Bundaran Satam, Titik Awal Jatuh Cinta pada Pulau Belitung

Penulis: Bandoi Ahada
BELITUNG, TRASBERITA.COM — Di jantung Kota Tanjungpandan, sebuah bundaran tak sekadar menjadi pengatur lalu lintas.

Ia menjelma etalase kebanggaan Pulau Belitung.

Bacaan Lainnya

Bundaran Satam, dengan batu hitam legendaris yang bertengger anggun di atas lima tiang kokoh, seolah menyambut setiap tamu yang baru menginjakkan kaki di Negeri Laskar Pelangi.

Saat senja bergeser menuju malam, lampu sorot mulai menyala.

Cahaya itu memantul di permukaan batu satam, memancarkan kilau magis yang membuat siapa pun refleks memperlambat langkah.

Seorang wisatawan dari luar daerah tampak berdiri sejenak di tepi bundaran, mengangkat ponsel, lalu tersenyum puas setelah memastikan sudut terbaik tersimpan di galeri kameranya.

“Baru turun dari bandara, saya langsung ke sini. Rasanya tenang dan hangat, seperti disambut,” ujar Lala, seorang wisatawan asal Jakarta, sambil menatap batu satam yang bersinar di bawah cahaya lampu malam.

Rerumputan hijau dan bunga-bunga warna-warni yang tertata rapi di sekeliling bundaran mempercantik suasana.

Kendaraan yang melintas melingkar seolah menjadi bingkai hidup bagi ikon Belitung ini.

Beberapa kursi yang disediakan di pinggir bundaran pun tak pernah benar-benar kosong.

Ada yang sekadar melepas lelah, ada pula yang menikmati denyut kota sambil mengamati arus kehidupan Tanjungpandan.

“Tempatnya rapi dan nyaman. Cocok untuk duduk santai sambil melihat aktivitas kota, apalagi kalau malam,” tutur Revian, wisatawan lainnya yang datang bersama keluarga kecilnya dari Palembang.

Tak jauh dari Bundaran Satam, kawasan kuliner KV Senang ikut menjadi magnet pelancong.

Aroma kopi panas dan makanan khas Belitung menyeruak, mengundang siapa saja untuk singgah.

Di pagi hari, secangkir kopi menjadi teman menyambut aktivitas.

Sementara di malam hari, suasana justru kian hidup.

Lampu-lampu temaram, obrolan hangat, dan hidangan lokal berpadu menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan.

“Ngopi malam di sini rasanya beda. Santai, ramai tapi tetap nyaman,” kata Iwan, wisatawan asal Pangkalpinang ini sembari menyeruput kopi panas, ditemani sepiring mie rebus khas Belitung.

Bagi wisatawan, kawasan ini terasa lengkap. Ingin mencicipi kuliner? Ada. Ingin bersantai sambil menikmati musik? Bisa.

Ingin mencari oleh-oleh khas Belitung? Tinggal melangkah beberapa meter dari bundaran.

Saat malam semakin larut, alunan musik dari para musisi lokal mengalir lembut di udara.

Sejumlah wisatawan tampak larut dalam suasana, menyeruput kopi susu, sesekali mengangguk mengikuti irama.

Bundaran Satam bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan ruang pertemuan antara budaya, keramahan, dan cerita perjalanan.

Begitulah Bundaran Satam Belitung. Ia bukan hanya ikon visual, tetapi juga gerbang rasa—tempat di mana kesan pertama tentang Pulau Belitung tertanam kuat.

Singkat waktunya, namun cukup untuk membuat wisatawan yakin: Pulau Belitung memang layak dicintai. (Tras)

Pos terkait