Mimpiku: Dari Galon Bocor ke Reaktor Bocor..?

Manfaatkanlah sumber daya alam yang memberi rasa aman dan nyaman bagi manusia, bagi air, bagi flora dan fauna, dan bagi masa depan yang akan diwariskan, bahkan kepada anak cucu mereka yang hari ini paling lantang mempromosikan PLTN.

Oleh: Bangdoi Ahada
OPINI, TRASBERITA.COM — Siapa sangka, di negeri yang katanya kaya sumber daya dan gagasan besar, nasib masa depan Pulau Bangka justru bisa dibandingkan dengan sebotol air kemasan.

Bacaan Lainnya

Bukan air suci, bukan pula air zamzam, melainkan air minum kemasan bermerek ViZ yang seminggu ini heboh, ribut, dan entah kapan jernih pikiran owner maupun direkturnya.

Bayangkan begini. Urusan air kemasan. Dampaknya tak lebih dari 200 orang. Itu pun sudah makan waktu hampir 10 tahun tanpa ujung pangkal yang jelas.

Laporan berulang, klarifikasi berlapis, janji disusun rapi seperti galon di gudang, namun sampai hari ini, nasib karyawan tetap keruh.

Masalah kecil, katanya. Tapi anehnya, kecil ini bandel, tak mau selesai-selesai.

Lalu tiba-tiba, di meja yang berbeda, dengan gelas yang berbeda pula, lahirlah mimpi besar, bicara lantang PLTN di Pulau Bangka.

Nuklir. Tenaga maha dahsyat. Dampaknya bukan lagi ratusan orang, tapi satu juta lebih manusia, belum termasuk laut, hutan, ikan, burung, dan masa depan anak cucu yang belum bisa protes di media sosial.

Pertanyaannya sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk para pemikir besar.

Bagaimana rakyat mau yakin PLTN bisa membahagiakan Bangka Belitung, jika urusan air minum saja tak kunjung tuntas?

Kalau air kemasan saja bisa bikin ribut satu dekade, bagaimana dengan reaktor nuklir yang kesalahannya tak bisa ditambal dengan klarifikasi pers rilis?

Terkadang negeri ini memang lucu. Banyak orang mengaku berpendidikan tinggi, berwawasan global, berlidah lingkungan.

Presentasinya hijau, bahasanya canggih, slide-nya penuh grafik. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, ternyata isi kepalanya tak jauh-jauh dari urusan perut  perut sendiri, perut istri, dan masa depan sekolah anak-anaknya.

Lingkungan boleh rusak, asal rekening aman. Rakyat boleh cemas, asal proyek jalan.

Kalau pun bicara sedekah, paling banter selembar sepuluh ribu saat sholat Jumat.

Itu pun sambil berharap rezekinya dilipatgandakan, bukan risikonya.

Maka wajar bila rakyat bertanya, bahkan mencibir. Bagaimana kami harus percaya pada mimpi-mimpi besar, jika penjual mimpinya berpikir kecil dan berhati kusam?

Mimpi PLTN di Pulau Bangka terdengar megah, tapi terasa seperti memaksa rakyat tidur di atas bom waktu, sambil diyakinkan bahwa ini demi kemajuan.

Mimpi itu seharusnya direvisi. Bukan karena rakyat anti-ilmu, bukan karena Bangka alergi teknologi.

Tapi karena ada akal sehat yang lebih dulu harus dihormati.

Manfaatkanlah sumber daya alam yang memberi rasa aman dan nyaman bagi manusia, bagi air, bagi flora dan fauna, dan bagi masa depan yang akan diwariskan, bahkan kepada anak cucu mereka yang hari ini paling lantang mempromosikan PLTN.

Kemajuan sejati bukan soal siapa paling canggih, tapi siapa paling bertanggung jawab.

Dan semoga, di tengah hiruk-pikuk mimpi besar dan botol air kecil merek ViZ, kita masih mampu memandang senja.

Agar esok pagi, kita benar-benar bisa tersenyum menyambut mentari, tanpa takut air yang kita minum, tanah yang kita pijak, dan masa depan yang kita wariskan.  (Doi)

Catatan: Yang baca jangan tersinggung, tulisan ini ditujukan untuk hati dan perasaan saya yang belum mampu berbuat kebaikkan untuk sesama.

Pos terkait