Bukit Kijang: Antara Bukit Lesung dan Batu Kijang

Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Desa Bukit Kijang awalnya terdiri dari dua buah dusun, yaitu Dusun Batu Kijang dan Dusun Bukit Lesung.

Dengan adanya Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 2005 tentang Desa maka masyarakat di kedua dusun tersebut membentuk presidium pembentukan desa dengan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah agar disahkan menjadi desa.

Bacaan Lainnya

Batu Kijang sendiri berasal dari nama sebuah batu yang disembah oleh orang-orang keturunan Tionghoa pada zaman dahulu untuk meminta berbagai keberuntungan karena bentuk batunya menyerupai kijang.

Batu kijang terletak di kawasan Parit V (Parit Lima) yang merupakan daerah tambang sejak zaman Belanda.

Batu yang menyerupai kijang tersebut telah hilang sejak dibukanya tambang timah di kawasan itu.

Sedangkan nama Bukit Lesung bermula dari adanya sebuah bukit yang terdapat batu berbentuk lesung sehingga diberi nama Dusun Bukit Lesung.

Nama Bukit Kijang sendiri merupakan penyatuan nama dari kedua dusun tersebut.

Bukit diambil dari nama Bukit Lesung sedangkan Kijang diambil dari nama Batu Kijang dan pada akhirnya nama desa yang diakui pemerintah adalah Desa Bukit Kijang. (Ibrahum, dkk. 2013:58).

Dusun Bukit Lesung mayoritas penduduknya suku Madura dan Dusun Batu Kijang mayoritas suku Melayu.

Secara administrasi, desa ini terbentuk menjadi Desa berdasarkan Peraturan Daerah nomor 32 tahun 2006 tentang Pembentukan 16 (Enam Belas) Desa dan 6 (Enam) kelurahan di Kabupaten Bangka Tengah.

Kedua dusun ini sebelumnya merupakan dusun yang menginduk ke Desa Cambai.

Pusat pemerintahan desa terdapat di Dusun Batu Kijang.

Dalam Perda nomor 32 tahun 2006 Bab II Pembentukan Desa Menjadi Kelurahan Bagian Pertama Pembentukan Desa Pasal 2 berbunyi :

“Dengan Peraturan Daerah ini dibentuk Desa Lubuk Lingkuk, Desa Lubuk Pabrik, Desa Trubus, Desa Kulur Ilir, Desa Beluluk, Desa Baskara Bhakti, Desa Pedindang, Desa Bukit Kijang, Desa Batu Belubang, Desa Kerabut, Desa Sungai Selan Atas, Desa Tanjung Pura, Desa Ramadhon, Desa Kerakas, Desa Katis, dan Desa Pinang Sebatang.”

Selanjutnya dalam Bab III Batas dan Luas Wilayah Pasal 6 ayat (8) berbunyi : “Batas wilayah Desa Bukit Kijang sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (7), adalah sebagai berikut :

a. sebelah utara berbatasan dengan Jembatan P2D dan Jalan SMP 4 Pangkalanbaru Desa Kayu Besi di titik koordinat X: 0.633.089; Y: 9.753.464 dan X: 0.632.945; Y: 9.753.252;

b. sebelah selatan berbatasan dengan Air Basal Desa Cambai di titik koordinat X: 0.631.829; Y: 9.752.412;

c. sebelah timur berbatasan dengan Sungai Benuang Desa Kayu Besi di titik koordinat X: 0.632.941; Y: 9.752.572; dan

d. sebelah barat berbatasan dengan Kolong Asiong Desa Cambai di titik koordinat X: 0.631.313; Y: 9.752.502.

Berdasarkan peta yang diterbitkan tahun 1946, terlihat dengan jelas Lesoeng Hill (Bukit Lesung) dan tulisan Batu Kijang tidak tampak sama sekali.

Secara geografis, Lesoeng Hill terletak antara air Batjang di sebelah timur, air Toembak Moentik di sebelah selatan, Mt. Toenggal/Gunung Tunggal (115) dan Gembaloeh Hill di sebelah barat, serta Kajoebesi di sebelah utara.

Secara umum, Lesoeng Hill dan sekitarnya merupakan lahan perkebunan warga.

Kemudian penulis berkunjung ke Desa Bukit Kijang pada Selasa, 7 Januari 2020 pukul 13.00-15.00.

Dalam kunjungan tersebut tujuan penulis adalah ke situs Batu Lesung. Dulu di tahun 2013, penulis sempat berkunjung ke situs tersebut.

