Oleh: Adillah Zahra
PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM — Idaqu Calligraphy Center menggelar Talkshow Enak Seputar Seni (TESS) Kaligrafi Part II, Kamis (5/1/2023).
Tema yang diusung pada acara yang dilaksanakan di Markas Idaqu ini adalah “Inspirasi Metode Hamidi”.
Adapun pemateri pada acara talkshow kali ini antara lain Ustdzah Atii Qah binti Suhaimi Lc beserta rombongan yang berasal dari Singapura.
Dalam sambutannya Wakil Rektor III Institut Daarul Quran Ustdzah Rina Susanti Abidin Bahren, MA mengucapkan selamat dan berbahagialah kepada para peserta yang bisa mengikuti kegiatan TESS.
“Jangan sampai patah semangat ya,” pesan Ustadzah Rina.
Ia berharap di Institut Daarul Quran bisa melahirkan para kaligrafer, terlebih di era sekarang pembelajaran kaligrafi juga bisa online
“Maka tidak ada alasan untuk tidak belajar, tinggal memperkuat kegigihan dan kesabaran”, ujarnya.
Semetara itu Ustadz Alim Gema Alamsyah Lc selaku Kepala Bidang Idaqu Calligraphy Center menjelaskan bahwa selain di Indonesia, pembelajaran kaligrafi metode Hamidi telah tersebar di berbagai dunia seperti Malaysia, Thailand, Cina, Mesir, Korea, Jepang dan lainnya.
Terdapat komunitas Ahaly Hamidi yang terbentuk dari inisiatif para murid Syeikh Belaid, sebagai tempat untuk muri-murid berbagi ilmu kaligrafi metode Hamidi.
“Indonesia sendiri termasuk yang jumlahnya paling banyak. Selain itu kawasan ASEAN juga sangat banyak pergerakannya di bidang ini” , tegasnya.
Diakui Ustadzah Atii qah, sebelumnya Ia memang sudah berminat dengan kaligraf, tepatnya mulai di bangku SMP sudah mengenal kaligrafi di usia 14 tahun.
Ustadzah Atiiqah pernah berfikir bahwa kaligrafi hanya untuk mereka yang mahir saja.
Hal yang membuat Ia ingin belajar kaligrafi ketika masuk ke ruangan Markaz kelas Ustad Nasrullah saat melihat handam (pena) berupa potongan kayu .
“Ternyata kayu tersebut digunakan untuk menulis,” ujarnya.
Ustadzah Atiiqah juga melihat ada hal yang unik lainnya seperti ada hitungan matematikanya, ada sudut dan cara ketika menulis.
Karena keunikan dan rasa penasaran mulailah Ustadzah Atiiqah belajar Khot Riq’ah sejak 2011 dengan Ustad Nasrullah yang merupakan kaligrafer pertama Singapura yang belajar langsung dngan Syeikh Belaid.
Selanjutnya sejak 2014. Ustadzah Atiiqah belajar Kaligrafi langsung dengan Syeikh Belaid ketika kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo.
Selama belajar Kaligrafi di Mesir, Ustadzah Atiiqah berfikir bahwa hal ini tidak Ia dapatkan ketika di Singapura.
Maka Ia menyampaikan niatnya utuk belajar kaligrafi kepada Syeikh Belaid.
Untuk menchallange dirinya ustadzah Atii qah mengajak teman nya, Ustadzah Amira sebagai murid pertama.
Ustadzah Atii qah adalah pengajar kaligrafi di Bustan Khat Singapore dan Qoria’ah Internasional.
Ia menegaskan bahwa belajar kaligrafi tidak memandang usia, buktinya murid-murid nya banyak yang sudah berkeluarga dan bekerja.
Namun hal ini tidak menurunkan semangat mereka untuk belajar.
Ustadzah Amirah selaku teman sekaligus murid pertama Ustadzah Atiiqah menyatakan bahwa dalam metode hamidi semuanya bisa menulis.
Ustadzah Amira menyebutkan bahwa sebelum memulai pembelajaran Ustadzah Atii qah memperlihatkan lauhahnya untuk memberikan semangat kepadanya.
Awalnya Ustadzah Amirah merasa kurang paham, namun berkat kesabaran Ustadzah Atii qah membuat nya semakin semangat untuk belajar.
Hal pertama yang Ustadzah Atii qah rasakan setelah belajar kaligrafi metode hamidi menjadi lebih teliti mulai dari hal-hal yang kecil.
Kedua menurutnya, terdapat keterkaitan ilmu kaligrafi dengan ilmu naghom yakni memecahkan yang tidak bersuara menjadi bersuara.
Sehingga menjadi lebih detail dan berhati-hati dalam pembelajarannya.
Sebenarnya ilmu ini bisa dipelajari semua orang asalkan terdapat kemauan dan kesungguhan dalam belajar. (tras)














