Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Sebelum Desa Kayu Besi dibentuk, banyak pendatang yang menghuni kawasan ini.
Sebelah barat kawasan disebut Jiuhin.
Jiuhin dihuni pertama kali oleh orang yang bermarga NG yang bernama NG LO TUNG.
Berasal dari daerah Merawang dan merupakan etnis Tionghoa.
Sebelah selatan daerah disebut Pangkul/Pangkol.
Pangkul dihuni pertama kali oleh orang bermarga SUN yang bernama SUN SIU HO.
Berasal dari daerah Rebo (Sungailiat) yang juga beretnis Tionghoa.
Setelah beberapa tahun berlalu para pendatang pun bertambah, baik dari etnis Melayu maupun Flores.
Jiuhin dan Pangkul merupakan daerah pertambangan yang para ahlinya berasal dari Tiongkok yang bekerja sebagai kuli kontrak (Singkek).
Pertambangan pertama berada di Parit V (saat ini masuk wilayah Bukit Kijang), masyarakat Kayu Besi menyebutnya dengan Cia Yu Kong Si namun ada pula yang menyebutnya Lo Ka Jiu.
Setelah banyak pendatang menetap di Jiuhin dan Pangkul maka terbentuklah sebuah dusun yang dulu masih menyatu dengan Desa Cambai, dusun tersebut disebut Dusun Kayu Besi.
Antara perbatasan Dusun Kayu Besi dan Desa Air Mesu tumbuhlah sebatang pohon yang sangat keras (Thiat Su) bernama kayu besi yang terletak di tepi aliran sungai bukit Kerengge. (Ibrahim dkk 2013, 57)
Menurut Mochhasan (mantan Kepala desa Kayu Besi, wawancara tanggal 28 Juli 2019), nama kayu besi diambil dari nama kayu yang banyak tumbuh di wilayah desa ini.
Kayu dengan bahasa latin Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn juga dikenal dengan nama kayu ulin atau kayu bulin.
SD Tua
Kayu Besi merupakan desa dengan mayoritas penduduknya Tionghoa.
Warga Tionghoa yang tinggal di daerah ini mayoritas keturunan para pekerja tambang timah sejak zaman Belanda.
Mengingat Kayu Besi merupakan kawasan tambang timah yang telah dikeruk timahnya sejak lama.
Hal ini diperkuat dengan peta-peta tua yang memuat topografi desa ini.
Terlihat jelas tambang timah baik yang sudah tidak produktif lagi maupun yang masih produktif.
Pendidikan merupakan kebutuhan primer tidak dikesampingkan oleh para pekerja timah.
Disaat tambang timah sudah tidak digali, mereka tetap menjadi penduduk Kayu Besi.
Lambat laun mereka menikah dan beranak pinak.
Keberadaan dunia pendidikan menjadi hal yang mendesak.
Maka dari itu dibangunlah sebuah sekolah bernama Sekolah dasar Zhong Hua Yu Xing Xue Xiao / 中華與興學校 / Sekolah Tionghoa Juhin ) ejaan pinyin pada tahun 1947.
Selanjutnya nama tersebut diswastakan menjadi sekolah dasar PARTIKULIR pada tahun 1962 sampai dengan tahun 1972.
Sekolah Partikulir merupakan sekolah untuk anak-anak pribumi pada masa Hindia Belanda.
Dari SD Partikulir, SD itupun berganti nama menjadi SD Swasta Multatuli sampai tahun 1984 dan menjadi sekolah dasar negeri nomor 397 Kayu Besi.
Seiring dengan pemekaran wilayah, penamaan sekolah juga berganti.
SD Negeri 397 Kayu Besi berubah menjadi SD Negeri 23 Pangkalanbaru dan sekarang menajdi SD Negeri 6 Namang.
Status lahan sekolah tersebut merupakan tanah desa dan tercatat sebagai tanah inventaris Desa Kayu Besi.
Menurut Pak Mochhasan (mantan kepala Desa Kayu Besi dan tokoh agama Konghucu serta alumni SD tersebut) di pintu gerbang sekolah tersebut terdapat tulisan “Sekolah dasar Zhong Hua Yu Xing Xue Xiao”.
Bangunannya sangat sederhana. Berdindingkan papan dengan lantai semen biasa.
Kini alumni dari SD tersebut sudah tersebar dimana-mana.
Tercatat dr. Ase Ardianto, Bahar Buhasan merupakan nama-nama orang sukses yang dulu pernah mengeyam pendidikan di sekolah tersebut.
Berdasarkan Surat Pernyataan Pengakuan Hak Atas Tanah yang dibuat pada tanggal 4 Maret 2006 diketahui batas-batas lahan sekolah tersebut. Sebelah utara berbatasan dengan Yunita;
Sebelah selatan berbatasan dengan Lapangan Basket;
Sebelah timur berbatasan dengan Jalan penduduk;
Sebelah barat berbatasan dengan Liong Sin Ming dengan luas lahan 1.880 m2.
Surat ini ditanda tangani oleh Zainal Abidin selaku Kepala SD Negeri 23 Pangkalanbaru, Heng Lun selaku Kepala Desa Kayu besi dan Syamsul Bachri, SH., MM. selaku Camat Pangkalanbaru.
Kolong Bekas Tambang Timah
Memperhatikan peta dengan judul Djeloetoeng (Author/ creator L.H.Q. Cartograpic Company Australian Survey Corps, yang diterbitkan tahun 1946 dengan kode peta D D 33,23 terlihat dengan jelas topografi Kayu Besi.
Terlihat dengan jelas tujuh disused tin mine (bekas tambang timah).
Pekerja tambang timah yang didatangkan Belanda dari daratan Tiongkok pada abad ke-18 tersebar di beberapa daerah di Bangka.
Salah satunya di Kayu Besi. Mereka tinggal tidak jauh dari tambang-tambang yang dibuat oleh Belanda, membentuk komunitas baru.
Salah satu kolong yang masih bisa dijumpai adalah kolong yang berada di depan SD Negeri 6 Namang.
Menurut Pak Mochhasan, kakeknya Boen Bu Chen pernah menjadi kepala parit di kawasan Kayu Besi.
Secara adminitrasi pada awalnya Kayu Besi menjadi sebuah dusun dengan induk pemerintahan berada di Desa Cambai Jelutung.
Kemudian naik status menjadi Desa Kayu Besi.
Adapun Kepala Desa Kayu Besi sebagai berikut :
1. Raman
2. Rustam Efendi
3. Mochhasan (1995-2003)
4. Hen Lung
5. Yohanes Tamaela. (*/tras)













