Kisah Abok Subuh, dari Mulut Suami Istri Ini Keluar Api yang Menyala

Penulis : Mang Kulul

SIMPANG RIMBA, TRASBERITA.COM, — Menyaksikan peristiwa yang sangat menakjubkan dan misterius ini, tentara Dai Nippon tidak bisa berkata kata, kecuali rasa heran, kagum dan terselip juga rasa takut.

Bacaan Lainnya

“Bagaimana tuan, apakah tuan tuan percaya ? Ikan dari laut saja bisa saya takkukkan, apalagi orang-orang yang mau berbuat jahat di tempat saya”, ujar Abok Subuh dengan wajah yang mulai serius dan sedikit membentak.

Sedikit menciut nyali para tentara Nippon itu mendengar kata kata kakek yang seakan akan ditujukan kepada mereka.

Tiada kata-kata yang mampu diutarakan, karena dihati mereka telah diselimuti rasa sedikit takut,

” Apakah ikannya sudah cukup tuan? “, tanya Abok Subuh kepada tentara Nippon dengan wajah tanpa senyuman. Perkataan kakek ini cukup mengagetkan mereka yang terhanyut dalam pikiran masing-masing.

“eee.. cu.. cukuplah bok”, jawab salah seorang diantara mereka dengan perasaan gundah dan gugup

Tentara Nippon tiada berani lagi banyak bicara. Bahkan tubuh mereka mulai mengeluarkan keringat. Rasa khawatir mulai memasuki hati masing-masing,

Abok Subuh langsung memberikan hasil tangkapan ikan yang masih segar itu kepada istrinya.

Kemudian nenek segera memasak ikan tangkapan Abok Subuh dengan racikan yang telah ia siapkan, dan tak lupa menambah serbuk ceraken secukupnya yang diambil dari buah yang sudah masak.

Beberapa saat kemudian, lempah kuning masakan si nenekpun mendidih yang menimbulkan aroma yang menggoda selera.

Aroma lempah kuning masakan si nenek, begitu menggoda selera, hingga menusuk ke kerongkongan. Nampak kelima serdadu Nippon itu menelan air liur dan langsung perut mereka memberontak minta diisi.

“Sebentar lagi kalian akan rasakan lempah kuning campur ceraken”, gumam nenek senyum sendiri,

Setelah bener-benar matang, nenek segera menghidangkan masakan itu. Lima pasang mata tidak berkedip melihat hidangan yang telah siap untuk disantap,

Tanpa di persilahkan, kelima tentara Nippon itu menyerbu lempah kuning masakan si nenek. Dengan rakus mereka memakan ikan jadi-jadian hasil tangkapan Abok Subuh.

Walau ada rasa ragu di hati para serdadu Nippon, namun rasa lapar dan godaan lempah kuning masakan khas si nenek tidak mampu mereka tolak.

Sembari menyantap hidangan lempah kuning bumbu ceraken masakan si nenek, Dalam hati mereka tetap timbul tanda tanya ,
Apakah ikan hasil tangkapan sang kakek yang di masak benar-benar ikan ? ataukah bukan, namun saat mencicipi ikan itu, rasanya sama persis seperti ikan pada umumnya. Bahkan begitu enak, apalagi dimakan sa’at perut benar-benar menuntut untuk diisi.

Hanya butuh waktu belasan menit, nasi dan lauk-pauk yang terhidang ludes tanpa meninggalkan sisa. Yang tersisa hanya tulang tulang ikan yang berserakan.

Mereka makan benar-benar lahap dan kekenyangan. Saking kenyangnya berkeringat dan terbaring telentang dengan perut yang padat.

Setelah makan, Abok Subuh dan istrinya langsung minum air kerak sisa dari masak nasi, yang sengaja nenek siapkan sebagai penangkal agar tidak sakit perut setelah makan.
Selanjutnya Kedua orang tua itu hanya duduk duduk saja menunggu reaksi dari ceraken yang mereka jadikan bumbu. Mereka membiarkan serdadu Nippon berbaring seenaknya di lantai.

Kebiasaan kala itu, setelah makan nasi, lebih nikmat dilanjutkan memakan sirih untuk menghilangkan rasa anyir setelah makan ikan.

Demikian juga Abok Subuh dan istri. Keduanya meracik Sirih untuk dimakan. Namun mereka kehabisan daun sirih. Sebagai gantinya, Nenek memetik daun lebar yang tumbuh liar dihalaman pondok. Daunnya mirip daun sirih.

Begitu juga saat mau mengambil gambir, gambirnya juga sudah habis, sebagai gantinya, kakek dan nenek gunakan bongkahan besi yang dihancurkan dengan menggunakan tangan kosong dengan cara digerus.

