Hutan Produksi Bemban 8 dan 11 Kembali Dibantai TI Illegal, Ada Nama Ko Coy dan Ita

Aktivitas tambang di lokasi kawasan Hutan Produksi (HP) Bemban 8 Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (15/4/2023). (JB/tras)

Penulis: Hendri II Editor: Bangdoi Ahada
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Kembali kawasan hutan produksi luluh lantak dibantai tambang inkonvensional (TI) illegal.

Kali ini, belasan hektar hutan produksi (HP) di Bemban 8 dan 11 Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah rusak parah dihantam alat berat dan mesin TI.

Bacaan Lainnya

Lubang camui berukuran besar dengan kedalaman lebih dari 10 meter menganga di Bemban 8 dan Bemban 11.

Sedangkan tumpukan tanah akibat aktivitas alat berat jenis excavator ditumpuk di pinggir-pinggir camui bagaikan benteng yang melindungi pandangan masyarakat terhadap aktivitas mesin TI di dalam camui.

Pantauan Tim Journalis Babel Bergerak (Jobber), Sabtu (15/4/2023) siang, terllihat beberapa mesin TI menderu, menguras air dari dalam camui.

Sedangkan sejumlah pekerja TI yang berada pada camp yang berjumlah sekitar 5 camp terlihat sedang berisitirahat.

Hanya beberapa orang saja terlihat sedang mengambil air dan melakukan pekerjaan di sekitar camp.

Jemuran baju para pekerja terlihat tergantung di sisi kiri dan kanan camp.

Tampak juga dua alat berat excavator warna orange sedang bekerja menggasak kawasan hutan prduksi tersebut.

Sedangkan dua alat berat lainnya terpakir di samping camp pekerja.

Kedua excavator yang berjarak ratusan meter antara excavator yang satu dengan lainnya tersebut seakan berlomba membongkar tanah, yang kemudian ditumpuk membentuk bukit-bukit kecil.

Menurut Acun, warga yang menjadi penujuk jalan Tim Jobber ke lokasi Bemban 8 dan 11 ini, aktivitas TI di dua lokasi tersebut sudah cukup lama beroperasi.

Hal itu juga terlihat dengan lubang-lubang camui yang dihasilkan dan luasan wilayah yang sudah rusak parah dibantai alat berat.

“Sudah lama Pak. Dan setahu sayu tidak tersentuh oleh aparat hukum. Di sini aman Pak, tidak ada yang berani menertibkan. Selain itu jauh dari Koba,” ujar Acun. yang mengaku sering melewati lokasi itu, karena kebunnya tidak jauh dari lokasi tambang Bemban 8 dan 11.

Acun sempat menanyakan tujuan Tim Jobber mencari lokasi tambang Bemban 8 dan Bemban 11.

Saat itu Tim Jobber beralasan mau memasukan alat berat ke lokasi Bemban 8 dan 11.

“Oh ini Pak lokasinya. Bisa lewat jalan sini, dan bisa langsung sampai ke lokasi” ujar Acun, sembari menunjukkan simpang menuju Bemban 8 dan 11.

Untuk menuju lokasi ini, harus melewati jalan di tengah-tengah kebun kepala sawit yang sudah berusia belasan tahun.

“Kalo pemilik tambang di sana itu adalah Ko Coy dan Ita. Merekalah Pak Bos tambangnya. Bapak mau ketemu mereka ok,” tanya Acun.

Sedangkan pemilik alat berat yang ikut berkontribusi menghancurkan kawasan hutan produksi Bemban 8 dan 11 tersebut, dikatakan Acun adalah Buyung.

“Kalo PC-PC tersebut, setahu kami di sini adalah punya Buyung Pak. Kalo Bapak mau masukan PC, bisa hubungi die Pak,” tukas Acun.

Dikatakan Acun, selama Ia sering lewat di kedua lokasi tersebut, belum pernah melihat aparat penegak hukum (APH) menertibkan aktivitas tambang di Bembang 8 dan 11.

Padahal jalan meenuju ke dua lokasi yang sudah porak poranda tersebut bisa dilalui mobil, meski jalannya tanah merah atau tanah puru.

Untuk memastikan apakah benar lokasi tambang ini adalah milik Ko Coy dan Ita, Tim Jobber mencoba mengkonfirmasi kedua orang yang disebut sebagai pemilik tambang illegal tersebut.

Konfirmasi yang disampaikan Tim Jobber pada Sabtu (15/4/2023) siang, tidak mendapat jawaban.

Hanya saja, pada Sabtu (15/4/2023) malam, seorang wanita mengaku bernama Ita menghubungi Tim Jobber.

Ia menjelaskan bahwa lokasi tambang di Bemban 8 tidak beroperasi.

 “Kalo yang di sana itu tidak beroperasi Pak. Kalo yang disebelahnya bukan punya saya,” ujar Ita.

Di lokasi yang disebutkan Ita ini, terlihat mesin TI sedang menguras air dari dalam camui.

Pernyataan wanita yang mengaku bernama Ita ini berbeda dengan warga lain yang ditemui Tim Jobber yang sedang memanen buah kelapa sawit.

Pekerja di kebun kelapa sawit yang berdampingan dengan lokasi tambang ini mengakui bahwa selama ini aktivitas TI di dua lokasi tersebut berjalan normal.

Sama halnya dengan Ko Coy dan Ita, penyuplai alat berat excavator Buyung juga belum memberikan tanggapan tekait kepemilikan PC yang telah menghancurkan hutan produksi Bemban 8 dan 11.

Dikonfirmasi beberapa kali sejak Sabtu (15/4/2023) siang hingga Minggu (15/4/2023) pagi, Buyung belum menjawab. (JB/tras)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *