Oleh: Meilanto
Penulis, Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Cikal bakal Desa Kurau Barat menurut sejarah sudah ada sejak tahun 1910.
Keberadaan desa ini diawali oleh keluarga besar Atok Azmi.
Beliau adalah seorang penghulu sekaligus tokoh agama yang banyak menghabiskan waktunya untuk mengajarkan ilmu agama.
Selain itu, ada pula Atok Sayuti, Atok H Marwan dan Atok H Ibrahim yang menjadi penerus atau regenerasi dari Atok Azmi.
Dulu Desa Kurau jalan lama merupakan perkampungan yang disebut sebagai kampung Malaysia karena telah berkambang pesatnya ilmu agama.
Sementara nama Desa Kurau Barat berasal dari gemuruh ombak laut pada dulu kala yang penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional. ( Ibrahim dkk., 2013: 83).
Toponimi Desa Kurau Barat tak bisa lepas dari toponimi desa Kurau.
Mengutip tulisan Drs. Akhmad Elvian yang berjudul Distrik Kuba atau Koba (bagian tiga), yang mengutip tulisan H.M. Lange: Koerouw sebenarnya adalah nama spesies ikan tertentu, dan bahwa spesies ikan mungkin tidak berubah di sungai Koerouw pada tahun-tahun sebelumnya atau lebih sering (maksudnya sejak lama banyak terdapat jenis ikan Kurau di sungai).
Bahwa para nelayan menamakan aliran sungai ini dengan Koerouw untuk membedakan nama sungai Koerouw dengan sungai lainnya, sehingga akhirnya nama ikan di sungai telah beralih ke nama kampung yang ada di sana.
Ikan Kurau dengan nama ilmiah Eleutheronema tetradactylum, yaitu sejenis ikan laut yang tergolong ke dalam suku polynemidae, bentuknya mirip dengan ikan Senangin atau dalam dialek Melayu Bangka sering disebut dengan ikan Senangen. (Akhmad Elvian, Distrik Kuba atau Koba /bagian tiga)
Sedangkan kata “Barat” karena secara geografis, desa ini berada di sebelah barat Desa Kurau sebagai desa induknya.
Kurau Barat dalam Peta
Dalam peta yang berjudul Koerau (D D 30,21) tahun 1930, nampak jelas topografi yang saat ini menjadi wilayah Desa Kurau dan Kurau Barat.
Pemukiman penduduk Kurau Barat (saat itu) terbagi menjadi tiga bagian.
Bagian pertama yaitu dekat Air Munjang sekarang.
Di lokasi tersebut terdapat pemukiman penduduk yang rumah penduduk hanya berada di sisi kanan jalan menuju Koba.
Di sisi kirinya terdapat jalan setapak yang menuju ke laut.
Bagian yang kedua yaitu berada di bagian tengah dan pemukiman penduduk relatif panjang.
Pemukiman penduduk di sisi kanan jalan lebih panjang bila dibandingkan dengan sisi kiri jalan (menuju Koba).
Bagian ketiga yaitu pemukiman penduduk yang berada dekat dengan S. Koerau.
Pemukiman penduduk bagian ketiga ini sangat sedikit (kecil).
Di atas S. Koerau terdapat jembatan besi (ijzeren brug).
Kawasan Kurau Barat terdiri dari moeraspalmen (tanaman rawa-rawa), klapperboomen (kelapa), bosh (hutan), kreupelhout (semak belukar), dan drasland (lahan basah/ rawa-rawa).
Di sisi utara pemukiman pertama terdapat S. Moendjang dengan laagwaterlijn (maksudnya tanda air rendah/ bibir sungai yang rendah) di bagian kiri dan kanannya.
Jika kita perhatikan kondisi jalan raya Kurau Barat saat ini, ada perubahan yang signifikan.
Yaitu dengan dibuatnya jalan baru yang menghubungkan ke jembatan baru ke arah Desa Kurau.
Sementara itu jalan lama masih digunakan warga dan jalan tersebut berakhir di bibir sungai.
Saat ini jalan lama sangat padat penduduk. Jalan lama bermula dari dekat kantor Kepala Desa sampai ke pinggir sungai.
Jembatan yang menghubungkan kedua daratan (Kurau Barat dan Kurau pada masa itu) masih menggunakan jembatan kecil yang berada di sisi kiri jembatan saat ini (ke arah Koba).
Dibangunnya jembatan baru karena jembatan lama sudah tidak memadai lagi menampung kendaraan yang lewat.
Menurut Abok Basri, saat itu (sekitar 1970) jembatan di Kurau ada dua buah.
Jembatan lama dan jembatan baru.
Jembatan lama tidak terlalu tinggi sehingga menyulitkan bagi kapal-kapal nelayan yang melintas dibawahnya.
Jembatan baru dibangun agak tinggi dengan menembok pada kedua sisinya dan lebih lebar.
Saat jembatan baru sudah digunakan, jembatan lama ditabrak oleh batang-batang nipah yang hanyut dari hulu dan menyebabkan jembatan menjadi rusak.
Oleh karena itu, jembatan lama buatan Belanda tersebut dibongkar.
Kini tiang pancang jembatan lama masih bisa dilihat tidak jauh dari masjid Baiturrahim Desa Kurau.
Kurau Barat menjadi Desa
Kurau Barat naik status menjadi Desa definitf pada tahun 2003 yang sebelumnya menjadi dusun yang merupakan bagian dari Desa Kurau.
Dalam perjalanan roda pemerintahan, Kepala Desa dipimpin oleh pejabat sementara.
Desa Kurau Barat melaksanakan pertama kali pemilihan kepala desa dan dimenangkan oleh Asnain Bin Ali yang dilantik pada 12 Juni 2004.
Selanjutnya Kepala desa dipimpin oleh Matang dan kini dipimpin oleh Sandi. (*/tras)







