Keliru Menyimpulkan Menutup Tutupi Berita Sama Dengan Menutup Tutupi Pidana

Penulis : Milando

TOBOALI, TRASBERITA.COM — Adanya penambang yang meninggal dunia di Laut Sukadamai, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan (Basel) saat sedang melakukan aktivitas penambangan laut yang sering disebut Ti selam akhir akhir ini heboh diberitakan dan diperbincangkan.

Bacaan Lainnya

Suasana makin heboh tatkala ada salahsatu narasumber yang menyampaikan pendapatnya tentang kejadian tersebut.Terutama tentang kebijakan dan keselamatan kerja TI tersebut.

Setidaknya ada tujuh poin yang menjadi tuntutan narasumber tersebut dalam pendapatnya.Mulai dari siapa yang melakukan aktivitas tersebut hingga berita yang ditutup tutupi tak luput jadi tuntutan narasumber.

Atas nama pribadi, saya Andrean Saut Sihardo sebagai salahsatu wartawan media lokal akan mencoba memberikan argumen tentang apa yang telah menjadi tuntutan si narasumber tersebut.

” Ada tujuh poin yang disampaikan oleh narasumber yang dimuat dalam beberapa media dan juga media sosial pribadinya.Namun yang akan saya kritisi ialah poin nomor tujuh dimana menyebutkan menutup tutupi berita ini (kejadian meninggalnya penambang-red) sama halnya dengan menutup tutupi kejadian bencana, ” katanya.

Penulis menyampaikan, apa dasar tuntutan tersebut dan kemana arah tuntutan tersebut.Jika menutup tutupi berita sama halnya dengan menutup tutupi tindak pidana itu merupakan analogi yang keliru.

” Narasumber bukan ahli pers atau tokoh pers senior.Jadi bukan bidangnya untuk mencampuri ranah pers.Beda halnya jika hanya memberikan saran kepada pers, ” katanya.

Penulis yang sudah dinyatakan kompeten sebagai wartawan muda ini juga menambahkan, darimana dasarnya wartawan bisa dikatakan menutup nutupi berita.Barangkali memang belum tahu kejadiannya atau mungkin belum mendapatkan keterangan dari pihak yang berwenang memberi keterangan.

” Kemudian, wartawan juga tidak bisa menutup tutupi berita apabila ada instruksi dari atasan medianya memuat berita tersebut.Sama hal seperti saya yang dimintai berita kejadian tersebut oleh pimpinan redaksi saya, ” katanya.

Katakanlah, lanjutnya jika memang ada wartawan yang telah mengetahui kejadian tersebut namun tidak memberitakan kejadian tersebut tidak mesti dibilang menutup nutupi pidana.

” Saya pribadi sebenarnya tidak mau membuat berita tersebut, hal itu saya lakukan karena saya punya empati kepada keluarga yang ditinggal korban.Tidak langsung memberitakan sesuatu yang menyebabkan nyawa seseorang hilang sama seperti menyampaikan ucapan turut berduka cita kepada keluarga korban yang sedang berduka, ” katanya.

Dikatakannya, banyak faktor yang menjadi penyebab wartawan mau atau tidak membuat suatu berita.Belum lagi banyak tehnik menulis berita yang tentunya berbeda beda dari masing masing wartawan.

” Ambil contoh ada wartawan yang secara gamblang menulis nama korban yang sudah dewasa atau menulis nama jelas pelaku tindak pidana tertentu.Ada pula yang hanya menulis inisial namanya saja.Keduanya benar dan mempunyai alasan yang berbeda, satunya agar pembaca tidak menerka nerka satunya lagi agar menjaga nama baik korban, pelaku atau mungkin keluarganya, ” katanya.

Terakhir penulis mengutip sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari yakni ‘ Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah kehancuran itu.(tras).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *