangka diangkatlah Wan Abdul Jabar atau Datuk Dalam Hakim (mertua sultan Mahmud Badaruddin I). Setelah meninggalnya Datuk Dalam Hakim atau Wan Abdul Jabar, kemudian diangkatlah Datuk Akub atau Datuk Rangga Setiya Agama, dan selanjutnya setelah wafatnya Datuk Akub, kekuasaan atas Pulau Bangka diserahkan oleh sultan kepada putera Datuk Wan Seren yaitu Datuk Wan Usman.
Jabatan Datuk Wan Usman adalah sebagai seorang Manteri Rangga yang dikenal dengan sebutan Datuk Adji Manteri Rangga Usman. Kedudukan Manteri Rangga Usman, sama kedudukannya dengan Manteri Rangga yang ada di Kesultanan Palembang Darussalam. Sama halnya dengan Datuk Dalam Hakim dan Datuk Rangga Setiya Agama, Manteri Rangga Usman memiliki kekuasaan yang besar sebagai kepala pemerintahan dan pertambangan Timah di seluruh Pulau Bangka (awalnya Wan Seren dan Wan Usman hanya berkuasa di wilayah Bangka Bagian Selatan).
Rangga Usman kemudian digantikan oleh Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala (memerintah sekitar Tahun 1757-1780, Lahir sekitar Tahun 1714, dan meninggal Tanggal 12 Safar 1202 Hijriah/22 November 1787 di Mentok).
Kota Mentok sebagai pusat pemerintahan dan pusat Penambangan Timah di Pulau Bangka sekitar pertengahan abad 17 dan 18 Masehi semakin berkembang dan maju. Awalnya Kota Mentok banyak dihuni orang pribumi Bangka dari Proatin Punggur dan Sukal, serta proatin di sekitarnya, kemudian Kota Mentok mulai ramai dihuni oleh orang Melayu dari Johor dan Siantan, kemudian Kota Mentok semakin ramai dengan kedatangan orang Cina dari Siam, Kamboja dan Patani serta dari Kochin. Orang Cina, datang ke Mentok pulau Bangka, awalnya didatangkan oleh seorang peranakan Cina Palembang bernama Coeng Hoeyoet atas perintah Sultan Palembang (Sultan membuat kebijakan mendatangkan pekerja-pekerja Cina yang terampil untuk menambang Timah guna meningkatkan produksi Timah di Pulau Bangka dan untuk memenuhi kontrak perdagangan Timah dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang secara awal telah ditandatangani pada Tahun 1710 Masehi, masa sultan Muhammad Mansyur Jayo Inglago dan kesepakatan antara kongsi dagang Belanda VOC dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin dari Palembang terkait monopoli penjualan Timah Pada Tahun 1722).
Pada masa Datuk Wan Abdul Jabar dan Datuk Wan Akub, orang Cina awalnya hanya tinggal di Mentok, Belinjoe (Pandji) dan Boenoet, akan tetapi pada masa Rangga Usman, pemukiman orang Cina sudah meluas menempati juga wilayah Rambat hingga sampai ke wilayah Tempilang, terutama seiring dengan perkembangan penambangan Timah di wilayah wilayah tersebut. Setelah pertambangan Timah dibuka di Mentok kemudian tambang dibuka di Belo, pertambangan selanjutnya dibuka di Panji dekat Belinyu. Penambangan Timah selanjutnya di Pulau Bangka adalah di wilayah Tempilang (Tanpi).
Tampillang atau Tempilang merupakan salah satu wilayah pertama di Pulau Bangka yang Timahnya dieksplorasi oleh orang Cina dengan tekhnologi Kulit. Dalam tulisan P.J. Veth (1861, hlm. 85) yang berjudul “Banka” disebutkan, bahwa Timah Bangka ditemukan dalam deposit yang besar oleh seseorang yang bernama Batin Angor dari distrik Merawang pada Tahun 1710.
Penggarapan bijih Timah secara besar-besaran terjadi sejak Tahun 1740 oleh pekerja-pekerja dari Cina. Pada tahun tersebut, terdapat Tiga wilayah yang dibuka untuk penambangan Timah oleh orang Cina, yakni: di Belo, di Panji (berjarak 1 jam dari Blinju), dan di Tampillang di Selat Bangka, yang terletak di antara sungai Jering dan sungai Kota Waringin. Dari Tiga wilayah itu, dalam setahun diperoleh Timah sebanyak 25.000 pikul.
