MENTOK, TRASBERITA.COM – Peresmian Masjid Ibadurrahman di Kelurahan Tanjung, Mentok, Sabtu (6/9/2025), seakan menutup babak panjang pembangunan rumah ibadah ini.
Bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Wakil Bupati Bangka Barat hadir meresmikan masjid dengan penuh khidmat, disaksikan ratusan jamaah, tokoh agama, jajaran Forkopimda, hingga perwakilan perusahaan tambang.
Namun, di balik prosesi yang penuh simbol dan doa itu, tersimpan kisah panjang: perjuangan masyarakat, tarik menarik kepentingan, dan tantangan dana yang sempat menghambat perjalanan masjid ini berdiri megah seperti hari ini.
Dokumentasi panitia pembangunan menunjukkan, renovasi Masjid Ibadurrahman telah dimulai beberapa tahun lalu.
Awalnya, masjid lama dianggap sudah tidak mampu lagi menampung jamaah yang semakin banyak. Ide renovasi muncul dari tokoh masyarakat dan didukung Yayasan Ibadurrahman.
Namun, perjalanan tidak semudah yang dibayangkan.
Panitia sempat kewalahan mengumpulkan dana. Laporan keuangan pembangunan yang dihimpun dari masyarakat menunjukkan mayoritas dana berasal dari sumbangan jamaah, donatur perorangan, dan sebagian bantuan dari perusahaan swasta seperti PT Timah.
“Kalau menunggu APBD, mungkin sampai sekarang belum selesai. Alhamdulillah, berkat gotong royong jamaah dan donatur, masjid ini akhirnya bisa berdiri,” ungkap seorang panitia pembangunan yang enggan disebut namanya.
Dalam proses pembangunan, sempat mencuat isu bahwa proyek renovasi berjalan lambat karena keterbatasan dana.
Beberapa masyarakat mengeluhkan transparansi anggaran.
Meski tidak terbukti adanya penyimpangan, rumor itu sempat menimbulkan ketegangan.
Sumber internal panitia menyebutkan, keterlambatan lebih karena sulitnya menghimpun dana besar secara cepat.
“Kami dituntut cepat, tapi kondisi ekonomi masyarakat juga tidak selalu mendukung. Jadi pembangunan dilakukan bertahap. Tidak ada penyelewengan, semua dana masuk tercatat dan diumumkan rutin,” jelasnya.
Kondisi ini justru memperlihatkan bahwa pembangunan masjid bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal manajemen, kepercayaan publik, dan transparansi.
Di sisi lain, pembangunan masjid besar di Mentok ini tidak lepas dari simbol politik.
Kehadiran pejabat dalam setiap tahapan pembangunan hingga peresmian kerap dipandang sebagai upaya mendekatkan diri pada konstituen.
Wakil Bupati dalam sambutannya menekankan, “Renovasi masjid ini bukan sekadar pembangunan fisik, tapi pembangunan spiritual masyarakat. Masjid harus jadi pusat peradaban.”
Meski pernyataan itu bernuansa keagamaan, masyarakat menilai setiap pejabat yang hadir tentu juga membawa kepentingan politik, apalagi menjelang kontestasi lokal.
Seorang warga Mentok, Sahrul, menuturkan, “Kami bersyukur masjid ini jadi. Tapi tentu saja kehadiran pejabat selalu ada makna politiknya. Itu sudah biasa, yang penting masjid ini benar-benar dimakmurkan.”
Kini, tantangan sesungguhnya bukan lagi pembangunan, tetapi pemanfaatannya. Syekh Abdul Basith Musfi, Lc., M.Ag., dalam ceramah Maulid Nabi menegaskan bahwa masjid harus hidup dengan aktivitas keagamaan.
“Masjid adalah benteng umat. Kalau masjid ramai, maka iman umat akan terjaga. Jangan biarkan masjid ini sepi,” katanya.
Salah satu tokoh Masjid Ibadurrahman menambahkan, pihaknya telah menyiapkan program keagamaan rutin.
Mulai dari pengajian, TPA untuk anak-anak, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Kami ingin masjid ini benar-benar jadi pusat pembinaan umat, bukan hanya tempat salat,” tegasnya.
Dari hasil penelusuran, Masjid Ibadurrahman sesungguhnya lebih dari sekadar rumah ibadah.
Ia adalah simbol sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Mentok:
Sosial: menjadi pusat silaturahmi, pendidikan, dan penguatan akhlak generasi muda.
Politik: menjadi panggung simbolis bagi pejabat yang ingin menunjukkan kedekatan dengan umat.
Ekonomi: dibangun dengan gotong royong masyarakat di tengah keterbatasan dana, memperlihatkan semangat kemandirian umat.
Jika dikelola dengan baik, masjid ini bisa menjadi mercusuar peradaban di Bangka Barat.
Namun jika dibiarkan, ia bisa berubah menjadi sekadar bangunan megah tanpa denyut kehidupan.
Bagi masyarakat Mentok, peresmian ini adalah kemenangan kecil atas perjuangan panjang.
Namun, pertanyaan kritis yang tersisa adalah: apakah masjid ini akan benar-benar dimakmurkan atau hanya menjadi simbol sesaat?
Wakil Bupati menutup sambutannya dengan ajakan, “Masjid ini rumah kita bersama. Mari kita jaga dan makmurkan, agar keberkahan Allah SWT selalu menyertai Bangka Barat.”
Kata-kata itu kini menjadi janji yang harus diuji. Sebab, sebuah masjid tidak akan berarti banyak tanpa jamaah yang menghidupkan dan merawatnya. (Tras)








