Mau Tahu Asal usul Tanah Merah..? Begini Ceritanya.. !

Oleh : Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budayawan Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Versi pertama Tanah merah bermula sejak zaman penyelundupan timah oleh para semungkel yang membeli timah secara illegal kemudian dijual ke Singapura dan Malaysia selalu menjadikan tebing tinggi di pinggir pantai yang terlihat dari laut berwarna merah.

Dari penamaan ini lama kelamaan dikenal dengan Tanah Merah.

Bacaan Lainnya

Tebing tinggi yang berwarna merah tersebut menajdi rambu-rambu untuk memasuki sungai Lempuyang.

Timah dibeli dari para pengumpul yang sudah menunggu di muara suangai Lempuyang.

Sebelum menjadi nama Tanah Merah pada awalnya penamaan pemukiman ini adalah Lisom karena pada kawasan hutan tersebut banyak terdapat tanaman lisom (semacam kelubi) dan air tempat keperluan warga dikenal dengan Aik Lisom.

Saat penulis studi lapangan ke Aik Lisom tanggal 24 Januari 2019 pukul 14.00, kondisi air Lisom bagian hulu (tumbak) masih digunakan warga untuk mandi.

Kayu seruk, kayu batu memenuhi kawasan ini dengan ukuran yang besar-besar serta menjulang tinggi.

Versi kedua bermula tahun 1970-an, seorang Cina berduit yang bernama Ahak memiliki mobil dan membuat trayek Pangkalpinang – Tanah Merah.

Mengingat kampung Kayu Besi saat itu merupakan kawasan tambang timah dan sering membawa para pekerja tambang ke pasar di Pangkalpinang untuk membeli barang-barang keperluan sehari-hari.

Sehingga lama kelamaan dikenal dengan Tanah Merah.

Awal Mendirikan Rumah 

Mula-mula warga Desa Jelutung bercocok tanam membuka kebun di kawasan ini.

Mereka bercocok tanam dikawasan hutan Tanjung Mereka adalah Atok Ismail, Atok Saidi.

Tahun 1980, Mang Limpang membangun rumah pertama kali di pemukiman warga Tanah Merah saat ini diikuti oleh Wak Doy dan selanjutnya diikuti oleh warga lain yang sebelumnya masih tersebar di kebun-kebun.

Saat itu ketika lebaran Idul Fitri dan Idul Adha warga kembali ke Desa Jelutung.

Tahun 1982 warga mulai membuat surau. Sampai sekarang Tanah Merah ramai oleh para pendatang.

Kawasan Tanah merah yang terletak di pesisir timur pulau Bangka menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata.

Garis pantai yang memanjang dari sungai Keranji sampai dengan sungai Lempuyang sejauh kurang lebih 5 km dengan bentuk pantai yang curam bertebing serta bebatuan-betuan yang tidak terlalu besar.

Nama-nama batu di pantai Tanah merah sangat unik. Berikut nama-nama batu tersebut:

1. Batu Siabon

Batu ini terletak di muara sungai keranji agak ke tengah laut.

Mengapa disebut batu siabon?   Nama ini tidak diketahui secara pasti.

2. Batu Lanun

Waktu itu ada seseorang yang sedang sembahyang di pinggir pantai dan pada saat itu juga datang orang Lanun, seorang pemimpin bajak laut menebas batang leher orang tersebut dan menguburkannya ditempat itu yang akhirnya berubah menjadi batu yang terletak di pinggir pantai, diantara perbatasan Dusun Bedeng dengan Dusun Tanah Merah, yaitu tepatnya di muara sungai Keranji.

Batu ini dianggap keramat oleh penduduk sekitar.

Seonggok batu berwarna merah kehitam-hitaman seperti besi karat berdiri kokoh di bibir pantai. tinggi kurang lebih 2,5 meter, lebar 2 meter dan tebal 1 meter dengan bagian samping menipis.

Menurut tokoh pemuda Tanah Merah, batu ini sering digunakan warga untuk menyampaikan hajatnya.

Hal itu ditandai dengan adanya ayam-ayam berkeliaran tidak jauh dari batu tersebut dan batu Lanun ditutupi dengan kain putih terutama saat bulan purnama. lokasi batu ini dekat dengan TPU Tanah Merah.

3. Batu Lekok

Di daerah batu ini digunakan warga tempat turunan saat melaut. terletak di tepi pantai.