Pertambangan Timah pada masa ini telah mempekerjakan orang yang mengerti pertambangan Timah, memperkenalkan teknologi baru yang dibawa oleh orang Cina yaitu Teknologi Kulit dengan penggunaan tekhnologi pompa air chinchia dan roda air atau chiacaw serta penataan penggunaan air secara tepat, melakukan peleburan (puput) balok Timah dengan ukuran yang jelas dan terstandar.
Untuk mengamankan Parit-parit penambangan Timah dari penjarahan oleh Bajak Laut dari Siak, Lanun atau Irranun dari Lanoa Mindanau dan Johor Lingga, Tumenggung Abang Pahang Dita Menggala meminta izin kepada Sultan Palembang Ahmad Najamuddin I Adikesumo (masa pemerintahan Tahun 1757-1776 Masehi) untuk membuat benteng dan gudang sebagai parit pertahanan. Permohonan itu kemudian dikabulkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam dengan dibangunnya benteng-benteng di Belinyu, Tempilang, Biat, Bunut, Bendul, Sungkai, Rambat dan Panji serta pada pangkal-pangkal lainnya di pulau Bangka seperti pangkal yang ada di sungai Antan dan sungai Melaboen serta sungai Saga.
Pada tiap benteng atau kota dipimpin atau dijaga oleh seorang panglima yang diberi gelar atau sebutan Panglima Angin.
Benteng benteng dan gudang tersebut kemudian oleh Abang Pahang bergelar Tumenggung Ditamenggala diperkuat dengan meriam dan persenjataan di masing masing bastion atau serlekanya. Benteng dan gudang dibangun di Kota Mentok, yaitu Benteng Koto Seribu (Sekitar Tahun 1768), Benteng dan Gudang di Kota Tempilang (Sekitar Tahun 1769).
Perintah Pembangunan Benteng dan gudang selanjutnya oleh Sultan Muhammad Bahauddin (memerintah Tahun 1776-1803) kepada Abang Ismail bergelar Tumenggung Kertawijaya terhadap pembangunan benteng di Sungaibuluh (Tahun 1796) dan benteng serta gudang di Teluk Kelabat Belinju (Tahun 1795). Sisa bangunan Benteng dan gudang di Belinyu serta makam kapitan Cina Bong Kiong Hu atau Bong Kap, diperkirakan hancur pada Tahun 1850 (Lange, 1850: 16,17).
Berdasarkan ekspedisi Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Bangka yang dimulai pada 18 Juli 1803 sebagaimana dikutip dari Marihandono, dkk. (2019;209-210), bahwa dalam ekspedisi pemerintah Hindia Belanda yang mengikutsertakan beberapa kapal perang antara lain kapal perang Maria Rijgersbergen bersama dengan kapal-kapal layar eks VOC Maria Jacoba dan Beschermer dan dengan menggunakan beberapa kapal perang serta dikawal oleh beberapa kapal jenis panjajab, pada Tanggal 17 Agustus 1803 komandan ekspedisi yang menaiki kapal perang Maria Rygersbergen menuju ke Bangka. Selanjutnya pada Tanggal 19 Agustus 1803 ekspedisi tiba di Pulau Bangka.
Dari hasil pengamatan diketahui, bahwa terdapat beberapa teko atau tiko di kompleks tambang Timah di Pulau Bangka antara lain; Kimas Tumenggung Astra Dikara, teko raja, yang membawahi distrik Bangka Tampelang (Tempilang), mempekerjakan 10 kuli tambang Cina. Kemudian juga distrik Bangka Nira (Nyireh), Bangka Kebu (Bangka kota) dan Bangka Toboali. Pada ketiga tempat ini tidak ada tambang Timah, juga tidak ada penduduk gunung yang tinggal di sini; Nyai Rangga Bulo, yang bertindak sebagai teko dari raja dari distrik Marawang, yang mencakup 12 tambang Timah dan 33 kuli tambang Cina; Ingabei Angsa Sedana, atau di luar dikenal dengan nama Ingabei Ismael, sebagai teko raja memegang kekuasaan atas distrik Jebus, yang mencakup 7 tambang Timah dan 300 kuli Timah Cina (di Bangka Jebus ada lebih banyak kuli tambang Cina daripada di tempat lain.
