Dari Desa untuk Budaya: Kolaborasi GESID Bangka Belitung Hidupkan “Titang Tue Doa Sekampung” di Bintet

 

BELINYU, TRASBERITA.COM — Di Desa Bintet, waktu seolah berjalan lebih pelan pada Minggu sore itu.

Bacaan Lainnya

Di bawah langit yang mulai meredup, suara doa mengalun pelan, bersahut dengan langkah-langkah warga yang datang dari berbagai penjuru.

Ada yang berjalan kaki, ada yang berboncengan, bahkan ada yang datang dari luar kecamatan, semuanya menuju satu titik yakni pagelaran budaya “Titang Tue Doa Sekampung”.

Bukan sekadar acara, melainkan peristiwa batin yang menyatukan banyak hal tradisi, harapan, dan rasa memiliki.

Sejak siang, Desa Bintet di Kecamatan Belinyu sudah terasa berbeda. Jalan-jalan desa lebih ramai dari biasanya.

Senyum-senyum hangat saling berbalas, seolah semua orang saling mengenal, meski tak semuanya benar-benar pernah bertemu.

Di panggung sederhana yang berdiri di tengah desa, para budayawan mulai bersiap, membawa serta warisan yang tak tertulis di buku, tapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Ketika acara dimulai, suasana berubah khidmat. Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk keselamatan, tapi juga untuk menjaga sesuatu yang lebih besar adalah identitas.

“Titang Tue Doa Sekampung” bukan hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi tentang merawat hubungan—antara manusia dengan budaya, antara generasi lama dengan yang muda, dan antara desa dengan masa depannya.

Di balik suksesnya pagelaran ini, ada kerja bersama yang tidak sederhana.

Pemerintah Desa Bintet, para budayawan, dan pemuda yang tergabung dalam GESID Bangka Belitung membangun ruang yang selama ini sering terasa hilang ruang untuk merasa memiliki budaya sendiri.

Ketua GESID Babel, Suwardian Ramadhan, melihat lebih dari sekadar kelancaran acara. Ia melihat bukti bahwa kolaborasi bukan sekadar wacana.

“Ketika masyarakat, pemerintah desa, dan pemuda bisa berjalan bersama, hasilnya terasa. Kegiatan seperti ini bukan hanya berjalan, tapi hidup,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa nyata di lapangan. Kehadiran berbagai unsur dari pemerintah desa, perwakilan kabupaten dan provinsi, hingga tokoh-tokoh nasional menjadi penanda bahwa budaya bukan lagi urusan pinggiran. Ia mulai kembali ke tengah.

Di sisi lain, sosok Beni Kim menjadi salah satu penggerak penting. Di bawah kepemimpinannya, desa tidak hanya menjadi ruang administratif, tetapi juga ruang kultural.

Dukungan penuh dari pemerintah desa membuka jalan bagi kegiatan seperti ini untuk tumbuh.

Tak kalah penting, ada peran Jahok, tokoh yang menjaga nyala tradisi agar tetap hidup. Lewat tangan dan gagasannya, “Titang Tue Doa Sekampung” bukan hanya dipertahankan, tetapi juga diperluas maknanya, menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dan lintas wilayah.

Namun, di balik keberhasilan itu, ada kesadaran yang tetap dijaga bahwa perjalanan belum selesai. Masih ada yang perlu diperbaiki, masih ada yang bisa disempurnakan.

Tapi justru di situlah letak kekuatannya, kesediaan untuk terus belajar dan bertumbuh.

Menjelang malam, ketika acara perlahan usai, yang tersisa bukan hanya panggung yang mulai sepi.

Ada rasa hangat yang tertinggal rasa kebersamaan yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan.

“Titang Tue Doa Sekampung” telah menjadi lebih dari sekadar pagelaran. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, ada hal-hal yang tidak boleh hilang. Bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dijaga bersama.

Dan di Desa Bintet, pada hari itu, harapan itu terasa nyata. (TRAS)

 

Pos terkait