Melyadi Menyalakan Kesadaran dari Hutan KPH Rambat Menduyung: Edukasi Jadi Senjata Melawan Api di Bangka Barat

kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rambat Menduyung, Melyadi, Saat Dikonfimasi Langkah Preventif Kebakaran Hutan dan Lahan, Rabu (22/04/2026)

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Bacaan Lainnya

MENTOK, TRASBERITA.COM — Di tengah hutan yang tampak tenang setelah hujan-hujan kecil yang masih setia turun, ada kegelisahan yang tidak terlihat oleh mata awam. Kegelisahan itu tidak datang dari angin, bukan pula dari tanah yang retak melainkan dari kebiasaan lama manusia yang diam-diam menyimpan bara.

Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Rambat Menduyung, Melyadi, memilih tidak menunggu api itu benar-benar menyala.

Ia memulainya dari sesuatu yang sering dianggap sepele yaitu edukasi.

Dalam sebuah wawancara di ruang kerjanya, Rabu (22/04/2026), Melyadi berbicara dengan nada yang tenang, tetapi menyimpan urgensi yang tidak bisa ditunda. Baginya, kebakaran hutan bukan sekadar bencana musiman melainkan cermin dari hubungan manusia dengan alam yang mulai retak.

“Sebagian besar kebakaran itu bukan karena alam. Hampir semuanya karena manusia,” ujarnya, menegaskan bahwa sekitar 90 persen kasus kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara dibakar

Dari hasil koordinasi nasional yang ia ikuti bersama jajaran kepolisian dan kementerian terkait, satu hal menjadi terang musim kemarau tahun ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.

Fenomena El Niño kembali disebut-sebut meski dengan istilah yang sempat terdengar bombastis di forum, “El Niño Godzilla”. Melyadi, dengan pendekatan yang lebih rasional, menepis istilah itu sebagai sesuatu yang tidak dikenal dalam kajian ilmiah di Indonesia.

Namun substansinya tetap sama. kemarau panjang sebagai ancaman nyata.

Ancaman itu, menurutnya, tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, mengendap di sela-sela kebiasaan masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar. Sebuah praktik yang di beberapa tempat masih dianggap bagian dari tradisi, dikenal sebagai “mandok”.

Alih-alih hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah menjalar, Melyadi justru memindahkan garis pertahanan ke titik yang lebih awal yaitu kesadaran masyarakat.

Ia tidak ingin hutan hanya dijaga dengan selang air dan alat berat. Ia ingin hutan dijaga oleh pikiran manusia.

“Kami akan turun langsung. Sosialisasi ke kecamatan, ke desa-desa. Supaya masyarakat paham, ini musim rawan,” katanya.

Edukasi yang dimaksud bukan sekadar imbauan formal, melainkan upaya membongkar pola pikir lama. Bahwa membuka lahan tidak harus dengan api. Bahwa tradisi bisa tetap hidup tanpa harus membakar masa depan.

Di sinilah Melyadi memainkan perannya bukan hanya sebagai pejabat teknis, tetapi sebagai mediator antara budaya dan keberlanjutan.

Di balik narasi edukasi, langkah konkret tetap berjalan. KPH Rambat Menduyung akan meningkatkan patroli hutan untuk memastikan tidak ada aktivitas pembakaran liar.

Koordinasi lintas sektor juga diperkuat: Kepolisian, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Hingga perusahaan yang memiliki peralatan pemadam kebakaran

Jika api benar-benar muncul, respons akan dilakukan secara kolektif menggunakan semua sumber daya yang tersedia, termasuk alat dari perusahaan di sekitar lokasi kejadian.

Namun bagi Melyadi, pemadaman hanyalah langkah terakhir. Ia menyebutnya sebagai “konsekuensi”, bukan solusi.

Ada satu hal yang tidak ia pungkiri bahwa membakar lahan bukan sekadar tindakan praktis, tetapi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. “Budaya itu ada,” akunya.

Tetapi di situlah letak tantangan terbesar. Bagaimana mengubah kebiasaan tanpa memutus identitas. Bagaimana menjaga tradisi tanpa mengorbankan hutan.

Pendekatan yang ia pilih bukan konfrontasi, melainkan persuasi perlahan, tetapi konsisten.

Di Bangka Barat, hutan bukan hanya lanskap hijau. Ia sebagai sumber kehidupan, ruang ekonomi, sekaligus benteng ekologis yang rapuh.

Di tengah semua itu, Melyadi sedang membangun sesuatu yang tidak terlihat yaitu kesadaran kolektif.

Sebuah upaya yang mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan seketika, tetapi menentukan apakah hutan akan tetap berdiri atau berubah menjadi abu.

“Harapan kita, dengan sosialisasi ini, kebakaran bisa dicegah,” ujarnya.

Sebuah kalimat sederhana namun di baliknya tersimpan pertarungan panjang antara manusia, api dan pilihan-pilihan yang akan menentukan masa depan Bangka Barat. (*)

Pos terkait