Orang bisa mempertimbangkan, bahwa tambang-tambang di sini digali lebih dalam daripada di tempat lain, yang umumnya lebih dangkal karena kurangnya tenaga penggali); Ki Demang Bing, kepala bangsa Cina di Palembang yang bertindak sebagai teko bagi raja di distrik Blingu (Blinju) dan Lanji (Panji) dengan cakupan Tiga tambang Timah, yang dikerjakan oleh 46 kuli Timah; Saudagar Baby, teko raja yang membawahi Empat tambang Timah di distrik Bangka Lumut, yang dikerjakan oleh 40 orang kuli Cina; Nyai Demang Jaya Layana, teko putra mahkota di distrik Belo, dimana hanya ada Satu tambang Timah yang dikerjakan oleh 18 orang kuli Cina.
Klabat memiliki Empat tambang Timah dan di sana bekerja 70 orang Cina. Layang memiliki Empat tambang Timah dengan 21 orang kuli Cina.
Songie Laot memiliki 5 tambang Timah dan di sana terdapat 45 orang kuli Cina dan Pankal Pinang yang memiliki 7 tambang Timah yang mempekerjakan 35 pekerja Cina; Pangeran Ade, putra kedua raja tidak memiliki teko, mengelola sendiri tambang Timahnya di Songebulo (Sungai Bulo) yang dikerjakan oleh 52 orang kuli Cina.
Menurut Harsono (2017, 41) Demang Djaya Laksana/ Jaya Layana adalah anak dari Oen Asing atau Boen Asiong.
Pada masa Sultan Muhammad Bahauddin (masa pemerintahan Tahun 1776-1803 Masehi), karena luasnya wilayah pulau Bangka dan dalam rangka pengamanan parit-parit penambangan Timah dan pangkal-pangkal tempat kedudukan demang sebagai sumber utama kekayaan Kesultanan Palembang Darussalam dari serangan Bajak laut dan serangan dari Kesultanan Johor dan Lingga, Kota Tempilang yang memiliki benteng dan gudang yang cukup besar serta karena letaknya Kota Tempilang yang strategis di pesisir Barat pulau Bangka, diapit oleh Dua sungai besar yaitu sungai Kotawaringin dan sungai Jering, oleh sultan dijadikan sebagai batas wilayah pemerintahan.
Sultan membagi wilayah pemerintahan di pulau Bangka atas Dua wilayah yaitu wilayah bagian Utara dan Barat pulau Bangka dan wilayah bagian Selatan pulau Bangka termasuk pulau Lepar, pulau Liat/pulau Leat dan pulau Belitung.
Wilayah bagian Utara dan Barat pulau Bangka berpusat di Mentok dengan batas ke Timur sampai sungai Kampak dan batas ke arah Selatan sampai ke Tempilang.
Wilayah Utara dan Barat pulau Bangka dikuasakan oleh Sultan Palembang kepada Abang Ismail bergelar Tumenggung Kerta Menggala (menggantikan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala). Sultan Palembang juga kemudian mengutus Kemas Ismail, Ngabehi Hasan, Ngabehi Abdullah dan Raden Djakfar untuk mengamankan wilayah Utara dan Barat pulau Bangka dari serangan bajak laut dengan benteng-benteng yang telah didirikan sebagai basis kekuatannya.
Selanjutnya ditetapkan wilayah yang terletak di bagian Selatan pulau Bangka berpusat di pangkal Toboali dengan wilayah yang cukup luas, termasuk kepulauan Lepar dan pulau Belitung.
Wilayah Selatan pulau Bangka dikuasakan kepada Pangeran Adiwijaya saudara Sultan Muhammad Bahauddin atau putera dari Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin I Adikesumo.
Para pangeran dari Palembang, Raden Keling, Raden Ahmad, Raden Badar, Raden Ali dan Raden Sa’bah yang merupakan kerabat dekat sultan, kemudian diutus ke wilayah Bangka Selatan untuk mengatasi serangan bajak laut dan menjadi kepala-kepala rakyat di Bangka Selatan.
Pada masa Sultan Muhammad Bahauddin mulailah diangkat jabatan-jabatan kepala pada orang Cina dengan pangkat kapitan, kemudian mulai dibentuknya kongsi-kongsi penambangan Timah serta diizinkannya masing-masing kongsi penambangan Timah menggunakan pitis Timah sebagai alat pembayaran yang berlaku dalam Satu distrik.
