Guru Adalah Cahaya Masa Depan

Oleh: H Johan Muhammad Nasir, M.Pd

Kepala SMK Negeri 1 Pangkalpinang

Bacaan Lainnya

OPINI, TRASBERITA.COM — Rasanya hampir tidak ada manusia yang hidup dizaman ini tanpa binaan seorang guru, baik formil atau non formil, guru adalah cahaya masa depan, tanpa guru maka manusia akan menyandang predikat jahiliah.

Guru akan mengisi Rohani dan akal kita sementara orang tua yang mengisi jasmani kita, guru memang bukan orang hebat, tetapi tiada orang hebat didunia ini kalau bukan berkat jasa seorang guru, sungguh tiada kemanfaatan, tiada keberkahan, sebuah ilmu yang didapat jika gurunya tidak dimuliakan, tidak dihormati, kita bisa bangga menduduki berbagai jabatan tapi terkadang kita lupa diri, siapa yang telah menunjang kesuksesan kita, siapa yang telah menanamkan akhlaq mulia kepada kita, siapa yang membimbing kita dalam kegelapan hingga kita dalam kejayaan, siapa yang telah ikhlas mendidik kita dari kebodohan menjadi pemimpin, menjadi ahli segala sesuatu, walau dengan penghasilan yang minim, namun pengorbanan yang tak terhingga.

Dia adalah guru guru kita semua, mereka digelari pahlawan tapi tanpa tanda jasa, mereka hidup dalam keterbatasan, tapi demi sebuah pengabdian, semua mereka jalankan tanpa pamrih, ikhlas dalam mencetak generasi muda sampai akhir tugas mulianya

Semoga para guru guru kita diberi tercinta ini bisa mendapatkan penghormatan yang super sebagai mana disebutkan dalam sebuah kisah.

Sungguh sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya.

Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp. 31.875.000).

Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya.

Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak sumber daya manusia berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.

Kepemimpinan Islam dalam mencetak guru berkualitas tanpa ketergantungan pada asing yang justru merusak kemandirian bangsa telah tercatat dalam sejarah peradaban Islam. Suatu ketika Sulaiman bin Abdul Malik bersama pengawal dan anak-anaknya mendatangi Atha’ bin Abi Rabah untuk bertanya dan belajar sesuatu yang belum diketahui jawabannya.

Walau ulama dan guru ini fisiknya tak menarik dan miskin, tapi dia menjadi tinggi derajatnya karena ilmu yang dimiliki dan diajarkannya.

Di hadapan anak-anaknya ia memberi nasihat, “Wahai anak-anakku! Bertakwalah kepada Allah, dalamilah ilmu agama, demi Allah belum pernah aku mengalami posisi serendah ini, melainkan di hadapan hamba ini.

Hal Ini menunjukkan betapa terhormatnya guru atau orang yang berilmu. Sampai-sampai sekelas khalifah atau kepala negara masa itu harus mendatanginya untuk mendapatkan ilmu serta menasihati anak-anaknya untuk belajar dan menghormati guru.

Allah berfirman dalam Al Qur’an yang artinya: bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Bisa kita bayangkan seandainya semua guru guru kita ikhlas dalam melaksanakan tugasnya, amal amalnya ia tidak mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu, seperti pangkat, jabatan, atau kedudukan.

Guru yang ikhlas yakin setiap orang akan dinilai dari tanggung jawab terhadap amanah yang diembannya. guru yang ikhlas mereka, tidak ujub karena pangkat dan kedudukannya, dan tak rendah diri pula karena tak punya posisi dan jabatan yang tinggi.

Selalu konsisten berbuat baik dan memiliki perasaan nikmat dalam tugasnya mengemban amanah sungguh guru yang ikhlas akan sibuk beramal baik meskipun membutuhkan pengorbanan harta, pikiran, tenaga, bahkan nyawa sekali pun. Karena baginya, semua amal baik itu adalah investasi terbaik untuk kehidupan di akhirat kelak.

Allah berfirman yang artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Semoga guru guru kita semua bisa termasuk guru yang dikehendaki oleh Islam dan seluruh manusia.

Marilah kita bersama sama memohon kepada Allah azza wa jalla agar semua guru guru kita mendapatkan kemulia’an didunia dan diakhirat

Yaa Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami.

Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang.

Ya Allah yang maha bijaksana, berilah kedudukan yang baik didunia dan diakhirat bagi guru guru kami, Ampunilah, segala kesalahan mereka,lapangkankanlah hati mereka, luaskanlah Rizki mereka, berkahilah keluarga mereka, yaa Allah,

Jadikanlah ilmu ilmu yang kami dapati menjadi ilmu yang bermanfa’at didunia dan diakhirat (Aamiin). (

Pos terkait