Oleh : Dato’ Haji Sarnubi
BANGKA, TRASBERITA.COM — Ketika menyusun sampiran pantun maka nama kayu gelam sering digunakan.
Kayu gelam ini ada 2 jenis, pertama gelam merah, karena kulitnya berwarna merah, kedua gelam putih karena kulitnya berwarna putih.
Kayu Gelam biasa tumbuh di dataran rendah dan sering digunakan untuk junjung sahang.
Pada kayu gelam yang besar dapat menghasilkan kulit kayu yang cukup tebal dan dapat digunakan untuk atap pondok atau dinding memarong.
Ketika acara launching kampong adat gebong memarong di Aek Abik beberapa hari yang lali, mereka menggunakan kulit gelam sebagai dinding toilet/wc di bagian belakang memarong.
Sungguh unik dan menarik. Tentu tidak semua pengunjung tahu hal ini.
Kayu gelam putih mirip dengan kayu putih yang menghasilkan minyak kayu putih.
Bedanya cuma pada daunnya.
Kayu gelam yang lurus dipakai juga untuk piranti memarong/pundok kebun.
Sungguh alam telah menyediakan beberapa kebutuhan primer manusia dalam menjaga kelangsungan hidup dan keturunannya.
Ketika banyak rawa dataran rendah dijadikan kebun sawit oleh pihak korporasi, maka begitu banyak flora n fauna yang punah, sungguh tragis. (tras)













