Kisah Tambang Timah dan Cin Pendek, Begini Ceritanya…!

Buruh atau pekerja tambang timah di zaman Belanda. (dok: national geografik)

Oleh : Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Menurut Mang Sumar yang pernah diceritakan oleh ayahnya, Kampung Lempuyang dan sekitarnya kaya akan kandungan biji timah (walaupun dalam peta Belanda tidak ditemukan bekas tambang timah).

Sejak zaman kolonial Belanda tambang timah sudah dibuka.

Bacaan Lainnya

Daerah penambangan timah terdekat dengan Lempuyang adalah Pangkol dan Cambai.

Tambang-tambang timah zaman Belanda juga mendatangkan kuli dari Cina.

Mereka sengaja didatangkan dari Cina untuk meningkatkan hasil produksi timah.

Mereka dikontrak sebagai tenaga kuli dalam kurun waktu tertentu.

Salah satu pekerja tambang timah yang didatangkan adalah seorang cina dengan postur tubuh pendek.

Konon ceritanya, orang cina pendek ini membangkang perintah Belanda sehingga iapun kabur dari tambang timah.

Saat pekerja tambang timah habis masa kontraknya, mereka bebas bekerja dan ada lagi yang kembali ke negerinya, Cina dengan postur tubuh pendek ini kehilangan jejak dengan rekan-rekannya sehingga tidak mengetahui rekan-rekannya telah habis masa kontrak dan sebagian kembali ke negeri asalnya.

Lama-kelamaan cina pendek ini menyatu dengan roh makhluk halus yang dikenal dengan istilah ngeniwe yaitu makhluk yang berwujud manusia tapi mempunyai roh yang telah menyatu dengan alam gaib.

Menurut orang-orang tua, cina pendek ini sering menampakkan diri di seputaran Lempuyang dan padang keraduduk Desa Belilik.

Oleh masyarakat setempat, cina pendek ini dinamakan cen pandek.

Orang-orang tua berpesan kepada anak-anaknya atau bahkan orang dewasa saat musim buah keraduduk tiba, kalau mencari buah keraduduk jangan sendiri tapi harus berdua, bertiga dan seterusnya.

Kisah cen pandek selalu menjadi momok yang menakutkan bagi siapa saja yang sering ke padang keraduduk desa Belilik arah ke Lempuyang.

Cerita berbeda dari Mang Sasiun.

Cen Pandek bermula dari rombongan orang-orang cina yang hendak belapun babi di hutan sekitar Lempuyang.

Jumlah rombongan mereka yang genap menjadi alasan sehingga salah satu anggota rombongan tersebut disembunyik antu dan anggota yang disembunyik antu tersebut telah ngeniwe menyatu dengan makhluk alam ghoib.

Penyelundupan Timah

Monopoli penambangan timah yang dilakukan oleh VOC dan tidak diperhatikannya kesejahteraan para pekerja, membuat penyelundupan timah pun terjadi.

Mereka diupah dengan uang yang dibuat dari timah dan mata uang tersebut hanya berlaku didalam wilayah yang kecil.

Para pekerja pun tergiur untuk menjual timah secara illegal.

Para pekerja timah juga pernah melakukan mogok kerja sehingga produksi timah menunrun.

Sering kali mereka menyembunyikan timah dalam kampil-kampil (karung) dan ditenggelamkan di muara pandan (bagian hilir sungai Lempuyang).

Menurut Mang Sumar, di muara pandan tersebut masih banyak kandungan timah yang disembunyikan para pekerja.

Sambil menunggu kedatangan para semungkel, (bahasa Inggris = Smugglers) timah-timah dalam kampil ditenggelamkan.

Beberapa waktu menunggu semungkel datang dan kemudian timah-timah dalam kampil diselam kembali.

Kapal-kapal yang membawa timah lepas jangkar di suak-suak atau dermaga-dermaga kecil dan selanjutnya dibawa ke negara tujuan Singapura.

Sekitar tahun 2000-an dimuara pandan masih bisa dilihat kayu-kayu yang dipancang sebagai suak-suak atau dermaga kecil.

Mengutip dari Sutedjo bahwa saat itu dikenal ada dua jalur pelayaran penyelundupan timah.

Pertama jalur timur. Di jalur ini para penyelundup biasanya menggunakan kapal motor ukuran 10-20 ton dengan mengarungi laut bebas Cina Selatan, Pulau Tinggi, Tanjung Pangeran, Malaysia, Pasir panjang, terus ke Singapura.

Kedua jalur barat. Di jalur ini, para penyelundup memanfaatkan pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau yang jumlahnya ribuan.

Karena itu cara pengangkutan dan rutenya amat bervariasi.

Pada jalur barat umumnya menggunakan kapal motor ukuran lebih kecil sekitar 4-8 ton.

Biasanya rute yang ditempuh adalah pulau Dendun, Pulau Kepala Jernih, Pulau Pelampung terus ke Singapura.

Kemungkinan lain atau alternative kedua adalah dari Bangka, Pulau Kerakas, Pulau Geranting, Pulau Buluh, sampai ke singapura.

Alternative ketiga adalah dari Bangka, Pulaui Tolok, Pulau Buluh, Pulau Pucung sampai ke Singapura.

Alternative keempat adalah dari Bangka, Pulau Labun, Pulau Geranting, Pulau Buluh sampai ke Singapura.

Kemungkinan kelima adalah dari Bangka, Lingga Selatan, melalui selat Riau terus ke Singapura.

Dan alternative keenam dari Bangka, Pulau Pejantan, Pulau Jemaja, Pulau Liam sampai Singapura.

Jaringan perdagangan timah illegal ini didukung oleh banyak pihak.

Mulai dari pedagang Cina, Inggris, Arab, Melayu, Bugis, Buton serta bajak laut pun memegang andil dalam kegiatan illegal ini.

Para pemilik modal membeli langsung timah dari para penambang di wilayah timur perairan Bangka yang sepi dari patroli Belanda.

Muara pandan sangat terkenal sebagai sarangnya buaya. Konon, buaya di muara pandan dipawangi oleh Nek Rosi dengan parong yang sangat besar mencapai enam keping papan.

Beberapa tahun belakangan saat tambang timah mulai marak, masyarakat Belilik dan sekitanya juga membuka tambang timah di daerah desa Belilik arah pesisir timur.

Para pekerja pernah menemukan pecahan keramik dan guci dengan permukaan yang kasar.

Pecahan keramik dan guci tersebut merupakan produk lokal yang dibuat atau bisa jadi diajarkan para pekerja dari Cina kepada penduduk setempat. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *