Manelusuri Jejak Leluhur Gelasa

Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM –– Dalam beberapa peta tua yang penulis gunakan dalam penulisan tentang Jelutung ini tidak ditemukan kata Gelase, Gelasa atau Kelasa.

Gelase merupakan bahasa lokal masyarakat Jelutung dan sekitarnya yang apabila di-Indonesia-kan menjadi Gelasa.

Bacaan Lainnya

Belum diketahui secara pasti diambil dari nama apa gelasa tersebut.

Berdasarkan penelusuran internet juga tidak ditemui kata Gelasa, yang ada hanya kata Gelasan yang berarti adonan serbuk halus dari pecahan kaca (porselen dan sebagainya) dan bahan peekat sebagai bahan pelapis benang (kadang-kadang diberi warna). (https://kbbi.kata.web.id/gelasan/).

Apakah Gelase dalam oral history masyarakat merupakan gelasan dalam bahasa Indonesia?

Jika ini memang benar adanya, asumsi penulis, di kawasan Gelase dulu ada orang yang membuat gelas, piring atau keramik dengan bahan utama tanah liat.

Gelasa atau Gelase merupakan suatu kawasan yang disebut-sebut oleh para informan saat penulis dan tim melakukan wawancara.

Kawasan Gelase terletak tidak jauh dari persimpangan menuju ke Lempuyang.

Untuk mencapai kawasan ini dari Desa Jelutung, jalan sudah sangat memadai.

Jalan tanah puru sejauh kurang lebih 2 Km dan akan bertemu dengan dua buah jembatan.

Jembatan tersebut sebagai sarana untuk melewati aliran sungai Lempuyang.

Satu jembatan terbuat dari kayu dan papan dan jembatan yang lainnya terbuat dari beton tanpa dinding pada kiri kanan jembatan.

Sementara itu tampak jurang yang dalam sebagai aliran sungai sehingga harus hati-hati saat melintasi kedua jembatan tersebut.

Kawasan Gelase sama seperti kawasan lain pada umumnya.

Lahan kebun warga untuk bercocok tanam dan tanaman keras seperti karet, sawit dan tanaman buah lainnya.

Salah satu bukti yang menegaskan bahwa kawasan Gelase merupakan bekas sebuah perkampungan adalah ditemukannya beberapa makam.

Memperhatikan catatan-catatan sejarah, bahwa sebuah perkampungan biasanya terdapat pemakaman umum.

Sangat sulit melacak keberadaan rumah-rumah warga mengingat saat itu rumah-rumah warga terbuat dari kayu dan papan dan berbentuk panggung sehingga tidak meninggalkan sisa ataupun puing-puing karena sudah termakan usia.

Untuk mencapai Tempat Pemakaman Umum di Gelasa, motor yang kami bawa harus belok kiri dari jalan tanah puru.

Jalan setapak tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Berjarak 100 meter dari jalan tanah kuning, penulis dan tim tiba di lokasi TPU.

Keberadaan makam dikawasan ini berhasil diidentifikasi oleh penulis dan tim (Aldi dan Tari) yang dibantu oleh Yogi yang merupakan putra mang Dahlan yang mengetahui seluk beluk kawasan dan memiliki kebun sahang tidak jauh dari pemakaman.

Studi lapangan dilaksanakan pada Minggu, 15 September 2019 pukul 13.00.

Dari penelusuran, ditemukan 11 kuburan dengan dengan berbagai ukuran.

Dari yang berukuran kecil, sedang sampai dewasa.

11 makam tersebut saling berjauhan. 3 buah makam terletak ditengah-tengah kebun sawit warga.

Ketiga makam ini, satu makam dengan jirat batu granit yang disusun dengan nisan menggunakan batu sungai benrbentuk lonjong.

Sedangkan dua makamnya menggunakan jirat dari botol hitam dan biru dengan susunan tidak rapi karena banyak botol yang sudah pecah dan bernisan botol.

Delapan makam lainnya berjarak kurang lebi 100 meter dari 3 makam sebelumnya.

Terletak ditengah kebun sahang yang sudah tidak diurus lagi. Dari 8 makam ini dua makam berukuran kecil dan selebihnya berukuran besar atau dewasa.

Dari delapan makam ini tiga makam menggunakan jirat dari botol hitam dan biru.

Tiga makam ini hanya satu yang ada nisannya.

Nisan makam tersebut membuat penulis dan tim agak lama terdiam.

Maksud hati kesampaian untuk melacak jejak sejarah para leluhur di Gelase.

Dengan berbekal nisan makam tersebut sedikit terkuak tabir sejarah yang selama ini tertutup hanya melalui tutur lisan para tetua kampung.

Nisan makam ini terbuat dari batu granit jenis papan yang merupakan tipe Aceh.

Tinggi nisan (dari permukaan makam) 60 cm, lebar kaki dan bahu 20 cm.

Nisan kepala dan nisan kaki masih utuh dan menghadap kea rah kiblat.

Tidak ditemukan inkripsi apapun pada nisan tersebut.

Hanya saja memperhatikan bentuk nisan, besar kemungkinan si empunya makam merupakan perempuan. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *