Digugat Perkara Warisan, Mantan Dewan Ini Berharap Keadilan

Pengadilan Agama Sungailiat menggelar sidang di tempat dengan agenda pemeriksaan objek perkara kasus harta warisan di Desa Kace Kecamatan Mendo Barat, Jumat (17/5/2024).

Editor: Ichsan Mokoginta Dasin

MENDO BARAT, TRASBERITA.COM — Sidang perkara warisan dengan tergugat Hj. Maini dan turut terugat H. Sukidi Tamis warga Desa Kace Kecamatan Mendo Barat masih terus bergulir.

Bacaan Lainnya

Pantauan Trasberita.com, Jumat (17/5/2024), Pengadilan Agama Sungailiat menggelar sidang di tempat.

Sidang dengan agenda pemeriksaan terhadap sejumlah objek sengketa dan terbuka untuk umum tersebut, dipimpin oleh Hakim Ketua Pengadilan Agama Sungailiat, T. Mufardisshadri, S. HI dan Hakim Anggota Ardhi Barkah Apandi, S.H, serta Panitera Aspin, S.H., M.H.

Dalam kesempatan itu, H. Sukidi yang merupakan suami dari Hj. Maini dan mantan Anggota DPRD Bangka dua priode ini, berharap agar hakim Pengadilan Agama yang menyidangkan perkara tersebut memberikan keputusan yang seadil-adilnya.

“Semoga perkara ini cepat selesai dengan keputusan yang seadil-adilnya dan berpihak kepada kebenaran sebagaimana fakta yang sebenarnya,” harap Sukidi.

Sengketa warisan dengan objek perkara terdiri dari sebidang tanah yang di atasnya terdapat bangunan rumah permanen terletak di Dusun I dan lahan kebun di wilayah Rakat Dusun IV Desa Kace tersebut, digugat oleh para penggugat yang tak lain adalah suadara kandung dan keponakan dari Hj. Maini (istri H. Sukidi).

Menurut pihak penggugat, bangunan berikut rumah terletak di Dusun I (rumah hunian keluarga H. Sukidi) serta lahan kebun di wilayah Rakat Dusun IV Desa Kace, dikuasai secara tidak sah oleh pihak tergugat.

Kasus yang mengemuka sejak tahun 2017 ini berawal setelah meninggalnya Hj. Dija yang tak lain adalah ibu dari pihak penggugat dan tergugat.

Sebelum meninggal dunia pada tahun 2016, Hj. Dija, sesuai Surat Keterangan Pembagian Harta Warisan tertanggal 5 November 1990 yang masing-masing ditandatangani oleh sembilan orang anaknya (pihak penggugat dan tergugat) mendapat pembagian warisan dari almarhum suaminya bernama H. Thoyib.

Dalam Surat Keterangan Pembagian Harta Warisan dengan saksi bernama H. Jamaludin dan Buhasan HB serta diketahui dan ditandatangani oleh Kades Kace Armada Sa’ok (almarhum) itu, Hj. Dija mendapatkan warisan berupa sebuah rumah di Dusun I Desa Kace, sebidang tanah di Rakat dan kebun karet di Air Palas.

Pada tahun 2000, tepatnya tanggal 18 Januari, masing-masing pihak yakni Hj. Dija dan sembilan orang anaknya sepakat menyerahkan rumah warisan Hj Dija dari almarhum suaminya tersebut kepada anaknya bernama Maini (tergugat).

Penyerahan rumah dengan sertifikat Nomor: 95 atas nama H. Thoyib sebagaimana tertuang dalam Surat Keterangan Ahli Waris itu, diketahui dan ditandatangani oleh Rusmin Yunus selaku Kades Kace dan Drs. A. Zainu Sulaiman selaku Camat Mendo Barat.

Kemudian pada tahun 2000, serah terima rumah di Dusun I Desa Kace ini, diperkuat dengan Akta Jual Beli Nomor: 02/MB/2000 tanggal 28 Agustus dari Hj. Dija selaku pihak pertama kepada anaknya Maini selaku pihak kedua.

Akta Jual Beli rumah seharga Rp 3.000.000 ini disetujui oleh salah seorang anak Hj. Dija yakni Suhaimi, dengan saksi masing-masing Sekdes Kace Dagol Acung, Kades Kace Rusmin Yunus dan Yanuar, SH selaku Camat Mendo Barat sekaligus sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Kemudian terhitung tanggal 1 Desember 2004, bangunan berikut rumah dengan sertifikat Nomor: 95 atas nama H. Thoyib, dilakukan penghapusan dan peralihan hak milik (sertifikat) atas nama Maini.

Sedangkan sebidang tanah milik Hj. Dija yang terletak di wilayah Rakat Dusun IV Desa Kace, seluas lebih kurang 2 hektar dijual dengan anaknya Maini (dilengkapi surat keterangan jual beli). Selain dijual kepada Maini, beberapa hektar dari tanah tersebut, juga dijual kepada anak Hj. Dija lainnya. Seluas kurang lebih 1,5 hektar yang dibeli oleh anak bungsu Hj. Dija bernama Suhaimi, dijual oleh Suhaimi kepada Maini (dilengkapi surat keterangan jual beli). Sementara bidang tanah yang dibeli oleh anak Hj Dija lainnya, sudah dijual kepada warga setempat.

Menurut Sukidi, lahan yang mereka kuasai melalui proses jual beli yang sah dari ibunya Hj. Dija dan adiknya Suhaimi yang terletak di Rakat dan rumah di Dusun I inilah yang digugat dan dijadikan objek sengketa oleh saudara ipar dan keponakannya.

“Rumah di Dusun I dan tanah di Rakat itu kami peroleh melalui jual beli yang sah. Proses jual belinya berlangsung saat orang tua kami (Hj. Dija) masih hidup. Jadi sebenarnya ini bukan perkara warisan karena saat itu orang tua kami masih hidup,” terang Sukidi.

Sementara itu, Sarbani mantan Kades Kace memberikan kesaksian bahwa, baik rumah maupun bidang tanah di Rakat yang saat ini dijadikan objek sengketa dalam perkara tersebut, dikuasai secara sah dan tidak melawan hukum oleh Maini dan Sukidi.

“Berdasarkan hukum negara rumah dan bidang tanah itu dikuasai secara sah dan tidak melawan hukum. Ini sebenarnya bukan perkara warisan. Karena pihak tergugat mendapatkannya dari jual beli yang sah dan dibeli langsung dari orang tua mereka yang saat itu masih hidup,” jelas Sarbani.
Dikatakan Sarbani, dokumen surat khususnya akta jual beli, sertifikat maupun keterangan waris, tentu tidak dibuat sembarangan, melainkan melalui prosedur yang benar dan dibuat oleh pejabat berwenang.

“Surat-surat tersebut tidak dibuat asal-asalan dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya,” imbuh Sarbani.

Keterangan senada juga disampaikan oleh Kades Kace Rusmin Yunus.

“Berdasarkan keabsahan surat-surat yang dimiliki oleh tergugat, sebenarnya kasus ini sudah selesai. Tapi bagaimana pun kita hormati proses pengadilan yang sedang berjalan. Kita tunggu keputusannya bagaimana. Apapun nanti keputusannya semoga kedua pihak bisa menerima,” ujar Rusmin.

Sementara itu pihak penggugat diwakili oleh Sunardi enggan memberikan tanggapan terkait perkara tersebut.

“Yang merekomendasi anda (meliput) perkara ini siapa,” tanya Sunardi dengan sikap kurang bersahabat.

Begitu juga ketika kembali hendak diwawancarai usai sidang, Sunardi menolak dengan alasan mau Jumatan.

 

Dijadikan Pertimbangan

Hakim Ketua yang menyidangkan perkara Nomor: 954/Pdt.G/2023/PA.Sglt, T. Mufardisshadri, S. HI menjawab Trasberita.com, sidang akan dilanjutkan Senin 27 Mei 2024 mendatang.

“Sidang kita lanjutkan 27 Mei dengan agenda kesimpulan dari pihak penggugat dan tergugat,” kata Mufardisshadri.

Setelah kesimpulan, lanjut Mufardisshadri, majelis hakim selanjutnya akan melakukan musyawarah sebelum membacakan amar putusan.

Ditanya sejauh mana status keberadaan barang bukti berupa surat-surat yang dimiliki oleh tergugat, menurut Mufardisshadri, surat-surat tersebut sangat penting dan menjadi bahan majelis hakim untuk merunut kepemilikan objek sengketa.

“Dari surat-surat yang jadi barang bukti ini, kita bisa lihat dan pelajari bagaimana tergugat dalam mendapatkan objek yang saat ini disengketakan tersebut. Didapatkan secara sah atau tidak. Jadi surat-surat ini juga jadi bahan pertimbangan kita nanti untuk memutuskan perkara ini,” jelasnya. (Tras)

Pos terkait