Oleh : Meilanto SPd
Penulis, Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Desa Kurau dengan sungai Kuraunya yang terletak dekat dengan pesisir laut menjadikan pemukiman ini menjadi incaran para pendatang.
Para pendatang yang dimaksud yaitu dari suku Bugis dan Jawa.
Penduduk asli Kurau yang bersuku melayu hidup berdampingan dengan para pendatang.
Bahkan saat pemerintah Republik Indonesia menggalakkan trasmigrasi dari pulau Jawa, desa Kurau pun menjadi salah satu tempat tujuan dari para transmigrasi.
Sekitar tahun 1980-an, rombongan transmigran datang dan membentuk pemukiman baru yang saat ini dikenal dengan trans.
Wilayah Trans dikenal dengan Trans 1 sampai Trans 6. Rumah-rumah dibangun pemerintah lengkap dengan lahan untuk bercocok tanam.
Para transmigran didatangkan secara bertahap. Gelombang pertama adalah kebanyakan berprofesi sebagai petani sawah dan gelombang kedua ada yang berprofesi sebagai nelayan.
Kondisi tanah Kurau yang berpasir tidak cocok untuk lahan pertanian, sehingga lambat laun para transmigran kembali ke daerah asal atau pindah ke daerah lain seperti Rias, Batu Betumpang dan lain-lain.
Sementara itu transmigran yang sudah berprofesi sebagai nelayan di daerah asal kembali meneruskan pekerjaan sebagai neayan sampai saat ini.
Sementara itu suku Bugis yang secara umum bermata pencarian sebagai nelayan, sangat cocok bermukim di Kurau sehingga menjadi tumpuan warga untuk mengkonsumsi ikan selain warga melayu yang juga sebagai nelayan.
SD Trans 2
Para transmigran yang datang ke Kurau, selain disediakan rumah dan lahan, juga dibangun sarana pendidikan yaitu sebuah Sekolah Dasar.
Dalam perkembangannya, sekolah ini dengan nomenklatur SDN 14 Koba dengan Nomor Statistik Bangunan (NSB) 0122118203012001 seperti yang tertera pada bekas ruang Kepala Guru.
Seiring dengan kembalinya para transmigran ke daerah asal atau berpindahnya ke tempat lain, maka lama kelamaan sekolah kekurangan siswa dan pada akhirnya berhenti beroperasi sekitar tahun 1997.
Kini bekas sekolah tersebut masih menyisakan dinding-dinding beton dengan cat yang sudah termakan usia.
Lantai tegel dan jarring-jaring kawat. Salah satu ruangan yang dulu sebagai rumah dinas, kini ditempati Pak Mamak dan keluarganya.
Bioskop Megaria Teater
Pendirian bioskop Kurau tidak bisa lepas dri kisah pendirian SMP di Namang.
Saat itu direncanakan SMP didirikan di Kurau, karena sesuatu dan hal maka SMP tidak jadi dibangun di Kurau.
Sebagai gantinya dibangunlah bioskop sekitar tahun 1991 dan mulai beroperasi tahun 1992 pada masa Kepala Desa Kurau Sawirono.
Diberi nama Megaria Teater atas modal pengusaha Cina di Kampung Bintang Pangkalpinang.
Dalam pengoperasiannya, tiket masuk dikenakan biaya Rp. 1.000,-.
Dalam seminggu sekitar 3-4 kali diputarkan film. Mulai dari film Roma Irama, Saur Sepuh, Boliwood dan lain sebagainya.
Loket pembelian karcis berada disisi kiri pintu masuk.
Di dalam bioskop, kursi-kursi kayu disusun rapi bertingkat.
Layar putih menghadap ke jalan raya. Beberapa ruangan untuk operasional bioskop, ruang mesin dan ruangan para pegawai lainnya.
Tahun 1997 bioskop Megaria Teater berhenti beroperasi karena mulai munculnya antena parabola.
Adalah Iwan beserta keluarganya pernah menempati salah satu ruangan di dalam bioskop itu dari tahun 2005 sampai 2013 setelah mendapat izin dari pemilik bioskop.
Kini bioskop Megarian Teater telah dirobohkan tinggal menyisakan puing-puing bangunan dan beberapa bagian pondasi.
Rumah Tua
Rumah Abok Basri salah satu rumah tua yang kini masih bertahan di Kurau. Bentuk rumah panggung dengan dinding papan vertikal.
Rumahnya tepat menghadap ke jalan raya (kini jalan Lama).
Rumah Abok Basri secara umum masih asli seperti pada saat dibangun.
Hanya saja atap genteng telah diganti dengan atap asbes.
Tidak memiliki teras, dari anak tangga semen langsung masuk ke rumah dan ruang utama.
Di sisi kiri terdapat ruang tamu dengan satu kamar tidur.
Atap bagian depan menggunakan seng dengan tiang penyangga berupa besi dengan lengkungan khas dan masih asli.
Tepat diatas pintu utama, terdapat jendela. Jendela itu berfungsi untuk mengetahui keadaan Belanda yang saat itu sering berpatroli di kampung.
Untuk ke atas jendela, didalam rumah ada lubang khusus sebagai akses. Sering kali, tentara Belanda tidak segan-segan memukul rakyat.
Kiri kanan bagian depan terdapat dua jendela dengan dua daun pintu. Lantai papan masih asli.
Tiang penyangga rumah ditopang batu berbentuk trapesium yang kini telah diganti dengan batu segi lain.
Rumah Abok Basri pernah digunakan untuk shoting film Mentari Dari Kurau yang berlatar belakang tempat-tempat wisata di Kabupaten Bangka Tengah.
Kades Kurau
Man, Ayah Sopian (sekdes Kurau Barat)
Man Lanyu
Emi (Mantri). Adik Mantri Alek
Yon (Seliyon)
Reki Sanjaya
Kasim
Jasila. (*/tras)






