Kampong Merapen Bagaikan Hilang Ditelan Bumi, Sempat Muncul di Peta Belanda Tahun 1852-1855

Penulis : Kulul Sari

SIMPANGRIMBA, TRASBERITA.COM –Nama Kampung Merapen yang berada di Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan terdengar sangat asing di telinga masyarakat  sekitar.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, kampong ini, selain memang tidak ditemukan, juga tidak tertera di peta saat ini. Pada tahun 1970 hingga 1980 Kampong Merapen masih dikenal dan cukup familiar. Pada awal tahun 1970an, masih tersisa penduduk yang mendiami Kampung Merapen ini.

Kampong Merapen terletak diantara dua desa yaitu  Jelutung II dan Desa Ranggung, tepatnya sekitar 1 km sebelah timur Desa Jelutung II.

Bekas-bekas perkampungan Merapen, hingga sekarang masih  ada. Pohon durian masih berdiri tegak, dan usianya sudah mencapai seratus lebih tahun.

“Sekitar tahun 1968 itu masih ada rumah penduduknya. Bahkan seingat saya masih ada tersisa 9 bubung rumah yang masih di diami saat itu”, jelas Ibnu Kasir (57), tokoh masyarakat Desa Jelutung II, Jum’at (1/7/2022).

Menurut Ibnu Kasir, Posisi Kampong Merapen, letaknya lebih ke arah Rampong Ranggung. Bekas perkampungan Merapen saat ini ditandai dengan adanya  pohon durian, kabung, rambai usang milik penduduk Merapen saat itu.

Kampong Merapen jaraknya cukup panjang, bila dibandingkan dengan kampong-kampong lain saat itu. Bekas perkampungan Merapen, selain ditandai dengan adanya tanam tumbuh yang merupakan tanaman penduduk saat itu, ada juga yang bisa dijumpai yakni  pondasi Surau.

“Pondasi suraunya saat ini masih ada dan masih berdiri. Tinggi pondasinya sekitar sepinggang. Saat ini posisi pondasi Surau ini sekitar 50 meter dari jalan raya, dan tidak jauh dari aliran sungai. Di sekitar pondasi ini masih berdiri pohon durian, pohon Kabung dan pohon Rambai usang”, jelas Ibnu Kasir.

Kampong Merapen, menurut Ibnu Kasir terbagi dua yaitu Kampong Merapen Usang dan Kampong Merapen.

Di Kampong Merapen Usang ada komplek pemakaman dan disinilah penduduknya yang meninggal dunia dimakamkan. Pemakaman ini disebut bukit Sapon. Penduduk terakhir yang mendiami Kampong Merapen, menurut Ibnu Kasir pada tahun 1974. Karena setelah itu penduduknya, selain pindah tempat untuk berkebun dan berume, juga pindah ke Kampong Ranggung dan Kampong Jelutung II.

Penduduk Merapen Usang banyak pindah ke Kampong Ranggung, sedangkan penduduk kampong Merapen banyak yang pindah ke Jelutung II. Ibnu Kasir bahkan masih ingat dengan  beberapa nama dari penduduk Kampong Merapen yang terakhir sebelum pindah ke kampung Ranggung dan Kampong Jelutung II.

” Ada beberapa orang yang masih saya ingat, antara lain Jungki, Sera’i, Tukung (Bakri), Jahari, Marhadi, Ahmad, Idham. Abok Cut, Nek Syari’ah. Dan penghulunya saat itu abok kami bernama Ahmad, lurahnya saat itu bernama  Abok Mol, kemudian beliau diganti oleh Wo Ibet”, kata Ibnu Kasir.

Berdasarkan peta tahun 1882-1855, menurut Pamong Budaya Bangka Belitung, Ali Usman,  kata Merapen tertulis Merapin, “Berdasarkan peta tersebut, pada tahun yang tertera itu Merapen atau Merapin sudah ada penduduknya atau penghuninya, artinya tempat itu sudah menjadi perkampungan”, jelasnya.

Nama Kampong Merapin ini, menurut Ali, selain muncul pada peta tahun 1882-1885, juga muncul ditahun 1898, 1925, 1932-1935. Tahun-tahun itu merupakan peta Belanda.

“Pada peta tahun 1955, Merapen penduduknya masih ada. Sedangkan Pada peta tahun 1986, pada peta hanya berupa titik saja walau nama kampongnya masih ada. Ini menandakan bahwa penduduk Kampong Merapen itu tidak ada lagi”, kata Ali Usman. (Tras).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *