Legenda Batu Kijang, Dahulunya Sering Terlihat Sepasang Kijang Berbulu Keemasan di Dekat Batu

Batu Kijang. (ist)

Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Berdasarkan tulisan dalam buku Bangka Tengah dalam Harmoni Kata yang ditulis oleh Ibrahim dkk, di halaman 58 disebutkan “Batu Kijang sendiri berasal dari nama sebuah batu yang disembah oleh orang-orang keturunan Tionghoa pada zaman dahulu untuk meminta berbagai keberuntungan karena bentuk batunya menyerupai Kijang.

Batu Kijang terletak di kawasan Parit V (Parit Lima) yang merupakan daerah tambang sejak zaman Belanda.

Bacaan Lainnya

Batu yang menyerupai kijang tersebut telah hilang sejak dibukanya tambang timah di kawasan itu.”

Dari tulisan tersebut, penulis berasumsi bahwa Batu Kijang adalah batu yang menyerupai Kijang yang sedang duduk atau berdiri.

Batu tersebut telah hilang karena lokasi batu telah dibuka tambang timah.

Sayang sekali rasanya batu apabila batu tersebut telah hilang atau rusak.

Rasa penasaran terus menggelayut sehingga penulis berusaha untuk menghubungi tokoh pemuda Desa Bukit Kijang, yakni Yudandri.

Setelah tiba ke lokasi dan melihat langsung situs Batu Kijang, ternyata, tulisan yang terdapat di buku seperti yang disampaikan di atas kurang tepat.

Menurut kisah, legenda Batu Kijang bermula terdapat sebuah batu di mana di dekat batu tersebut sering dijumpai sepasang kijang berbulu emas.

Jauh sebelum pemukiman penduduk dibuka, hutan yang dulunya bekas tambang timah zaman Belanda ini merupakan hutan lebat.

Hutan tersebut sering menjadi tempat warga mencari kijang dan hewan buruan lainnya.

Warga mempercayai kijang dan hewan buruan lainnya mempunyai “penunggu” dan menjadi tunggangan seperti jin dan sejenisnya.

Sepasang kijang berbulu kuning keemas-emasan sering dijumpai warga dekat sebongkah batu.

Dari proses itulah batu tersebut dinamakan dengan Batu Kijang.

Situs Batu Kijang tidak jauh dari pemukiman warga.

Berjarak kurang lebih 30 meter dari TPU dan berada dipersimpangan.

Terlihat kawasan di sekitarnya bekas penambangan timah.

Dari segi fisik, situs Batu Kijang tidak menyerupai kijang.

Hanya sebongkah batu merah dengan posisi condong ke arah barat.

Batu dengan tinggi 70 cm dan lebar 90 cm tersebut berada pada tanah yang agak tinggi dari kontur tanah di sekitarnya.

Batu tersebut sering digunakan warga untuk hal-hal yang kurang baik seperti meminta nomor dan lain sebagainya.

Maka atas hasil keputusan warga, batu tersebut akan dibongkar menggunakan alat berat supaya warga tidak lagi mengkultuskan batu tersebut.

Dua buah alat berat yang diturunkan ternyata tidak mampu membongkar sebongkah batu itu.

Dari kunjungan ke lokasi, terlihat sebuah mangkok berwarna biru agak pucat dengan bagian atas pecah tergeletak dekat batu.

Mangkok berdiameter bawah 6,5 cm dan diameter atas 13 cm dan tinggi 5 cm.

Sekitar satu meter dari batu terlihat sebuah wadah air mirip guci warna coklat terang tanah liat dalam kondisi pecah dan botol-botol kosong minyak wangi dengan bau yang khas menyengat dengan nama yang sangat terkenal.

Dulu situs batu tersebut dipasang warga dengan atap asbes lengkap dengan tiang dan rabungnya.

Masih terlihat bekas semen empat sudut tiangnya. Kawasan dekat situs batu kijang kaya kandungan timah.

Terlihat jelas pada peta yang berjudul Djeloetoeng dengan kode peta D D 33,23 yang dibuat tahun 1946 terlihat jelas tambang timah.

Saat warga membuka tambang inkonvensional di kawasan tersebut, pernah menemukan uang-uang logam.

Besar kemungkinan uang-uang logam tersebut merupakan uang token.

Uang token (biasa disebut sebagai token) adalah suatu alat atau benda yang biasanya dikeluarkan oleh pihak swasta, untuk tujuan sebagai alat tukar menukar, dengan suatu nilai tertentu dan dalam daerah peredaran yang sangat terbatas.

Kawasan ini juga kaya dengan kandungan batu kinyang sehingga pada masa itu kawasan ini ramai dikunjungi oleh para pencari batu kinyang. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *