Menguatkan Literasi dari Akar: Peran Bunda Literasi di Bangka Barat

Ia mengubah narasi literasi dari sesuatu yang “harus dilakukan” menjadi sesuatu yang “ingin dilakukan”.

Keteladanan menjadi kunci. Ketika literasi dipraktikkan, bukan sekadar disosialisasikan, maka ia memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Bacaan Lainnya

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial telah mengubah paradigma lama. Perpustakaan tidak lagi cukup menjadi tempat menyimpan buku, tetapi harus menjadi ruang hidup tempat masyarakat belajar, berdiskusi dan berkembang.

Di Bangka Barat, arah ini mulai terlihat. Perpustakaan menghadirkan kegiatan literasi anak, pelatihan keterampilan, hingga ruang interaksi sosial. Namun, satu hal yang tidak bisa diabaikan pada ruang yang hidup bukan ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh partisipasi.

Tanpa kehadiran masyarakat, perpustakaan akan kembali menjadi ruang hampa.

Di sinilah peran Bunda Literasi menjadi strategis. Ia menjembatani jarak antara fasilitas dan masyarakat. Ia menggerakkan, mengajak, sekaligus memastikan bahwa literasi benar-benar dirasakan manfaatnya.

Dalam skala yang lebih luas, rendahnya literasi sering dikaitkan dengan rendahnya daya saing bangsa. Masyarakat yang tidak terbiasa membaca cenderung kesulitan memahami informasi, rentan terhadap disinformasi dan kurang adaptif terhadap perubahan.

Sebaliknya, masyarakat yang literat memiliki kemampuan berpikir kritis, lebih terbuka terhadap pengetahuan baru dan lebih siap menghadapi tantangan global.

Dengan demikian, literasi bukan sekadar isu pendidikan, tetapi isu strategis pembangunan.

Capaian Bangka Barat dapat menjadi model praktik baik. Namun, model ini hanya akan bermakna jika mampu dipertahankan dan direplikasi secara berkelanjutan.

Salah satu kelemahan umum dalam banyak program pembangunan adalah keberlanjutan. Program berjalan baik di awal, tetapi melemah seiring waktu karena kehilangan penggerak.

Pos terkait