Penulis: Sasmita
SUNGAILIAT, TRASBERITA.COM — Bupati Bangka membuka pertemuan orientasi pengkajian Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) untuk tenaga puskesmas yang diadakan Dinas Kesehatan Bangka bertempat di Hotel Novilla, Sungailiat, Senin (6/3/2023).
Bupati Bangka, Mulkan SH, MH dalam kata sambutannya mengatakan,S kematian balita merupakan salah satu indikator penting yang menunjukkan derajat kesehatan masyarakat.
Sehingga dilaksanakannya kegiatan ini juga untuk memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan kepada masyarakat guna mengetahui dan merasakan ilmu apa yang telah disampaikan para dokter dan bidan.
“Adalagi, kata Bupati Mulkan, angka kematian ibu dan anak harus menjadi perhatian karena angkanya saat ini cukup tinggi. Di samping itu, Kegiatan ini juga untuk melakukan pengkajian, manajemen terpadu untuk tenaga kesehatan yang tersebar di Kabupaten Bangka,” katanya.
Bupati Mulkan menjelaskan, hasil survei demografi dan kesehatan
(SDKI) tahun 2017 menunjukkan bahwa angka kematian balita di Indonesia masih cukup tinggi jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara, yaitu sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup.
Hasil evaluasi di Kabupaten Bangka tahun 2022 jumlah kematian neonatus 33 kasus, kematian bayi 11 kasus, balita 1 kasus. Sedangkan data tahun 2021, kematian neonatus 32 kasus, kematian bayi 11 kasus dan kematian balita tidak ada kasus.
Sementara, berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 tahun 2014 tentang upaya kesehatan anak menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Hal ini menyebabkan perlu dilakukan upaya kesehatan anak secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.
“Upaya kesehatan anak dilaksanakan sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 18 tahun. Salah satu tujuan upaya kesehatan anak adalah menjamin kelangsungan hidup anak melalui upaya menurunkan angka kematian bayi baru lahir, bayi dan balita,” katanya.
Dilanjutkan Bupati Mulkan, dalam rangka menurunkan angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKABA) di Indonesia, pemerintah menerapkan strategi manajemen terpadu bayi muda (MTBM) dan manajemen terpadu balita sakit (MTBS) dan mulai dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1997.
“MTBS mencakup upaya perbaikan manajemen penatalaksanaan terhadap penyakit, seperti pneumonia, diare, campak, malaria, infeksi telinga, malnutrisi serta upaya peningkatan pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit seperti imunisasi, pemberian vitamin K, vitamin A dan konseling pemberian asi dan makanan,” ungkap Mulkan.
Menurutnya, pelaksanaan MTBS dilakukan dengan cara menilai, membuat klasifikasi penyakit, menentukan tindakan /pengobatan atau tindak lanjut, dan konseling.
Karenanya, kegiatan ini memerlukan kemampuan menganalisa yang baik dari petugas yang melaksanakannya.
“Kemampuan menganalisa seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam diri seperti pengetahuan, sikap, motivasi, pendidikan, dan lama bekerja. Sehingga diperlukan peningkatan pengetahuan petugas tentang pelaksanaan MTBM-MTBS,” ujar Bupati Mulkan. (Tras)