Apa yang dilakukan oleh kakek dan nenek ini tidak luput dari perhatian kelima tentara Nippon.

Mereka sangat terkejut ketika melihat kakek dan nenek meremas bongkahan besi dihancurkan dengan mudah, bahkan dijadikan sebagai makanan campuran untuk sirih. Saking terkejutnya, mereka langsung merubah posisi mereka, bila sebelumnya baring, langsung duduk.

Kedua suami istri itu seakan-akan pura pura tidak tahu dengan reaksi tentara Nippon kepada keduanya. Bahkan dengan santai keduanya menawarkan makan Sirih kepada kelima tentara Nippon,

“Mari tuan tuan kita makan Sirih bersama”, ajak kakek,

Mendengar ajakan itu, kelimanya saling melemparkan pandangan. Mereka tidak berani bersuara,

” Maaf bok, kami tidak pernah makan Sirih. Kami sangat berterima kasih abok dan nek sudah menghidangkan makan yang begitu enak”, ujar salah seorang diantara mereka setelah sunyi sesaat.

Abok Subuh sengaja memakan sirih di depan kelima serdadu Nippon. Hal yang sama juga dilakukan oleh si nenek.

Si nenek tidak kalah dahsyatnya, setelah melipat lipat daun sirih, kedua manusia sakti ini memasukkan sirih buatan mereka ke mulut dan mengunyahnya.

Setelah merasa lunak dan hancur, kemudian mereka hembuskan nafasnya seperti orang yang lagi kepedasan makan cabe.

Tiba-tiba kelima tentara Nippon membelalakkan mata mereka, karena saat kakek dan nenek menghembuskan nafas, dari mulut keduanya keluar api yang membara. Mereka langsung melompat berdiri walaupun tidak kabur. Hal ini cukup menggetarkan dan menakutkan kelimanya.

Tubuh mereka gemeteran, dan keringatpun bercucuran. Gerak gerik kelima serdadu Nippon ini tidak luput dari perhatian abok Subuh dan nenek. Namun kedua orang tua sakti ini pura-pura tidak tahu dan bersikap biasa biasa saja. Dan justru sikap kedua suami istri ini yang membuat kelima tentara Nippon ini semakin ketakutan.

Abok Subuh mengarahkan pandangannya ke arah lima serdadu Nippon itu, kemudian pura-pura bertanya,
“Tuan-tuan, hari sudah beranjak siang, matahari hampir diatas. Apakah saya harus memanggil penduduk agar berkumpul disini”, tanya Abok Subuh, sembari memperlihatkan kesaktiannya menyemburkan hawa api dari mulutnya.

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, kelima serdadu Nippon saling berpandangan. Selanjutnya komandan mereka menjawab,

” Maafkan kami Bok, kami berterima kasih kepada Abok dan nenek sudah dikasih makan disini, sepertinya kami harus pamit saja”, tiba-tiba komandan tentara Nippon berkata tanpa basa-basi dan penuh rasa takut dan mohon segera pamit,

Abok Subuh tersenyum mendengar perkataan tentara Nippon itu.

Belum sempat melanjutkan kata berikutnya tiba-tiba saja dua orang diantara mereka merasakan perutnya mulas-mulas dan mau buang hajat. Keduanya pun pamit dan turun dengan tergesa-gesa, selanjutnya berlari menuju hutan yang tidak jauh dari pondok Abok Subuh.

Tidak begitu lama dua temannya juga menyusul.mereka merasakan hal yang sama sebagaimana yang dirasakan oleh kedua teman mereka sebelumya.

Beberapa saat kemudian sang komandan pun berpamitan untuk buang hajat.

Melihat mereka lari lari kehutan, kakek dan nenek saling berpandangan, setelah itu kedua orang tua ini tertawa terbahak bahak hingga mengeluarkan air mata.

Kelima serdadu Nippon itu merasa yakin itu akibat terlalu banyak makan, juga karena ulah abok Subuh.

Kelima serdadu Nippon itu bertemu dalam suatu tempat. Mereka takut dan tidak kembali lagi ke pondok Abok Subuh.

Akhirnya mereka sepakat untuk pergi tanpa pamit dengan kedua orang tua sakti itu. Bila kembali ke pondok Abok Subuh, mereka takut dan khawatir akan terjadi sesuatu pada mereka. Rasa takut mereka sangat berlebihan, sehingga mereka tersesat dan tidak tahu jalan pulang.

Setelah peristiwa itu, tidak pernah lagi serdadu Nippon datang ke kampung kecil, yang disebut dengan kampung gudang itu. Kampong itu cukup aman dalam masa yang cukup lama. (Tamat/tras)

*Kisah ini sebagaimana yang diceritakan oleh Hardin As (64) pada hari Rabu (15/6/2022)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *