Menutup Tahun dengan Doa, Menyambut Harapan di Rumah Singgah Pasien Babel

Penulis: Donyuano

JAKARTA, TRASBERITA.COM — Malam itu, jarum jam pelan-pelan bergerak menuju akhir tahun.

Bacaan Lainnya

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang biasanya dipenuhi suara kembang api dan euforia pergantian tahun, suasana berbeda terasa di sebuah rumah sederhana di Pulo Asem Utara Raya.

Rumah Singgah Pasien (RUSIP) Babel memilih menutup tahun 2025 dengan cara yang sunyi, khidmat, dan penuh makna, yakni berdoa bersama.

Rabu malam (31/12/2025) pukul 20.00 WIB, para pasien asal Bangka Belitung yang sedang menjalani pengobatan di Jakarta duduk berdampingan dengan keluarga pendamping mereka.

Wajah-wajah lelah berpadu dengan tatapan penuh harap.

Di ruangan itu, tak ada kemewahan perayaan tahun baru.

Yang ada hanyalah ketulusan doa dan keyakinan untuk kembali sehat.

Doa bersama ini menjadi ruang jeda, tempat para pasien merefleksikan perjalanan panjang mereka sepanjang 2025.

Ada yang datang dengan tubuh lemah, ada yang masih bergulat dengan rasa sakit, namun malam itu mereka disatukan oleh satu harapan yang sama, ysitu kesembuhan dan kekuatan menghadapi hari esok.

Sejak awal kegiatan, suasana khusyuk menyelimuti Rumah Singgah Pasien Babel.

Lantunan doa terdengar lirih namun penuh keyakinan, seakan menjadi penopang spiritual di tengah ujian kesehatan yang sedang dijalani para pasien.

Kebersamaan terasa begitu kuat, tidak hanya sebagai sesama pasien, tetapi sebagai keluarga besar yang saling menguatkan.

Melalui pengurus Rumah Singgah Pasien, Dony, Kepala Badan Penghubung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fudji Rudiansyah Sukma, menyampaikan bahwa doa bersama ini merupakan bagian dari ikhtiar batin untuk menumbuhkan semangat kesembuhan.

“Doa bersama ini diharapkan menjadi sarana penguatan nilai spiritual, kepedulian, dan kebersamaan, sekaligus menumbuhkan semangat untuk kembali sehat bagi para pasien dan keluarga pendamping,” ujarnya.

Tak hanya berdoa untuk diri sendiri, malam itu doa juga dipanjatkan bagi saudara-saudara di wilayah Sumatra yang tengah dilanda musibah.

Di tengah keterbatasan dan ujian pribadi, kepedulian sosial tetap tumbuh, mengajarkan bahwa rasa empati tak pernah mengenal batas ruang dan kondisi.

“Melalui doa ini, mari kita mohon agar Allah SWT memberikan ketabahan, kekuatan, dan kemudahan bagi saudara-saudara kita yang sedang diuji, serta mempercepat pemulihan kondisi mereka,” ungkapnya.

Menjelang pergantian tahun, doa-doa itu menjadi pengikat nilai spiritual yang mengakar di Rumah Singgah Pasien Babel.

Momentum penutupan tahun 2025 bukan sekadar penanda waktu, melainkan landasan moral untuk melangkah ke 2026 dengan optimisme, persatuan, dan keyakinan bahwa kesembuhan adalah perjalanan yang harus ditempuh bersama.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa dan makan bersama yang dipimpin oleh Teguh Sulistyan, suami dari Dwi—salah satu pasien.

Dalam doa penutup, terlantun harapan akan keselamatan, keberkahan, kesehatan, serta perlindungan Allah SWT bagi seluruh pasien, keluarga pendamping, dan para pengelola Rumah Singgah Pasien Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Jakarta.

Di rumah singgah itu, tahun baru tak disambut dengan sorak sorai, melainkan dengan doa.

Sebuah pengingat sederhana bahwa harapan selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah sakit dan keterbatasan. (Tras)

Pos terkait