Oleh: Kulul Sari
SEBAGIN, TRASBERITA.COM — Di pesisir selatan Bangka, angin dari Pantai Sebagin berembus seperti biasa, tenang, asin, dan seolah tak menyimpan apa-apa.
Namun bagi warga Desa Gudang, Simpang Rimba, ketenangan itu hanyalah lapisan tipis dari sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, dan belum sepenuhnya dipahami hingga saat ini.
Dalam kesunyian dan desiran angin pantai, ada kisah dan ssjarah yang terlupakan, mereka menyebutnya Lubang Guntur.
Nama itu bukan sekadar penanda. Ia lahir dari pengalaman yang diwariskan turun-temurun, suara dan gema dari dalam tanah yang menyerupai dentuman petir.
Bukan suara yang datang dari langit, melainkan dari perut bumi. Siapa pun yang berteriak ke dalamnya akan mendengar balasan yang ganjil, seolah ruang di bawah sana tidak kosong, melainkan berongga luas, memantulkan bunyi dengan cara yang tidak biasa.
Tak ada catatan resmi tentang kapan lubang itu pertama kali ditemukan. Namun dalam ingatan kolektif warga, Lubang Guntur telah ada “sejak dulu”, sebuah penanda lanskap yang tak terpisahkan dari sejarah lisan kampung.
Di masa ketika peta belum menggambarkan segala sesuatu, cerita menjadi penunjuk arah.






