Desa Guntung, Berawal Sering Terdengar Suara Tung Tung Tung dari Gentong

Oleh: Meilanto
Penulis, Pegiat Sejarah dan Sastra Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Ada lima versi tentang toponimi Guntung yang berhasil digali baik dari sumber lisan maupun sumber tertulis.

a. Asal mula Desa Guntung berawal dari cerita di sebuah daerah yang masyarakatnya memilki kentungan yang disebut sebagai gentong.

Bacaan Lainnya

Gentong itu diletakkan di balai pertemuan dan diyakini memiliki kekuatan gaib dan ditunggui oleh makhluk gaib yang kadang terlihat namun hanya oleh anak-anak.

Gentong itu tidak boleh dipukul kecuali pada saat darurat untuk mengumpulkan warga.

Apabila dipukul suaranya akan terdengar sampai ke pulau-pulau di sekitarnya.

Suara tung tung tung dari gentong ini yang membuat warga menamakan daerah ini sebagai Guntung, yang berasal dari kata “gentong” dan “tung” (Ibrahim dkk.,2013:123)

b. Menurut Abok Hamid (94 tahun/ wawancara pada 12 Maret 2020 pukul 13.30 di kediamannya Desa Guntung), penamaan ini berdasarkan cerita dari orang-orang terdahulu.

Saat itu kampung masih sepi dengan rumah yang belum begitu banyak dan jarak yang saling berjauhan satu sama lain.

Saat musim angin kencang, dari arah laut terdengar suara, gung…gung…gung…berkali-kali setiap ada hempasan ombak.

Setelah dicari-cari, ternyata suara tersebut bersumber dari suara sebuah drum yang tersangkut di akar-akar bakau yang berada di muara sungai.

Kemudian para tetua kampung mengadakan musyawah untuk memberikan nama kampung yang saat itu belum memiliki nama.

Maka dari suara drum yang terhempas obak tersebut lama-kelamaan berubah menjadi Guntung.

c. Menurut Mang Badarudin (52 tahun/ wawancara pada 12 Maret 2020 pukul 13.00 di TPU Guntung.) dulu ada seorang gadis cantik yang berasal dari kampung sebelah (Arung Dalam sekarang, dulu belum punya nama).

Kecantikan gadis tersebut menjadi incaran pemuda di kedua kampung yang saat itu belum memiliki nama.

Kedua pemuda yang memperebutkan cewek tersebut masing-masing memiliki ilmu kesaktian yang tinggi.

Maka untuk mendapatkan cewek, keduanya adu tarung di laut lepas selama tujuh hari tujuh malam.

Sebelum melakukan pertempuran, dibunyikan gong sebagai tanda dimulainya pertarungan memperebutkan sang gadis.

Gong yang dipukul mengeluarkan bunyi tung…tung…tung…Dalam pertempuran, keduanya meninggal dunia.

Satu pemuda dimakamkan di Guntung dan satunya lagi di Arung Dalam.

Maka atas kesepakatan para pemuka kampung diberilah nama kampung tersebut menjadi Guntung.

d. Versi lain disampaikan oleh Mang Rahman (49 tahun/ Wawancara pada 12 Maret 2020 pukul 12.50 di TPU Guntung) musim kemarau panjang melanda Pulau Bangka.

Untuk memenuhi kebutuhan air maka digalilah sumur.

Sumur yang digali pun sangat dalam. Sebagai tanda sang penggali sumur harus naik ke permukaan maka dipukullah gong yang berbunyi tung.

Dari nama Gong dan suara tung nama kampung dilekatkan.

e. Versi lain seperti yang ditulis oleh Dien Madjid dan kawan-kawan (2018:145) yang dikutip dari Carita Bangka disebutkan, pada pertengahan abad 17, di Pulau Bangka berkuasa beberapa pateh, yaitu di daerah jeruk seorang pateh bernama Raksakoening dan hulubalangnya yang terkenal bernama Huubalang Selangor, di daerah Menduk berkuasa seorang pateh bernama Ngincar, di daerah Depak berkuasa pateh bernama Gambir (Kembar) dengan empat orang hulubalangnya bernama Layang Sedap, Mengadun, Mengirat, dan Sekapucik, dan di daerah Cepurak berkuasa seorang pateh bernama Ngabehi dan terakhir seorang lagi pateh bernama Singa Pandjang Djongor yang berkuasa di Kuala Menduk, sekarang wilayah Kotakapur.

Pada pertengahan abad 17, disaat pulau Bangka dikuasai oleh lima orang pateh dengan beberapa orang hulubalangnya, pulau Bangka diserang oleh bajak laut pimpinan Raja Tidoeng (Raja Tidung).

Pasukan bajak laut dari Raja Tidung diduga berasal dari salah satu daerah dari empat muara sungai Berau yang bernama Muara Pantai, Muara Guntung,

Muara Garura dan Muara Tidung di Kalimantan Timur.

Bajak laut raja Tidoeng menyerang dan merampok pulau Bangka sehingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada penduduk.

Wilayah seperti Menduk, Depak, Cepurak dan kuala Menduk sangat jauh dari Guntung yang kita kenal saat ini yang berada di pesisir timur pulau Bangka.

Diduga, para bajak laut Raja Tidung terus bergerak dan kemungkinan sempat menetap di wilayah Guntung sekarang dengan sungainya yang bermuara ke Laut Cina Selatan sehingga tempat tersebut diberi nama Guntung sebagai salah satu tempat asal para bajak laut.

Atau kemungkinan lain diduga para bajak laut masuk ke sungai Guntung baru kemudian menyerang wilayah lainnya. (*/tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *