Oleh : Rusmin Sopian
TRASBERITA.COM –– Suara kritisnya menggelegar. Riuhkan semesta raya Negeri Junjung Behaoh.
Suara kritisnya penuh dengan data dan semangat heroisme.
Tidak berbungkus untuk melemahkan kredibilitas pemimpin.
Suara kritisnya sebagai bentuk kontrol sosial terhadap Negeri ini.
Suara kritisnya sebagai bentuk pengejawantahan moral sebagai warga yang ikut meneriakkan pendirian daerah ini sebagai Daerah Otonom Baru yang kini kita kenal sebagai Kabupaten Bangka Selatan.
Sebagai bagian dari Pejuang Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Marzam memiliki tanggungjawab moral terhadap daerah ini.
Dan bentuk pertanggungjawabannya , pengurus KPPT (Komite Perjuangan Pemuda Toboali) ini bersuara lantang untuk kebaikan Negeri ini.
Bersuara kritis untuk kebermajuan Negeri Junjung Behaoh.
Walaupun , terkadang narasi yang disampaikannya terasa vulgar di telinga.
Cerita wayang orang yang kami tonton di aula Polres Bangka Selatan minggu malam (15/1) makin mengasyikkan.
Ceritanya penuh dengan adegan keheroikan. Sebagai mana heroiknya Marzam dan kawan-kawan muda saat itu memperjuangkan daerah ini menjadi sebuah Kabupaten.
Sebuah perjuangan panjang yang penuh dengan suka dan duka.
Sebuah perjalanan panjang dari kaum muda Bangka Selatan era itu untuk martabat daerah ini. Berdiri sejajar dengan daerah lainnya di Bumi Serumpun Sebalai ini.
Dengar-dengar, tahun 2024, Bung Marzam akan tampil dalam kontestasi politik Pileg.
Cerita tentang kontestasi politik 2024 itu, biarlah waktu yang menjawabnya. Biarlah nurani dalam jiwanya yang menjawabnya.
Dan suara kritis itu harus terus bergema di Negeri Junjung Behaoh untuk kebermajuan daerah ini, Bangka Selatan yang dulu Bung Marzam dan kawan-kawan perjuangkan dengan suara yang sangat kritis pula. (tras)














