Bupati Bangka Barat Diminta STOP KIP,  Merusak Mata Pencarian Nelayan se Kecamatan Simpang Teritip

Kapal Isap Produksi (KIP) beroperasi di Perairan Wailayah Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (ist)

BANGKABARAT, TRASBERITA.COM — Puluhan tahun masyarakat Desa Air Nyatoh Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggantungkan hidupnya dari  hasil tangkap laut.

Bahkan selama  ini sebagian besar masyarakat  telah mampu menafkahi dan memberikan kesejahteraan kepada anak cucu mereka.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi nasib berkata lain.  Akhir-akhir ini masyarakat Desa Air Nyatoh disuguhkan dengan kepiting-kepiting besi yang saat ini terparkir di wilayah Bembang.

Laporan warga mengungkapkan bahwa Kapal Isap Produksi (KIP) yang terparkir di wilayah Jebus tersebut diam-diam melakukan pengoperasian dimalam hari.

Parahnya lagi akivitas KIP ini telah membawa limbah sampai ke Perairan Simpang Teritip, sehingga telah membuat hasil tangkapan nelayan Desa Air Nyatoh dan sekitarnya berkurang drastis, bahkan seringkali zonk.

Kondisi ini mulai memantik gejolak di kalangan masyarakat perairan Desa Air Nyatoh sampai dengan perairan Rambat, yang mencakup empat perairan Simpang Teritip antara lain laut Desa Air Nyatoh, Laut Metibak Desa Peradong, Laut Tungau Desa Simpang Gong, dan Laut Rambat Desa Rambat.

Semua lokasi ini tercantum sebagai zona tangkap nelayan dalam Perda RZWP3K Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Situasi dan kondisi yang terjadi di Perairan Simpang Teritip tersebut seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi Bupati Bangka Barat Markus yang baru sepekan dilantik, apakah Bupati mampu mencegah pengoperasian KIP yang membawa banyak dampak negatf kewilayah tangkap nelayan.

Secara historis wilayah Perairan Simpang Teritip erat sekali dengan hasil kekayaan alamnya mulai dari produsen teri se Bangka Belitung, belacan, calok, wakwak cacing laut hingga ikan-ikan super dengan kualitas terbaiknya yang menjadi roda penggerak perekonomian warga.

Dengan adanya pengoperasian KIP yang membawa limbah tersebut telah membawa dampak kurangnya hasil tangkap nelayan.

Bahkan bila berkepanjangan akan membunuh mata pencaharian warga.

Stopppp!!! Kita harus menghilangkan budaya pertambangan oleh elit elit pengusaha yang hanya ingin mengambil uang dari sumber daya mineral yang ada.

Pastinya  tidak apple to apple kerusakan lingkungannya bagi masa depan anak cucu kita, puluhan bahkan ribuan tahun kedepan.

Gelombang penolakan aktivitas pertambangan akan tetap terus dilakukan secara konsisten oleh masyarakat dan pemuda 4 desa di Kecamatan Simpang Teritip.

Salah satunya Muhammad Dzuljalali Putra Daerah Desa Air Nyatoh yang mengecam keras adanya proses pertambangan dilakukan yang merusak kearifan lokal masyarakat di wilayah tangkap nelayan.

Jika Bupati Bangka Barat tidak merespon keresahan masyarakat ini, tidak menutup kemungkinan akan hadir konflik secara vertikal maupun horizontal yang melibatkan masyarakat didalamnya.

Untuk menghindari konflik jangka panjang yang terjadi penting untuk beberapa point ini dapat diindahkan.

1. Meminta pemerintah dan DPRD Provinsi Babel untuk mendesak pemberhentian aktivitas pertambangan yang berdapak pada wilayah tangkap nelayan

2. Meminta Polres Bangka Barat untuk dapat mentertibkan KIP yang beroperasi di wilayah Perairan Bembang yang berdampak pada wilayah tangkap nelayan

3. Meminta pihak yang melakukan pengoperasian KIP dapat mengkaji ulang terhadap dampak limbah pertambangan terhadap lingkungan sekitar sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan lingkungan Hidup sesuai dan Permen KLHK Nomor 18 Tahun 2021 tentang sertifikasi kompetensi analisis mengenai dampak lingkungan hidup, lembaga penyedia jasa penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup, dan uji kelayakan lingkungan hidup. (tras)
Penulis: Lalik
Sekum HMI Babel Raya, Putra Daerah Desa Air Nyatoh

Pos terkait