Majalah Internasional The Economist Sebut Qatar Menjadi Tuan Rumah Terbaik dalam Perhelatan Piala Dunia

Majalah Internasional The Economist Sebut Qatar Menjadi Tuan Rumah Terbaik dalam Perhelatan Piala Dunia. (Foto: Shutterstock)

Laporan AKA | Editor A Karim A

BABEL, TRASBERITA.com — Majalah Internasional The Economist menyebutkan dalam tajuk rencana surat kabarnya, bahwa Qatar menjadi tuan rumah merupakan negara terbaik untuk perhelatan sepak bola akbar Piala Dunia FIFA daripada sejumlah negara yang menjadi tuan rumah sebelumnya.

Bacaan Lainnya

The Economist adalah majalah berita dan peristiwa internasional berbahasa Inggris milik “The Economist Newspaper Ltd”, yang disunting di London, Inggris.

The Economist sering disebut majalah berita transatlantik (bukan hanya Britania), karena penerbitan majalah ini sendiri dibagi menjadi empat wilayah, Amerika Utara, Britania Raya, Eropa, dan Asia Pasifik.

Majalah itu megatakan bahwa dunia hanya memandang pekerja migran di Qatar melalui kebijakan survey dan perspektif yang menyimpang, karena Qatar lebih terbuka untuk memberi kesempatan tenaga kerja asing daripada Amerika atau negara Eropa mana pun.

Lanjutnya, bahwa kesempatan untuk menyelenggarakan Piala Dunia mengarah pada perbaikan undang-undang perburuhan di Qatar.

Sementara itu, Cina menjadi tuan rumah Olimpiade dua kali tidak membuat negara tersebut lebih mengarah kepada sistem yang demokratis.

“Timur Tengah penuh dengan pecinta sepak bola, tetapi belum pernah menjadi tuan rumah dalam perhelatan Piala Dunia sebelumnya, begitu juga dengan negara Muslim mana pun, dan keputusan untuk mengadakan Piala Dunia di Qatar adalah pilihan yang sangat baik,” kesimpulan tertulis dalam tajuk rencana Majalah The Economist.

 

Asumsi Buta dan Kebencian terhadap Umat Islam

The Economist mengatakan bahwa kritik-kritik Barat yang dilontarkan terhadap keputusan untuk menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA merupakan keputusan yang gagal untuk mengidentifikasi rezim yang benar-benar penuh dengan kebencian.

Hal tersebut merupakan asumsi bias, dan karena banyak kritikus yang tidak puas tampak seolah-olah mereka tidak menyukai munyukai aturan hukum dan politik, budaya, serta umat Islam.

Majalah itu menambahkan bahwa Qatar jauh dari banyak negara yang menyelenggarakan Piala Dunia sebelumnya, yang tidak mengizinkan bisikan para oposisi dan pesan-pesan politik.

Dan menyimpulkan, kecuali jika kebijakan-kebijakan dari FIFA ingin pesta bola terbesar tersebut disampaikan di negara lainnya.

Namun, FIFA tidak serta-merta dapat selalu mengaturnya di negara yang bebas dari pesan-pesan politik dan aturan hak asasi. (Tras Sport)

Sumber: Al Jazeera Inggris dan Majalah The Economist

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *