Bupati Bangka Barat Resmikan Desa Sadar Kerukunan Beragama

MENTOK, TRASBERITA.COM— Negara hari ini hadir hingga ke akar rumput. Dari Lapangan Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Jumat (19/12/2025), Bupati Bangka Barat Markus, S.H. secara resmi meresmikan Launching Desa Sadar Kerukunan Beragama, menandai tekad pemerintah daerah menjadikan kerukunan sebagai fondasi utama pembangunan sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

Peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan sikap politik dan moral pemerintah daerah bahwa Bangka Barat dibangun di atas persaudaraan, toleransi, dan kebinekaan yang dirawat secara sadar dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Dalam pidatonya, Bupati Markus menegaskan bahwa kerukunan bukan konsep abstrak, melainkan modal sosial paling berharga yang dimiliki Bangka Barat. Sebuah daerah yang sejak lama dikenal majemuk berbeda suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial namun mampu hidup berdampingan dalam harmoni.

“Keberagaman ini bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan yang harus kita jaga dan rawat bersama,” tegas Bupati Markus di hadapan masyarakat lintas iman yang memadati lapangan desa.

Dalam kerangka pembangunan daerah, Markus menempatkan kerukunan sebagai prasyarat mutlak terciptanya stabilitas dan kesejahteraan. Menurutnya, suasana yang kondusif, harmonis, dan damai akan membuka jalan bagi pembangunan yang lancar dan berkeadilan.

Kerukunan, kata dia, tidak hanya bernilai moral, tetapi telah menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkuat persatuan masyarakat Bangka Barat di tengah dinamika zaman.

“Tanpa kerukunan, pembangunan tidak akan pernah benar-benar sampai ke masyarakat,” ungkapnya.

Bupati Markus juga menegaskan bahwa menjaga kerukunan bukan tugas pemerintah semata. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat sepertitokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga lembaga kemasyarakatan untuk berperan aktif merawat kebinekaan.

Menurutnya, nilai toleransi dan persatuan harus terus diperkuat dalam bingkai kebangsaan agar tidak terkikis oleh perbedaan yang disalahartikan.

“Kerukunan harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam kata,” ujar Markus, menggarisbawahi pentingnya keterlibatan masyarakat secara langsung.

Dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Bupati Bangka Barat secara resmi menyatakan Launching Desa Sadar Kerukunan Desa Pelangas Tahun 2025. Penetapan ini menjadi simbol sekaligus amanah besar bagi Desa Pelangas untuk tampil sebagai contoh nyata kehidupan toleran di Bangka Barat.

Desa Pelangas kini diposisikan bukan sekadar sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai ruang hidup kebhinekaan tempat persaudaraan lintas iman bertumbuh secara alami dan dijaga bersama.

Pidato Bupati ditutup dengan ajakan reflektif agar nilai-nilai kerukunan tidak berhenti pada simbol dan program formal. Ia menegaskan bahwa kerukunan sejati harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Semangat kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong diyakini akan membawa Bangka Barat menjadi daerah yang semakin maju, aman, dan sejahtera.

Sebagai penguat pesan moral, Bupati Markus menyampaikan pantun yang menggambarkan denyut kerukunan masyarakat Bangka Barat:

Pergi ke pasar membeli kain sutra,
Jangan lupa singgah ke Simpang Teritip.
Walau berbeda keyakinan dan budaya,
Kerukunan dan toleransi harus terjaga.

Pantun itu menggema sederhana, namun sarat makna menjadi cermin filosofi hidup masyarakat Pelangas.

Di akhir pidatonya, Markus menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja maksimal menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap seluruh ikhtiar ini dicatat sebagai amal ibadah di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Launching Desa Sadar Kerukunan di Pelangas menjadi pesan kuat bahwa Bangka Barat tidak sekadar merawat harmoni, tetapi menjadikannya kebijakan publik dan identitas daerah. Dari desa kecil di Simpang Teritip, sebuah teladan besar dikirimkan bahwa Indonesia yang damai dibangun dari desa yang rukun. (Tras).

Pos terkait