Menelisik Sejarah Tugu Pramuka di Petaling, Tahun 1955 Pernah Kirim Siswa Ikut Jambore Pertama di Jakarta

Tugu Pramuka di bekas lahan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Petaling (kini wilayah Desa Petaling Banjar), terletak antara Kampus IAIN SAS dan SMAN 1 Mendo Barat. INSERT: Salma, pelajar Sekolah Rakyat (SR) Desa Petaling yang menjadi Delegasi Jamnas Kepanduan Pertama di Jakarta Tahun 1955. (Sumber: Trasberita.com/Dokumen Keluarga almarhum Salma)

Penulis: Ichsan Mokoginta

Jika melewati jalan Pahlawan 12 Desa Petaling Banjar, tepatnya di lahan eks Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) atau antara Kampus IAIN SAS dan SMAN 1 Mendo Barat, Anda akan menemukan sebuah tugu yang berornamen Buah Kelapa Bertunas.

Bacaan Lainnya

Tugu dengan tinggi kurang lebih 4 meter itu dikenal oleh penduduk setempat sebagai Tugu Pramuka, atau di era 60-an disebut Tugu Kepanduan.

Tak ada catatan tentang kapan tugu itu dibangun dan bagaimana sejarahnya. Tapi paling tidak, Tugu Pramuka Petaling itu sudah ada, jauh sebelum pemerintah membangun pusat-pusat kegiatan kepramukaan seperti Bumi Perkemahan (Buper) di sejumlah tempat di Pulau Bangka.

Demikian pula halnya tentang sejarah mengapa dan untuk apa Tugu itu dibangun. Belum ditemukan ada arsip pemerintah atau cerita dari tokoh masyarakat yang dapat digali. Waktu, tak saja membiarkannya tanpa catatan, kusam tanpa cat dan sentuhan. Tetapi lebih dari itu, tugu yang diperkirakan dibangun di akhir tahun 1960 atau awal tahun 1970 itu, benar-benar terlupakan oleh pemerintah dan rakyatnya.

Berdasarkan catatan dari berbagai sumber nasional, pembangunan Tugu Pramuka di sejumlah daerah di Indonesia adalah sebagai tanda bahwa di lokasi tersebut pernah dijadikan sebagai pusat kegiatan Kepanduan atau Kepramukaan.

Tak terkecuali Tugu Pramuka di Desa Petaling (sekarang wilayah Desa Petaling Banjar), Tugu Buah Kelapa Bertunas yang berada di kawasan eks gedung Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, merupakan monumen bersejarah tingkat lokal yang melambangkan eksistensi, pusat pembinaan, dan kejayaan Gerakan Pramuka di wilayah tersebut. Seperti halnya Tugu Pramuka di sejumlah daerah di Indonesia, Tugu Pramuka di kawasan eks BPP Petaling dan sekitarnya diduga dijadikan sebagai lokasi perkemahan, pusat kediklatan, atau tempat berkumpulnya anggota Pramuka. Tugu ini berfungsi sebagai identitas visual bahwa area tersebut adalah ‘basis’ kegiatan kepramukaan di Mendo Barat (bahkan tak menutup kemungkinan sebagai pusat kegiatan Pramuka di Pulau Bangka) ketika itu.

Jambore Nasional 1955

Satu-satunya informasi berharga terkait Gerakan Pramuka di Petaling tempo dulu, adalah cerita yang diperoleh dari seorang eks pelajar Sekolah Rakyat (SR) di Desa Petaling Kecamatan Mendo Barat bernama Salma binti Syawal. Kenangan tentang keikutsertaannya sebagai anggota Kepanduan, pernah ia tuturkan kepada anak-anaknya. Sehingga cerita itu kini, menjadi pengetahuan keluarga dan masih tercatat dalam ingatan anak tertua dari perempuan yang meninggal dunia pada tahun 1997 silam itu. Bahkan Salma yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) pernah menjadi utusan Jambore Nasional Kepanduan (Pramuka) pertama tahun 1955 mewakili Provinsi Sumatra Selatan.

“Cerita Emak ini menjadi lecutan semangat bagi kami anak-anaknya. Walaupun hanya sebagai perempuan desa, Emak sudah pernah ikut ajang berkelas nasional, yakni Jambore Nasional,” ungkap Rita Yustira (60) anak tertua almarhumah Salma, Minggu (14/6/2026).

Menurut Rita, hingga tahun 1960-an akhir atau awal 1970, orang tuanya sesekali masih mengikuti kegiatan kepramukaan.

“Saya masih ingat, Emak sering terlibat kegiatan Pramuka. Pernah suatu ketika ada kegiatan kemah bertempat di kebun kami di kawasan Lukok. Rombongan Pramuka itu dipimpin oleh seseorang bernama Ibu Pungut,” kenang pensiunan PNS pada bagian TU SMKN 2 Pangkalpinang ini.

Sebagaimana diketahui, Jambore Nasional Pramuka pertama (saat itu bernama Kepanduan) diselenggarakan pada 13–20 Agustus 1955 di Bumi Perkemahan Karang Taruna Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Acara ini dicatat dalam sejarah sebagai Jambore Nasional (Jamnas) yang pertama di Indonesia dan diselenggarakan oleh Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) untuk menyambut 10 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada saat itu Kepulauan Bangka Belitung belum menjadi provinsi mandiri, melainkan masih berstatus Karesidenan di bawah Provinsi Sumatra Selatan. Adapun Salma merupakan Delegasi Kepanduan dari Pulau Bangka yang diberangkatkan sebagai bagian dari perwakilan gabungan wilayah Sumatra Selatan. Patut diduga jika Tugu Pramuka di eks lahan BPP Petaling yang kini terbengkalai itu merupakan ‘serpihan’ bukti kejayaan gerakan Kepanduan Kepulauan Bangka Belitung tempo dulu. (Tras)

Pos terkait