Lomba Gerak Jalan Mentok: Di Balik Lambaian Bendera dan Irama Langkah, Ada Cerita Kebersamaan yang Tak Tertulis

Oleh: Belva Al Akhab

MENTOK, TRASBERITA.COM– Mentok pagi itu seperti lukisan yang hidup. Jalanan kota tua ini dipenuhi suara langkah serempak, sorak sorai yang berbaur dengan desau angin, dan warna-warni kostum yang menantang monoton.

Bacaan Lainnya

Dari sudut Taman Kota Mentok, matahari yang menggantung malu-malu memantulkan cahaya ke wajah-wajah penuh semangat.

Mereka bukan sekadar peserta lomba gerak jalan; mereka adalah potret kecil Indonesia yang sedang merayakan makna merdeka dengan caranya sendiri.

Hari itu, Kamis (28/8/2025), Bangka Barat menorehkan satu babak cerita dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Sebuah lomba gerak jalan yang diikuti ratusan orang: pelajar SD dengan mata berbinar, remaja SMP yang melangkah penuh percaya diri, siswa SMA yang menebar energi muda, hingga pegawai instansi yang berbaris dalam harmoni langkah dan tawa.

Tak ada batas di sini, tak ada sekat. Hanya irama sepatu yang menghantam aspal, seirama dengan denyut kebersamaan yang menolak padam.

Panitia mencatat, lebih dari 80 regu ikut ambil bagian.

Dari SDN 21 regu yang penuh keceriaan, SMPN 6 regu dengan formasi khas, SMA/SMK 20 regu, dan sisanya 33 regu berasal dari instansi pemerintah, organisasi masyarakat, hingga kelompok swadaya.

Satpol PP, Damkar, BPBD, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, bahkan Kantor Camat Mentok ikut menoreh langkah di jalan yang sama.

Lomba ini tidak sekadar parade kostum. Ia adalah panggung kecil di mana kreativitas berpadu dengan pesan persatuan.

Tidak ada instruksi seragam, tidak ada aturan kaku. Setiap regu bebas mengekspresikan diri.

Ada yang tampil dengan seragam putih sederhana, ada yang mengenakan warna-warna mencolok seolah ingin melukis jalanan dengan pelangi.

“Ini bukan lomba biasa. Ini panggung kebersamaan,” ujar Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., dalam sambutannya.

Ucapannya mengambang di udara pagi, seperti doa yang diaminkan oleh ribuan pasang telinga yang hadir.

Markus tidak hanya bicara tentang kompetisi, tapi tentang semangat gotong royong yang mengalir dalam setiap langkah kaki.

Ketika kami mencoba mendekat pada realitas di balik kemeriahan ini, ada fakta menarik.

Banyak peserta yang menyiapkan kostum secara swadaya.

Di balik tawa dan warna, ada cerita perjuangan.

Kami temui Fitri (16), siswi salah satu SMA. Ia bercerita bagaimana ia dan teman-temannya harus mengumpulkan uang receh demi membeli kain warna-warni untuk kostum.

“Kami ingin tampil beda, bukan karena lombanya, tapi karena ini momen yang kami tunggu setiap tahun,” katanya sambil mengusap peluh di dahi.

Di sepanjang rute, kami melihat wajah-wajah sumringah masyarakat.

Mereka berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan, berteriak memberi semangat.

Sri Iwan Al-Azhar (38), seorang pedagang minuman dingin, mengaku sudah datang sejak pagi.

“Momen ini seperti napas baru. Dagangan laku, hati juga senang lihat suasana ramai. Kreativitas mereka bikin bangga,” tuturnya.

Di balik kalimat sederhana itu, terselip makna bahwa perayaan ini tidak hanya menghidupkan semangat nasionalisme, tapi juga roda ekonomi kecil-kecilan.

Namun, di balik hingar-bingar, ada catatan yang patut direnungkan: tradisi ini menjadi penanda bahwa semangat persatuan belum pudar.

Tapi bagaimana di luar momentum ini?

Apakah kebersamaan hanya hidup di hari-hari besar, lalu tenggelam dalam kesibukan masing-masing setelahnya?

Investigasi ringan kami menemukan bahwa, meski acara ini rutin, anggaran dan dukungan masyarakat menjadi kunci keberlangsungannya.

Panitia mengakui, tidak ada biaya besar yang digelontorkan pemerintah untuk kostum peserta.

Semua bergantung pada kreativitas dan solidaritas.

“Kami bangga mereka mau berkreasi dengan sumber daya sendiri. Ini menunjukkan kemandirian,” kata salah satu panitia.

Sebuah pesan terselip: kemerdekaan sejati bukanlah tentang menunggu bantuan, melainkan keberanian mencipta ruang gembira dengan tangan sendiri.

Panggung utama di Taman Kota Mentok dihiasi spanduk besar bertuliskan “Dirgahayu Republik Indonesia – 17 Agustus 1945–17 Agustus 2025”.

Di sana, para pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan Ketua TP-PKK duduk rapi, menjadi saksi dari sebuah ritual kebangsaan yang kini lebih terasa sebagai pesta rakyat.

Ketika matahari merangkak naik, langkah-langkah itu terus beriring, seolah menggaungkan satu pesan sederhana: kemerdekaan bukan hanya soal masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita melangkah bersama hari ini, dengan harapan yang sama.

Gerak jalan ini mungkin hanya akan menjadi berita sehari di halaman media.

Tetapi bagi mereka yang melangkah, ini adalah kenangan, sebuah pernyataan diam tentang cinta pada negeri.

Bagi mereka yang menonton, ini adalah pengingat bahwa persatuan bukan jargon ia hidup dalam tawa anak-anak, dalam peluh remaja, dalam wajah pedagang kaki lima yang kembali percaya pada rezeki.

Di ujung acara, Bupati Markus menutup dengan satu kalimat yang terdengar seperti janji: “Ini tradisi baik yang harus terus kita lestarikan.”

Kalimat itu menggantung, seperti bendera merah putih di ujung tiang, ditiup angin sore.

Tidak sekadar janji, tetapi sebuah tantangan agar perayaan ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan napas panjang kebersamaan yang tidak lekang oleh waktu.

Karena, pada akhirnya, di balik irama langkah dan kibaran bendera, kita sedang menulis ulang arti merdeka: bahwa kemerdekaan itu hidup, dan ia berjalan bersama kita. (tras)

Pos terkait