Membingkai Jejak Ilmiah dan Keteladanan Ustaz Dr. Muhammad Kurnia: Dari Pangkalpinang ke Panggung Keilmuan Nasional

PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM –– Di tengah derasnya arus pragmatisme dan krisis keteladanan, nama Ustaz Dr. Muhammad Kurnia, Lc., M.Ag. hadir sebagai oase—menawarkan perpaduan antara kedalaman ilmu, konsistensi spiritual, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.

Putra asli Pangkalpinang dan Dosen Universitas Bangka Belitung ini baru saja menorehkan tonggak penting dalam perjalanan keilmuannya dengan meraih gelar Doktor Hukum Islam dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Rabu, 7 Januari 2026.

Bacaan Lainnya

Namun, capaian akademik ini bukan sekadar deretan gelar di belakang nama. Ia adalah buah dari perjalanan panjang seorang santri, intelektual, pendidik, sekaligus dai yang tak pernah lelah menautkan ilmu dengan nilai, serta teori dengan realitas sosial.

Lahir pada 5 November 1987, Ustaz Kurnia tumbuh dari lingkungan pendidikan yang menanamkan disiplin dan tradisi keilmuan sejak dini.

Selepas pendidikan dasar dan menengah di Pangkalpinang, ia ditempa di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Salatiga, sebuah pesantren yang dikenal melahirkan kader ulama dan cendekiawan dengan fondasi akademik serta spiritual yang kuat.

Jejak intelektualnya kemudian menembus batas negeri.

Ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, pusat peradaban dan pemikiran Islam dunia.

Dari sana, cakrawala keilmuannya terbentuk—moderat, mendalam, dan kontekstual.

Perjalanan akademik itu berlanjut ke jenjang magister di Universitas Muhammadiyah Jakarta, hingga akhirnya mencapai puncak doktoral di Universitas Islam Indonesia  Yogyakarta.

Gagasan Kepemimpinan Berbasis Nilai Kenabian

Disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor mengusung tema strategis dan relevan: “Kepemimpinan Profetik Transformatif: Telaah Maqasid asy-Syariah Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI Tahun 2009.”

Melalui penelitian tersebut, Ustaz Kurnia menegaskan bahwa Indonesia—dengan keragaman etnis, budaya, dan agama—membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga berakar pada keteladanan moral dan spiritual.

Kepemimpinan profetik, menurutnya, bukan konsep utopis, melainkan kerangka etis yang aplikatif untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang adil, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan universal.

Gagasan itu mendapat apresiasi tinggi dari dewan penguji.

Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, nilai kumulatif 3,86, dan tercatat sebagai doktor ke-79 pada Program Studi Doktor Hukum Islam FIAI UII.

Intelektual yang Membumi

Di luar ruang sidang akademik, Ustaz Dr. Muhammad Kurnia dikenal sebagai sosok yang membumi.

Saat ini ia mengabdikan diri sebagai Dosen Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, Ketua Alumni Al-Azhar Bangka Belitung, pengasuh Majelis Taklim Lubabul Huda, pembimbing manasik haji KBIHU Kafilah Madinah, serta Da’i Kamtibmas Polda Babel.

Menariknya, ia juga merambah dunia kewirausahaan melalui eLHa Busana Muslim, menegaskan bahwa intelektualitas dan kemandirian ekonomi dapat berjalan beriringan.

Bagi Ustaz Kurnia, ilmu bukanlah menara gading yang menjauh dari umat. Ia adalah jalan pengabdian. Pesannya sederhana namun kuat.

“Siapapun kita dan dari manapun kita berasal, jangan takut bermimpi. Berjuanglah mewujudkan mimpi dengan tekad dan kerja keras, terutama mengukir prestasi akademik sebagai investasi kehidupan jangka panjang,” ujarnya.

Pesan itu seolah merangkum perjalanan hidupnya sendiri—dari Pangkalpinang, pesantren, Al-Azhar, hingga panggung keilmuan nasional.

Di tengah kebutuhan bangsa akan figur pemersatu dan pemimpin berintegritas, sosok Ustaz Dr. Muhammad Kurnia, Lc., M.Ag. bukan hanya kebanggaan Bangka Belitung, tetapi juga inspirasi bahwa ilmu, iman, dan amal dapat bersatu dalam satu napas perjuangan. (Tras)

Pos terkait