Penulis: Ma’ruf
BANGKA, TRASBERITA.COM – Ahmad Kosasih (38) pemuda asal Desa Paya Benua Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, terlihat penuh semangat dan tidak canggung menekuni profesi sebagai petani di kebun cabe miliknya.
Tampangnya yang agak pemalu ditingkahi dengan senyum simpul yang khas. Tata bicaranya pelan, dengan bidang tubuh kekar, tampak urat menyembul dari kulit tangannya yang menandakan dia seorang pekerja keras, ulet dan pantang menyerah.
Selepas menjadi guru, Kosasih memutuskan untuk menjadi petani cabe saat usianya tergolong masih muda, dia berkeyakinan pekerjaan tersebut sesungguhnya sangat menjanjikan keuntungan untuk menata masa depan hidupnya.
Sebelumnya, Ia sempat menjadi tenaga guru honorer dan telah mengajar selama 12 tahun di sekolah menengah pertama sampai tingkatan SMA.
Walaupun terkadang dipandang sebelah mata karena profesi petani identik dengan pekerjaan kotor dan profesi rendahan oleh para pemuda dan kaum sarjana, sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja kantoran yang lebih menjanjikan.
Namun, Kosasih berhasil mematahkan stigma tersebut dengan membuktikan bahwa dari hasil kebun cabe itu, dia bisa meraup keuntungan hingga puluhan juta setiap kali panen, dan tentunya hasil tersebut mengalahkan pekerja kantoran.
Alumnus IAIN Syekh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung ini mengakui, awal mula menjadi seorang petani cabe iseng dan ikut-ikutan petani lain di kampungnya yang sudah berhasil.
Kosasih mengatakan, dirinya memutuskan alih profesi sebagai petani cabe dimula sejak 12 tahun silam, tepatnya tahun 2013 yang saat itu usianya baru menginjak 28 tahun.
Dia mengenang saat itu, dengan bersusah payah membuka lahan kebunnya dengan dibantu saudara maupun orangtuanya yang juga berprofesi sebagai petani
“Saat itu, pertama kali saya punya kebun cabe sebanyak 500 batang,” ungkapnya kepada TRASBERITA.COM.
Mantan Aktivis HMI ini menjelaskan, sekarang dia memiliki sekitar 2000 batang tanaman cabe dengan luas lahan 0.5 hektar.
Jika kondisi pertumbuhan tanaman cabe yang bagus dan cuaca yang mendukung maka panen yang akan didapat sekitar 1 – 1.5 ton untuk setiap kali tanam.
” Dengan kondisi harga sekarang ini, rata-rata dibeli sekitar 60 ribu rupiah sekilo maka bisa dapat penghasilan kotor sekitar 60 juta untuk satu periode tanam dengan rentang waktu tanam sampai panen 5-10 bulan ” terangnya.
Lanjutnya, pendapatan kotor akan dipotong dengan biaya pupuk dan obat-obatan, maka penghasilan bersih petani cabe dapat mencapai 40 juta rupiah untuk setiap kali periode tanam.
Untuk lebih memaksimalkan hasil dan pendapatan, Kosasih sudah merencanakan untuk memanfaatkan luas lahan yang tersisa dan akan menanam cabe lebih banyak lagi.
” Sekitar 6000 batang akan kita tanam untuk tahap selanjutnya khusus cabe rawit Bangka” pungkas Kosasih sambil tersenyum sumringah.
Kosasih juga mempersilahkan siapa saja yang ingin bertandang ke kebunnya untuk sekedar melihat, ikut panen maupun ingin bersama belajar dan berbagi pengalaman dalam usaha tani menanam cabe. (*/tras)












