MATAHARI KEMBAR
Oleh: Prof. Dr. H. Bustami Rahman, M. Sc
PERNAH adakah matahari kembar (tanpa tanda kutip)? Tidak pernah ada. Karena sejauh mata memandang, tidak pernah terjadi.
Maksudnya, begitu kita bangun pagi pada saat matahari naik, tampak ada dua atau lebih matahari di ufuk timur.
Tidak akan pernah seperti itu, kecuali Allah menghendaki itu terjadi.
Namun, di balik sejauh mata memandang itu, menurut ahli fisika perbintangan, ada lebih dari 200 milyar bintang yang berfungsi sebagai matahari di dalam galaksi yang disebut Bima Sakti.
Jadi, kembarannya matahari itu bejibun banyaknya. Meskipun matahari itu bejibun, mereka tidak saling bertabrakan.
Masing-masing ada fungsinya sendiri-sendiri.
Bagaimana dengan ‘matahari kembar’ (dengan tanda kutip)?
Kalau yang ini istilah yang sengaja kita buat. Istilah yang ‘indonesia’ banget.
Kapan dipopulerkannya istilah ‘matahari kembar’ ini? Kalau kita buka kutipan sejarah, belum lama juga.
Di masa pemerintahan Orde Lama, tidak pernah kita dengar istilah ini.
Sekurangnya kalaupun ada tidaklah populer. Soekarno tidak pernah menyebut istilah ‘matahari kembar’.
Kita tahu Soekarno adalah seorang pemimpin yang kuat dan sangat percaya diri.
Oleh sebab itu beliau tidak pernah melihat siapapun sebagai ‘matahari kembar’.
Di masa Orde Baru lah istilah ‘matahari kembar’ terpopulerkan.
Apakah Soeharto yang menyebut dan mempopulerkannya?
Tidak. Beliau juga seorang pemimpin yang kuat dan sangat percaya diri.
Lantas siapa yang mempopulerkan istilah ‘matahari kembar’ itu? Ternyata, Ali Moertopo.
Ali Moertopo saat itu adalah Kepala Staf Khusus Presiden. Di tahun 1967 di kala baru saja Presiden Soeharto dilantik, Jenderal Sarwo Edhie yang mantan Komandan RPKAD sangatlah populer.
Beliau selain Soeharto, adalah jenderal yang sangat dibanggakan dan dielu-elukan oleh masyarakat.
Sebagai Presiden, Soeharto tidaklah merasa terganggu dengan popularitas Sarwo Edhie.
Namun, Ali Moertopo, orang kepercayaan Soeharto malah merasa terganggu. Sarwo Edhie justru dianggap ‘matahari kembar’ nya Ali Moertopo. Bukan ‘matahari kembar’nya Soeharto.
‘Matahari kembar’ itu sesungguhnya memang tidak ada dan tidak perlu ada.
Seorang pemimpin yang kuat dan percaya diri justru akan menciptakan ‘bintang-bintang’ di sekitarnya untuk tetap bersinar terang, tanpa harus menjadi kembarannya sang matahari.
Sebaliknya, bintang-bintang yang bersinar terang menandakan bahwa sang matahari itu sedang gilang gemilang.
Percayalah, dan salam. (*/Tras)
___________________
Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc atau dalam setiap ‘catatan’ menggunakan inisial BR adalah seorang akademisi yang mendalami bidang Teori Sosiologi. Dikenal sebagai pelopor dan Rektor pertama Universitas Bangka Belitung. Tokoh yang juga mendapat gelar Adat Melayu, Dato’ Sri, ini lahir di Belinyu, 24 April 1951 (usia 72 tahun).
Ia sudah menulis sejumlah buku dan jurnal, di antaranya:
• Sistem Sosial Budaya Indonesia
• Manajemen Perubahan dalam Struktur Birokrasi di Indonesia
• Menciptakan Budaya Politik yang Demokratis melalui Proses Konstruksi Civil Society
• Membangun Mindset Akademik: Studi Kasus Universitas Jember
• Menegakkan Peradaban Bangsa
• Menggugat Dikotomi Abangan dan Santri