4. Batu Perpat

Batu ini sering digunakan warga untuk menyimpan kayu-kayu tajur (perpat) pukat terletak di  tepi pantai.

5. Batu Kemiri

Cerita yang beredar di masyarakat konon dulu kala ada seorang nenek yang ingin pergi ke laut dengan menaiki sampan tetapi belum sempat melaju sampan si nenek terhempas ombak dan pecah di atas batu.

Nenek pun meninggal dunia di atas batu tersebut.

Pada waktu itu nenek membawa bibir kemiri yang akhirnya tumbuh hingga sekarang, hanya saja pohon tersebut tidak besar dan meninggi layaknya pohon tumbuh di daratan.

Kini pohon tersebut masih kokoh tumbuh diatas sebuah batu yang tidak terlalu besar dan masih setia menunggu para nelayan datang dari tengah laut.

Saat ke lokasi batu ini, kondisi air laut sedang pasang besar sehinggi tidak bisa langsung menemuinya. berjarak kurang lebih 50 meter dari bibir pantai.

6. Batu Semilang

Batu ini oleh masyarakat lokal disebut dengan batu semilang karena setiap orang memancing di dekat batu ini selalu mendapatkan ikan semilang.

Ukuran batu kurang kurang lebih 10 meter x 6 meter berada di bibir pantai Tanjung.

7. Batu Penyemur Buaye (buaya)

Batu ini sering dijumpai buaya berjemur sehingga oleh warga setempat dinamakan batu penyemur buaye (buaya).

8. Batu Berumput

Batu ini terletak tidak jauh dari pantai Tanjung.

Saat air laut surut batu berumput bisa terlihat dari pantai.

(Saat penulis menemui narasumber di pondok kebunnya di kelekak Tanjung di pinggir pantai, kondisi air laut pasang).

Menurut Atok Jali, batu berumput ini terdiri dari batu-batu besar yang landai dan rumput-rumput tersebut tetap tumbuh sampai saat ini.

Kawasan batu berumput terkenal dengan keangkerannya.

Menurut narasumber, apabila nelayan atau siapapun yang tidur di kawasan ini dalam kondisi membujur dengan kaki menghadap ke pantai maka akan dirubah oleh penunggu kawasan pantai ini.

Kepercayaan ini masih dipegang erat oleh tetua-tetua kampung.

9. Batu Penyungkur

Daerah batu ini sering digunakan warga sebagai awalan menyungkur udang.

10. Batu Buntal

Kawasan batu ini disebut warga dengan batu buntal karena sering mendapatkan ikan buntal dalam jumlah yang banyak.

11. Batu Teritip

Batu-batuan daerah ini banyak teritip dan terletak di muara sungai Lempuyang dan   merupakan perbatasan dengan hutan Pucong.

Tumang (pabrik arang)

Tahun 1960an orang Cina (Singkek) membuat arang dari kayu bakau.

Bahan baku melimpah di sekitar pantai Tanjung.

Tungku untuk membuat tumang berjumlah sembilan buah. Tungku tersebut tinggi sekitar 2,5 meter dan lebar 3 meter dan pintu untuk memasukkan arang sekitar 2 meter seperti tungku tanur timah berbentuk seperti drum dan bahannya tanah liat.

Proses pembuatan arang memerlukan waktu sekitar satu minggu.

Kayu-kayu bakau dibakar terlebih dahulu di tempat lain sampai setengah arang baru kemudian dimasukkan ke dalam tomang dan lubang-lubang ditutup baru dibakar kembali.

Setiap tungku menghasilkan 800 Kg arang kayu bakau sekali produksi.

Arang ini digunakan orang-orang Cina untuk membakar daging babi supaya daging babi tidak mudah hangus, menyetrika pakaian, membuat bakso dan lain sebagainya.

Berbeda kalau menggunakan arang kayu lainnya, daging babi tersebut mudah hangus.

Saat itu Mang Jali kecil sering melihat Singkek membuat arang sehingga pengalaman tersebut digunakannya pada waktu Singkek berhenti beroperasi dan tahun 1990-an Mang Jali mulai membuat tungku arang dan sempat dipanggil oleh pihak keamanan karena menebang kayu bakau dalam jumlah yang banyak.

Tumang Mang Jali berhenti beroperasi sekitar 6 tahun belakangan.

Saat penulis menyusuri lokasi tempat pembuatan arang, hanya bisa menjumpai  arang-arang sisa  dan bangunan-bangunan tumang sudah tertutup penimbunan pembuatan jalan. (Tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *