Oleh : Dato’Akhmad Elvian,DPMP, Sejarawan dan Budayawan Penerima Abugerah Kebudayaan Indonesia*)
Selama berada di Pesanggrahan Mentok, silih berganti Bung Karno bertemu dengan tamu yang datang berkunjung. Di antara pengunjung yang diterima oleh para tahanan itu setiap harinya, misalnya orang-orang dari Kebaktian Rakjat Indonesia Bangka (KRIB) dan Seni (Serikat Nasional Indonesia), dari kelompok Islam GII, dari sekolah-sekolah, dan dari kelompok-kelompok perempuan.
Arus tamu lokal yang datang berkunjung termasuk Dr. Liem Tjae Le, pemimpin Sarekat Kaum Buruh (SKB), Konsul Tiongkok Tao Hsiao Wan dan Konsul Jenderal dari Batavia Tsiang Chia Tung (yang meminta tanpa hasil kepada Sukarno untuk berdiri menentang serangan-serangan orang Republik terhadap orang Tionghoa di Jawa) (Heidhues, 2008:204).
Tokoh Seni (Serikat Nasional Indonesia), dari kelompok Islam GII, dari sekolah-sekolah, dan dari kelompok-kelompok perempuan yang dimaksud adalah Tokoh dari Sungailiat, Ishak Lazim (ketua SENI dan GII di Sungailiat) dan 6 orang lainnya dari Kaum Wanita menemui Drs. Muhammad Hatta untuk menyampaikan undangan kunjungan ke Sungailiat dan memberi hadiah berupa kain Sumatra. Atas saran dari Ketua Bangkaraad, Masyarif Datok Bendahara Lelo untuk menunda pertemuan dengan Bung Hatta karena jadwal beliau sudah penuh. Lantas mereka berbicara dengan kepala pemerintahan di Mentok dan Sungailiat untuk mengatur kehadiran Drs. Muhammad Hatta di Sungailiat.
Rencana kunjungan para pemimpin Republik Indonesia ke beberapa kota di Pulau Bangka terlaksana pada tanggal 1-2 Februari 1949. Rombongan terdiri Drs. Muhammad Hatta, Mr. Asaat, Mr. Muhammad Rum dan didampingi Kemas Zainal Abidin dan AM. Yusuf Rasidi.
Abang Zulkarnaen fotografer dari Mentok merekam perjalanan dan di mulai kunjungan ke Belinyu. Ada beberapa tempat yang dikunjungi, yakni Masjid, pusat pembangkit listrik Mantung, rumah Kepala Pemerintahan Belinyu atau Bestuurhoofd dan komplek kantor BTW Belinyu. Saat berada di rumah dinas Kepala Pemerintahan Belinyu atau Bestuurhoofd, 100 orang Belinyu telah berkumpul di halaman, berusaha berjabat tangan dengan para pemimpin Republik Indonesia dan berteriak dengan lantang “Merdeka”. Setelah kepergian rombongan Bung Hatta, suasana Belinyu kembali tenang, namun muncul kebanggaan di masyarakat Belinyu telah bertemu langsung dan berjabat tangan dengan para pemimpin Republik Indonesia.
Perjalanan dilanjutkan menuju Sungailiat dan sampai pada pukul 3 sore. Mereka berhenti di sebuah masjid dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju rumah kepala pemerintah Sungailiat. Ada 100 orang Sungailiat yang menyambut kedatangan para pemimpin Republik Indonesia dengan meneriakkan pekik “Merdeka” dan berjabat tangan.
Kemas Zainal Abidin membangkitkan semangat di kalangan masyarakat Sungailiat dengan memimpin salam “Merdeka” secara lantang dan keras. Setelah makan malam, mereka kembali ke Masjid untuk melaksanakan sholat bersama-sama masyarakat Sungailiat yang berduyun-duyun datang ke Masjid.
Pada pukul 21.30 WIB rombongan menuju Pangkalpinang untuk istirahat dan bermalam. Kunjungan ke Sungailiat juga dilakukan oleh Ir Sukarno, AG. Pringgodigdo dan Suwanto (Wakil Kapolri yang datang bersama rombongan UNCI) pada tanggal 29 Maret 1949. Kunjungan ke Sungailiat, dilakukan ke rumah Jusuf Saad Alfirdausi (seorang guru Sekolah Arab), rumah Kepala Pemerintahan Sungailiat dan ke Masjid.
Depan rumah Jusuf Saad Al Firdausi yang sudah dipasang gerbang kehormatan yang dihiasi bunga merah dan di atas gerbang terdapat tulisan huruf besar ”M”.
Dalam rumah terpasang bendera merah putih berukuran 1 x 0,80 meter dan lukisan potret Sukarno. Ada 800 orang yang menyambut kehadiran rombongan Sukarno dan menyapa dengan pekik Merdeka. Bung Karno naik panggung untuk menyampaikan pidato singkat.
Selepas itu mereka menuju rumah kepala pemerintahan Sungailiat dan masjid. Penghulu Abu Bakar (salah satu pengurus Serikat Kaum Buruh) memberikan sambutan ungkapan syukur kepada Allah SWT dapat bertemu langsung dengan Sukarno yang dipanggilnya Bapak Yang Mulia. Sukarno membalas sambutan dengan menyebut sebelum matahari terbit pada tahun 1950, kemerdekaan Indonesia akan tercapai.
Ketika kembali ke rumah Jusuf Saad Al Firdausi, orang-orang yang menunggu menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diiringi korps musik MUSI. Dalam kesempatan ini Ishak Lazim memberikan kenangan-kenangan kepada Sukarno berupa batu mulia. (*)



