Merawat Jejak Sejarah, Membangun Ruang Publik: Taman Kota Mentok Disiapkan Jadi Wajah Baru Kota Tua

Pemandangan kegiatan pekerjaan Lapangan Gelora yang merupakan bagian dari Proyek Taman Kota Mentok sebagai bagian dari Kluster Eropa di Kota Mentok. (Rudy)

Penulis: Rudi

Bacaan Lainnya

Editor: Bangdoi

MENTOK, TRASBERITA.COM – Membangun ruang publik di kawasan bersejarah bukan sekadar mengejar target pembangunan.

Ada warisan masa lalu yang harus dijaga, ada nilai sejarah yang tidak boleh hilang. Itulah yang menjadi prinsip dalam pembangunan Taman Kota Mentok yang kini terus dikerjakan dengan penuh kehati-hatian.

Di balik aktivitas alat berat dan para pekerja di lapangan, setiap tahapan pembangunan dilakukan dengan mengedepankan koordinasi bersama Balai Cagar Budaya.

Langkah ini memastikan setiap pekerjaan tetap menghormati kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

“Karena itu ada hubungannya dengan cagar budaya jadi kita harus berhati-hati,” ujar Pelaksana Pekerjaan PT Diatasa Jaya Mandiri, Suwandi, saat bersilaturahmi dengan wartawan di Mentok, Sabtu (18/7/2026).

Proyek yang mulai dikerjakan sejak Mei 2026 tersebut dirancang terintegrasi dengan Lapangan Gelora dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Meski pada awalnya koordinasi terkait batas kawasan cagar budaya sempat menjadi tantangan, proses itu justru menjadi fondasi penting agar pembangunan berjalan tanpa mengorbankan nilai sejarah yang telah lama melekat di kawasan tersebut.

Berdasarkan masukan Balai Cagar Budaya, Lapangan Gelora ditetapkan sebagai zona inti dengan luas sekitar 64 x 100 meter.

Dua patok bata yang menjadi penanda kawasan bersejarah tetap dipertahankan dan nantinya akan dilengkapi pengamanan agar keberadaannya tetap terjaga.

Tak hanya itu, sejumlah pohon yang telah ditetapkan sebagai bagian dari kawasan cagar budaya juga dipastikan tidak akan ditebang.

Begitu pula lokomobil bersejarah yang menjadi salah satu ikon kawasan tetap berada di lokasi semula, dengan perbaikan hanya dilakukan pada bagian pondasinya sesuai hasil Forum Group Discussion (FGD).

Material hasil pembongkaran pun tidak dibuang begitu saja. Seluruhnya dipindahkan ke halaman Pemerintah Daerah sebagai aset yang tetap memiliki nilai sejarah dan administratif.

Di sisi lain, pembangunan ini juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.

PT Diatasa Jaya Mandiri melibatkan tenaga kerja lokal dalam jumlah yang hampir seimbang dengan pekerja dari luar daerah.

Kehadiran warga sekitar dalam proses pembangunan menjadi bukti bahwa proyek ini tidak hanya membangun fisik kawasan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat Mentok.

Saat ini progres riil pembangunan telah mencapai sekitar 12 persen. Dengan dukungan cuaca yang relatif bersahabat, pihak pelaksana optimistis struktur utama dapat mencapai sekitar 90 persen pada Agustus hingga September. Targetnya, saat proses serah terima nanti, taman sudah tampil hijau, asri, dan siap dinikmati masyarakat.

Ke depan, Taman Kota Mentok tidak hanya menjadi ruang terbuka hijau, tetapi juga pusat aktivitas masyarakat. Kehadiran gerai UMKM, ruang berkumpul keluarga, hingga lokasi penyelenggaraan Car Free Day diharapkan mampu menghidupkan perekonomian lokal sekaligus menjadikan kawasan bersejarah Mentok semakin menarik sebagai destinasi wisata.

“Proyek ini manfaatnya untuk masyarakat. Nanti ada gerai UMKM, ada kegiatan Car Free Day. Semua itu untuk masyarakat, tinggal bagaimana kita bersama-sama menjaga dan memeliharanya,” tutur Suwandi.

Dengan semangat membangun tanpa melupakan sejarah, Taman Kota Mentok diharapkan menjadi simbol harmonisasi antara pelestarian warisan budaya dan pembangunan modern, menghadirkan wajah baru Kota Mentok yang lebih hijau, nyaman, dan membanggakan. (Tras)

Pos terkait