Menguatkan Literasi dari Akar: Peran Bunda Literasi di Bangka Barat

Literasi pun menghadapi risiko yang sama.

Bunda Literasi hadir sebagai penjaga ritme. Ia memastikan bahwa gerakan literasi tidak berhenti sebagai euforia sesaat, tetapi terus hidup dalam keseharian masyarakat. Dengan pendekatan yang fleksibel dan humanis, ia mampu menjangkau kelompok yang sering kali terlewat oleh program formal ibu rumah tangga, anak-anak di lingkungan non-sekolah hingga komunitas kecil di pelosok.

Bacaan Lainnya

Visi pembangunan Bangka Barat yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan sebagai arah yang tepat. Namun, visi ini membutuhkan instrumen yang konkret dan literasi salah satunya.

Tantangan ke depan bukan lagi meningkatkan angka, tetapi memperdalam makna.

Apakah masyarakat membaca karena kewajiban, atau karena kebutuhan?
Apakah literasi berhenti di sekolah, atau tumbuh di rumah?
Apakah perpustakaan hanya dikunjungi, atau benar-benar dimanfaatkan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan.

Pada akhirnya, literasi tentang bagaimana manusia memahami dunia dan bagaimana ia mengambil peran di dalamnya. Dalam proses panjang itu, kehadiran sosok penggerak seperti Bunda Literasi menjadi sangat penting.

Bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi.

Karena dari akar yang kuat, akan tumbuh peradaban yang kokoh.

(*/TRAS)

Pos terkait