Laporan: Sinta Purnamasari
SIMPANGRIMBA, TRASBERITA.COM –– Di bawah terik matahari Desa Gudang, Simpang Rimba, langkah-langkah kecil tampak bergerak dengan semangat yang besar.
Tangan-tangan mungil menggenggam kotak donasi sederhana, sementara mata polos anak-anak TK Nurul Huda menatap setiap orang yang mereka temui.
Di usia yang belum sepenuhnya memahami makna bencana, mereka telah diajarkan satu hal penting yaitu peduli pada sesama.
Kamis (18/12/2025) menjadi hari yang berbeda bagi guru dan siswa-siswi TK Nurul Huda.
Bukan sekadar hari belajar biasa, melainkan momentum kemanusiaan. Bersama para guru dan orang tua wali, mereka menggelar aksi penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam di Sumatera.
Awalnya, kegiatan ini hanya direncanakan berlangsung di lingkungan sekolah. Namun niat tulus itu rupanya mengetuk hati warga sekitar.
Gerakan kecil tersebut menyebar, mengundang simpati, hingga akhirnya—atas saran warga dan izin Pemerintah Desa Gudang—aksi pengumpulan dana dilakukan di sekitar desa, termasuk di jalan desa.
“Awalnya donasi ini hanya untuk lingkungan TK saja, sebagai pembelajaran agar siswa kami memiliki rasa empati terhadap penderitaan saudara-saudaranya yang tertimpa musibah,” tutur Suarni, Kepala TK Nurul Huda, dengan nada lembut namun penuh makna.
Bagi Suarni dan para guru, kegiatan ini bukan sekadar soal angka rupiah.
Ini adalah ruang belajar nyata bahwa empati tidak diajarkan lewat buku, tetapi melalui tindakan.
Anak-anak belajar bahwa di luar sana, ada saudara-saudara yang sedang berjuang menghadapi musibah.
Hingga akhir kegiatan, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp1.557.000.
Jumlah yang mungkin terlihat sederhana, namun sarat dengan nilai kemanusiaan.
Bahkan, harapan masih menyala. Masih ada warga yang berniat menyumbang.
“Sepertinya dan semoga dana ini akan bertambah, karena masih ada yang mau menyumbang. Jadi besok setelah pembagian rapor, dana yang terkumpul akan kami transfer,” ujar Suarni.
Di tengah keceriaan anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya memahami arti kehilangan, terselip doa-doa tulus yang mereka panjatkan.
Doa agar saudara-saudara di Sumatera diberi kekuatan, dan agar bencana segera berlalu.
“Kami berharap usaha kecil ini dapat sedikit meringankan beban saudara kita di Sumatera. Semoga kita dan mereka terbebas dari bencana ini,” pungkas Suarni, didampingi dewan guru dan siswa-siswi yang berdiri rapi di sampingnya.
Aksi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa kepedulian tidak mengenal usia.
Dari sebuah taman kanak-kanak di Desa Gudang, nilai-nilai kemanusiaan ditanamkan sejak dini—mengalir perlahan, namun pasti, menuju masa depan yang lebih berempati.
Dan dari langkah-langkah kecil itu, harapan besar pun tumbuh, semoga semakin banyak hati yang tergerak untuk saling membantu, karena kemanusiaan selalu dimulai dari kepedulian. (Tras)