Lain 2013 tentu lain pula 2020. Setelah datang ke Dusun Batu Lesung, penulis menemui seorang tokoh agama.

Dari ceritanya, dulu pernah ada warga yang melihat alu terbuat dari batu yang berada tidak jauh dari batu lesung tersebut.

Setelah datang kembali ke lokasi penemuan keesokan harinya, alu tersebut sudah tidak ada lagi.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, alu yang merupakan bagian dari lesung raib karena dipercayai kawasan yang terdapat batu lesung adalah daerah yang angker yang dipenuhi oleh penunggunya.

Karena sesuatu dan lain hal tokoh agama tidak bisa mengantarkan penulis ke situs batu lesung.

Ada perasaan gundah ketika target yang dituju untuk bahan dalam penulisan ini tidak bisa ditemui.

Maka dengan bermodal nekad sembari mengingat dan membuka memori lama penulis mengingat-ingat jalan yang dulu dilalui menuju bukit yang ada batu lesungnya.

Dulu hutan masih sangat lebat, kayu-kayu masih asri.

Sekarang terlihat jelas hamparan rumput di areal luas milik salah satu perusahaan yang bakal menanam jagung.

Tidak jauh dari areal hamparan luas terdapat sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi dengan hutan yang masih terjaga.

Maka dengan penuh keyakinan, situs batu lesung ada di bukit tersebut.

Motor penulis sudah bisa lagi dibawa karena sudah mentok kebun warga.

Setelah parkir di bawah batang jambu air, perjalanan mendaki pun dimulai.

Terlihat dari kejauhan seorang warga (perempuan) sedang membersihan lahan yang akan ditanami sayuran.

Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan hajat, oleh warga tersebut penulis diminta untuk mengikuti jalan setapak yang mengarah ke puncak bukit.

Jalan setapak itu sudah semak. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, penulis melihat kebun sahang warga sembari berharap ada tuannya dan ternyata benar.

Warga tersebut sedang membersihkan rumput-rumput di kebun sahangnya.

Sebagai seorang pendatang, penulispun memperkenalkan diri dan menyampaikan hajat.

Ternyata bapak itu bernama Mad Rujik yang berusia 51 tahun.

Dan penulis bersyukur Pak Mad Rujik bersedia mengantar penulis ke situs batu lesung.

Perjalannya pun dilanjutkan kembali. Terjalnya bukit membuat napas tersengal-sengal.

Sepanjang perjalanan, penulis selalu bertanya tentang situs batu lesung sambil memegang handphone dengan aplikasi voice record.

Sekitar 10 menit perjalanan, kami bukannya ke menuju ke puncak tapi ke arah kiri kaki bukit.

Dan situs yang ditujupun sudah tampak di depan mata.

Semaknya jalan setapak dengan napas tersengal-sengal rasanya terbayar sudah.

Ada rasa gembira karena target yang dituju berhasil ditemui.

Lokasi batu lesung berada di kaki Bukit Lesung dengan kondisi sekitar situs bekas ditebas.

Hanya saja didekatnya kayu batu berukuran kecil seperti dibiarkan tidak ditebang.

Batu lesung berukuran (titik paling panjang, karena bentuk batu yang tidak simetris) 120 cm dan lebar 80 cm.

Batu itu berwarna merah dan ada retakan pada bagian tengah dari kiri ke kanan.

Tinggi 36 cm dengan bagian atas agak sedikit rata.

Jenis batu ini adalah batu merah biasa (sering digunakan untuk pondasi rumah).

Pada bagian tengah terdapat lubang membentuk lingkaran dengan garis tengah 20 cm dan dalam lubang tersebut 15 cm.

Lubang tersebut terdapat daun-daun dan jentik-jentik nyamuk.

Pada bagian bawah (berjarak sekitar 10 cm dari tanah) terdapat lubang yang miring dengan kedalaman 23 cm dan diameter 15 cm.

Sepintas batu tersebut mirip lesung yang digunakan warga untuk menumbuk padi.

Menurut Mad Rujik, saat hutan masih lebat, setiap malam Jumat, warga sering mendengar suara ketukan seperti orang sedang menumbuk padi dari kawasan bukit tersebut dan warga mempercayai bahwa “penghuni” di bukit tersebut sedang menumbuk padi.

Bagi warga sekitar, suara orang menumbuk padi setiap malam Jumat sudah tidak asing lagi. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *