Krisis Karakter Anak Bangsa, Bagaimana Peran Kita?
Penulis: Yasa Putri SP
Kepala KBIT Al-Mansyur
OPINI, TRASBERITA.COM — Miris, sejauh ini di era globalisasi dan di era digitalisasi sudah sangat terlihat semakin krisisnya karakter anak bangsa.
Inilah fenomena yang terjadi saat ini, baik dikalangan anak-anak maupun remaja hingga dewasa, yang terjadi hingga sekarang ini.
Tentu, pendidikan karakter amat penting bagi anak-anak, remaja hingga dewasa.
Kita tahu, kondisi kehidupan moral kaum remaja hingga dewasa semakin mencemaskan, terutama berkaitan dengan meluasnya perilaku penyimpangan-penyimpangan dan berbagai macam isu moral yang mewarnai negeri ini, seperti yang terjadi saat ini kasus perpajakan, tipikor yang terendus dan terlihat semakin membudaya dikalangan oknum pemimpin.
Penyimpangan moral diperlihatkan dengan banyaknya oknum pemimpin yang tidak amanah menjalankan tugasnya, maraknya pengedar dan penggunaan narkoba, penculikan, pembunuhan yang dilakukan oleh seorang remaja dibawah umur terhadap seorang anak, bullying, tak acuh pada sopan santun dan lain sebagainya.
Lantas, apa yang harus kita perbuat sebagai tokoh masyarakat, pemimpin bangsa, pendidik, orang tua dalam mengatasi krisis karakter yang semakin merajalela?
Apakah kita hanya menjadi penonton dan pendengar yang baik, tanpa ada aksi? Bahkan itupun tidak cukup untuk menyuarakan aspirasi.
Salah satunya adalah dengan penguatan pendidikan karakter, moral dan akhlak (agama) bagi anak bangsa sejak dini.
Jadi rasanya jelas, mengapa kini banyak orang menginginkan agar sekolah makin peduli pada pendidikan karakter.
Itu karena, pendidikan karakter membuat kita semua punya alasan kuat untuk tetap memiliki harapan dan sikap optimis, bahwa masyarakat yang lebih baik akan terwujud dikemudian hari.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional.
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan ahlak mulia.
Amanat Undang-Undang ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai luhur karakter bangsa.
Penguatan karakter atau akhlak dapat dilakukan melalui pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan informal.
Prinsip yang perlu diperhatikan pendidikan karakter yang utuh disekolah yaitu memberikan contoh yang baik, memperbaiki perilaku yang buruk, hormat dan saling memperhatikan satu sama lain, membuat aturan untuk membantu pengembangan moral, menjadikan kelas sebagai tempat yang baik untuk berkembang dan belajar, mengajarkan berbagai keterampilan, bekerjasama, meningkatkan sifat empati dan menciptakan budaya moral serta melibatkan orang tua siswa dalam pendidikan karakter.
Penguatan pendidikan karakter juga dapat dilakukan dengan mengevaluasi pendidikan agama yang kuat seperti pembiasaan akhlak Qur’ani, mandiri, terampil dan kreatif serta berkarakter moral (iman, taqwa, jujur, rendah hati).
Ki Hajar Dewantara menjelaskan budipekerti atau watak yaitu bulatnya jiwa manusia yang dalam bahasa asing disebut karakter.
Sebagai jiwa yang berasas hukum kebatinan. Orang yang sudah mempunyai kecerdasan budi pekerti senantiasa memikirkan dan merasakan serta memakai ukuran, timbangan dan dasar yang pasti dan tetap.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan karakter dapat ditempuh dengan sistem trisentra yaitu 3 tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang pertama alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda.
Oleh sebab itu, pusat keluarga adalah pusat pendidikan pertama dan terpenting dalam pembentukan budipekerti setiap orang.
Bukan hanya guru saja tapi orang tua pun berpartisipasi dalam pendidikan anak mereka.
Bahkan pendidikan karakter yang sesungguhnya bukan di mulai dari seseorang masuk dibangku sekolah melainkan sudah ada sejak dari keluarga.
Nah, Bagaimana peran keluarga dalam pembentukan karakter yang baik bagi anak?
Dalam syair arab, “Al Ummu Madrasatul Ula, Iza adadtaha adadta syaban thayyibal araq.” Maksudnya, “ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya.
Jika engkau mempersiapkannya, maka sama halnya engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.”
Dan tentunya dalam sebuah keluarga sangat penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak.
Seperti halnya sebuah ungkapan bahwa anak adalah peniru yang ulung. Ungkapan ini sangat benar.
Seorang anak akan mampu melihat, mengamati dan empraktikkan kembali sesuatu yang ia lihat, ia dan ia dengar, jadi tak heran, yang ia lihat dan yang ia dengarkan dikemudian hari ia praktikkan.
Dalam keluarga, orang tua berperan penting dalam memberikan keteladanan yang baik seperti, tata cara ketika melewati orang yang lebih tua, tata cara berbicara yang sopan dan santun, serta pembiasaan-pembiasaan yang baik yang dianggap kecilpun yang dicontohkan oleh orang tua mampu memberikan pengaruh (effect) bagi anak.
Ketika seorang anak sudah terbiasa melaksanakan hal-hal kecil yang merupakan hal baik maka akan mudah bagi anak tersebut untuk mencontohnya, pun sebaliknya jika di lingkungan anak tidak mendukung, maka hal-hal yang tidak baikpun ia ikuti.
Penulis ambil contoh, dibulan Ramadhan ini, tentunya kita banyak melaksanakan berbagai macam ibadah, salah satunya berpuasa.
Puasa merupakan kewajiban bagi kaum muslimin, ibadah puasa diperintahkan Allah SWT melalui Surah Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
” Dari ayat diatas, kemungkinan besar kita tidak menjelaskan secara gamblang seperti apa yang dikatakan diatas, namun dengan memberikan contoh yang baik maka seorang anak akan mampu mengikuti hal yang kita contohkan.
Penulis membayangkan alangkahkah majunya negeri ini kalau lebih banyak orang tua bersikap seperti pendidik atau guru, dan lebih banyak guru bersikap seperti orang tua.
Beberapa hal yang ingin penulis sampaikan bahwa yang pertama adalah pendidikan masa kini, memiliki dampak terbesar pada seseorang, investasi pendidikan yang baik diawal jenjang murid yaitu di golden age period dari umur 0-5 tahun, itu yang berdampak paling besar terhadap masa depan anak.
Sekolah merupakan tempat dimana pendidikan karakter anak dimulai, dan yang terpenting karena pendidiksan karakter dan kemampuan kognitif tidak bisa dipisahkan.
Kalau anak dibentuk dengan disiplin yang baik, dengan etika yang baik, dengan moralitas yang baik dengan kemampuan berkerukunan dengan sesama murid, dengan guru dengan sesama dewasa, anak bisa mempelajari semua hal dimasa depannya dan dapat membentuk karakter anak yang bermoral.
Satu hal yang penulis tekankan pendidikan karakter bagi anak itu penting karena pendidikan karakter adalah tanggung jawab kita semua, tanggungjawab orangtua, tanggung jawab guru, tanggung jawab murid dan tanggung jawab masyarakat serta tanggung jawab pemerintah.
Terakhir yang sangat penting yaitu mau tidak mau pendidik harus menciptakan ekosistem atau situasi dimana anak bisa berkembang secara holistik bukan hanya kognitif, tetapi berkarakter, bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, bukan hanya belajar sendiri tetapi belajar mandiri dan berkolaborasi, bukan hanya baca buku tetapi tempat untuk berkembang dan bermain.
Sehingga harapan kedepan dapat mencetak generasi terbaik dan dapat meminimalisir terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial yang saat ini marak terjadi. (*/tras)







