Penulis: Bangdoi Ahada
BABEL, TRASBERITA.COM — Di balik dinamika politik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, nama Imam Wahyudi SIP MH bukanlah sosok asing.
Ia tumbuh dan ditempa di ruang-ruang kerja partai yang sunyi dari sorotan, namun menentukan arah kemenangan.
Kader PDI Perjuangan ini dikenal sebagai figur organisatoris yang tenang, konsisten, dan berorientasi hasil.
Perjalanan politik Ustadz Imam, begitu Ia akrab disapa, tidaklah dibangun secara instan.
Ia pernah memegang peran strategis sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD PDI Perjuangan Bangka Belitung, posisi yang menuntut ketelitian membaca peta politik, kecermatan mengelola mesin partai, serta kemampuan mengonsolidasikan kader hingga ke akar rumput.
Pada fase ini, Bang IW — sebutan para kader PDIP– dikenal sebagai arsitek kerja pemenangan yang lebih mengedepankan disiplin organisasi dan soliditas kader ketimbang retorika.
Kiprah alumni Gontor ini kemudian berlanjut ke lembaga legislatif.
Saat ini, Imam Wahyudi dipercaya sebagai Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, komisi yang membidangi persoalan strategis seperti pertambangan (ESDM), Bappeda, DLHK, PUPR, dan dinas perhubungan.
Di ruang ini, Imam menempatkan dirinya bukan sekadar legislator, melainkan pengawas kebijakan publik yang menekankan prinsip keadilan, kepastian hukum, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Rekam jejak panjang di struktur partai dan parlemen akhirnya mengantarkan Imam Wahyudi pada amanah baru.
Pada periode kepengurusan 2025–2030, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Posisi ini menempatkannya sebagai simpul penggerak organisasu, penjaga ritme kerja partai, penghubung antara keputusan politik dan pelaksanaan di lapangan, serta penguat konsolidasi ideologis kader.
Bagi Imam Wahyudi, politik bukan semata tentang jabatan, melainkan tentang kerja berkelanjutan.
Dari mengatur strategi pemenangan, menyusun arah kebijakan, hingga memastikan roda organisasi partai berjalan tertib dan solid, ia menjelma sebagai kader yang memahami politik sebagai alat pengabdian.
Di tengah tantangan pembangunan dan dinamika sosial Bangka Belitung, sosok Imam Wahyudi merepresentasikan wajah kader PDI Perjuangan yang bekerja dalam senyap, namun meninggalkan jejak nyata di partai, di parlemen, dan di ruang-ruang kepentingan publik lainnya. (Tras)