Kepala Kongsi dipanggil Tiko atau Taiko (PY:dage) yaitu saudara tua, nampaknya di bawah pengaruh Belanda abad 19, nama ini diubah menjadi Kapthai atau Kapitan (Heidhues, 2008:39).
Picis Timah yang dibuat oleh kongsi dan berlaku pada Satu distrik dapat ditukarkan di masing-masing kongsi dengan uang Tembaga dan uang Perak yang berlaku umum di semua distrik.
Pada koleksi Museum Timah Indonesia Pangkalpinang terdapat beberapa jenis uang picis kongsi yaitu: Token kongsi sungai An dan (Antan) Jebus, token kongsi Ma nao, Belo, token kongsi Bing lang/Pin long, Pangkalpinang dan token kongsi Tan pie, untuk wilayah Tempelang.
Untuk lebih menjaga keamanan di pulau Bangka, Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala sebagai wakil sultan Palembang bermohon kepada sultan Susuhunan Ahmad Najamudin I Adikesumo, supaya pada tiap-tiap pangkal di pulau Bangka didirikan benteng dari tanah (kota), sebagaimana benteng yang telah didirikan di Kota Mentok (disebut benteng Kota Seribu karena dibangun atas bantuan sultan Palembang dengan uang seribu ringgit dan seribu pikul beras).
Permohonan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala kemudian dikabulkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam dengan dibangunnya benteng-benteng tanah di Belinyu, Tempilang, Biat, Bunut, Bendul, Sungkai, Rambat dan Panji serta pada pangkal-pangkal lainnya di pulau Bangka seperti pangkal yang ada di sungai Antan dan sungai Melaboen serta sungai Saga.
Pada tiap benteng atau kota dipimpin atau dijaga oleh seorang panglima yang diberi gelar atau sebutan Panglima Angin.
Awal sejarah berkuasanya bangsawan-bangsawan dari Johor Siantan di Kota Mentok dan pulau Bangka ketika Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo (memerintah Tahun 1724-1757 Masehi) berangkat dari pengasingannya di Johor Siantan untuk kembali ke Palembang beserta dengan keluarganya.
Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo selama menetap di Johor Siantan memperistri Baniah anak dari Encek’wan Abdul Djabar bin Encek’wan Abdul Hayat (Lim Tau Kian) bangsawan dari Johor Siantan. Baniah karena diperistri oleh sultan kemudian menjadi permaisuri dan diberi gelar kehormatan Mas Ajoe Ratoe, sedangkan bapaknya Encek’wan Abdul Djabar karena menjadi mertua Sultan Palembang Darussalam Mahmud Badaruddin I Jayowikromo kemudian ditabalkan dengan gelar kebangsawanan Datuk Mertua Dalam Untuk lebih menjaga keamanan di pulau Bangka, Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala sebagai wakil sultan Palembang bermohon kepada sultan Susuhunan Ahmad Najamudin I Adikesumo, supaya pada tiap-tiap pangkal di pulau Bangka didirikan benteng dari tanah (kota), sebagaimana benteng yang telah didirikan di Kota Mentok (disebut benteng Kota Seribu karena dibangun atas bantuan sultan Palembang dengan uang seribu ringgit dan seribu pikul beras).
Permohonan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala kemudian dikabulkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam dengan dibangunnya benteng-benteng tanah di Belinyu, Tempilang, Biat, Bunut, Bendul, Sungkai, Rambat dan Panji serta pada pangkal-pangkal lainnya di pulau Bangka seperti pangkal yang ada di sungai Antan dan sungai Melaboen serta sungai Saga.
Pada tiap benteng atau kota dipimpin atau dijaga oleh seorang panglima yang diberi gelar atau sebutan Panglima Angin.
Awal sejarah berkuasanya bangsawan-bangsawan dari Johor Siantan di Kota Mentok dan pulau Bangka ketika Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo (memerintah Tahun 1724-1757 Masehi) berangkat dari pengasingannya di Johor Siantan untuk kembali ke Palembang beserta dengan keluarganya. Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo selama menetap di Johor Siantan memperistri Baniah anak dari Encek’wan Abdul Djabar bin Encek’wan Abdul Hayat (Lim Tau Kian) bangsawan dari Johor Siantan. Baniah karena diperistri oleh sultan kemudian menjadi permaisuri dan diberi gelar kehormatan Mas Ajoe Ratoe, sedangkan bapaknya Encek’wan Abdul Djabar karena menjadi mertua Sultan Palembang Darussalam Mahmud Badaruddin I Jayowikromo kemudian ditabalkan dengan gelar kebangsawanan Datuk Mertua Dalam Untuk lebih menjaga keamanan di pulau Bangka, Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala sebagai wakil sultan Palembang bermohon kepada sultan Susuhunan Ahmad Najamudin I Adikesumo, supaya pada tiap-tiap pangkal di pulau Bangka didirikan benteng dari tanah (kota), sebagaimana benteng yang telah didirikan di Kota Mentok (disebut benteng Kota Seribu karena dibangun atas bantuan sultan Palembang dengan uang seribu ringgit dan seribu pikul beras).
Permohonan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala kemudian dikabulkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam dengan dibangunnya benteng-benteng tanah di Belinyu, Tempilang, Biat, Bunut, Bendul, Sungkai, Rambat dan Panji serta pada pangkal-pangkal lainnya di pulau Bangka seperti pangkal yang ada di sungai Antan dan sungai Melaboen serta sungai Saga.
Pada tiap benteng atau kota dipimpin atau dijaga oleh seorang panglima yang diberi gelar atau sebutan Panglima Angin.
Awal sejarah berkuasanya bangsawan-bangsawan dari Johor Siantan di Kota Mentok dan pulau Bangka ketika Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo (memerintah Tahun 1724-1757 Masehi) berangkat dari pengasingannya di Johor Siantan untuk kembali ke Palembang beserta dengan keluarganya.
Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo selama menetap di Johor Siantan memperistri Baniah anak dari Encek’wan Abdul Djabar bin Encek’wan Abdul Hayat (Lim Tau Kian) bangsawan dari Johor Siantan.
Baniah karena diperistri oleh sultan kemudian menjadi permaisuri dan diberi gelar kehormatan Mas Ajoe Ratoe, sedangkan bapaknya Encek’wan Abdul Djabar karena menjadi mertua Sultan Palembang Darussalam Mahmud Badaruddin I Jayowikromo kemudian ditabalkan dengan gelar kebangsawanan Datuk Mertua Dalam Untuk lebih menjaga keamanan di pulau Bangka, Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala sebagai wakil sultan Palembang bermohon kepada sultan Susuhunan Ahmad Najamudin I Adikesumo, supaya pada tiap-tiap pangkal di pulau Bangka didirikan benteng dari tanah (kota), sebagaimana benteng yang telah didirikan di Kota Mentok (disebut benteng Kota Seribu karena dibangun atas bantuan sultan Palembang dengan uang seribu ringgit dan seribu pikul beras). Permohonan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala kemudian dikabulkan oleh Kesultanan Palembang Darussalam dengan dibangunnya benteng-benteng tanah di Belinyu, Tempilang, Biat, Bunut, Bendul, Sungkai, Rambat dan Panji serta pada pangkal-pangkal lainnya di pulau Bangka seperti pangkal yang ada di sungai Antan dan sungai Melaboen serta sungai Saga. Pada tiap benteng atau kota dipimpin atau dijaga oleh seorang panglima yang diberi gelar atau sebutan Panglima Angin.
Awal sejarah berkuasanya bangsawan-bangsawan dari Johor Siantan di Kota Mentok dan pulau Bangka ketika Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo (memerintah Tahun 1724-1757 Masehi) berangkat dari pengasingannya di Johor Siantan untuk kembali ke Palembang beserta dengan keluarganya. Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo selama menetap di Johor Siantan memperistri Baniah anak dari Encek’wan Abdul Djabar bin Encek’wan Abdul Hayat (Lim Tau Kian) bangsawan dari Johor Siantan. Baniah karena diperistri oleh sultan kemudian menjadi permaisuri dan diberi gelar kehormatan Mas Ajoe Ratoe, sedangkan bapaknya Encek’wan Abdul Djabar karena menjadi mertua Sultan Palembang Darussalam Mahmud Badaruddin I Jayowikromo kemudian ditabalkan dengan gelar kebangsawanan Datuk Mertua Dalam. (*/Tras)













